“Dengan penuh kebanggaan, untuk Tuan Putri kesayanganku akan kupersembahkan... Kursi warna kuning yang sangat cantik ini!”
Ara menutup mulut dengan kedua telapak tangannya sementara kedua matanya yang berbinar membesar saat Bryan menunjukkan kursi baru miliknya yang diletakkan di sebelah kursi lama milik Bryan di balkon apartemen pria itu.
“Sebentar, ekspresi itu...” Ucapan Bryan membuat Ara menurunkan tangan dari mulutnya dan menatap pria itu bingung. “Itu berlebihan sekali, kan? Ini hanya kursi, lho. Kenapa kau bertingkah seperti itu?”
“Bukankah kau yang memulainya? Aku menunjukkan ekspresi ini untuk mengimbangi kalimat pembukamu yang juga sangat berlebihan itu,” kata Ara membela diri.
“Itu tidak berlebihan, kok.” Tapi bukan Bryan namanya jika mau mengalah begitu saja pada Ara.
“Tentu saja berlebihan! Hanya kursi saja kau persembahkan dengan penuh kebanggaan.”
“Ah, yang itu. Tapi maksudku yang tidak berlebihan itu bagian saat aku bilang Tuan Putri kesayanganku.”
“Ah...” Ara hanya bisa membuka mulutnya tanpa tahu harus berkata apa saat rasa malu telah lebih dulu menguasainya karena ucapan Bryan yang blak-blakan ini. Sepertinya pria itu bisa jadi seberani ini menyampaikan isi hatinya karena telah menciumnya tadi.
“Coba duduk.” Bryan menarik Ara dan mendudukkan wanita itu di kursi barunya. Kelihatan bangga sekali karena telah membelikan kursi diskonan ini untuk anak konglomerat itu. “Bagaimana? Kau merasakan sensasinya?”
“Woah...” Ara kembali menunjukkan ekspresi yang berlebihan dengan kedua matanya yang membesar. “Rasanya seperti duduk di atas kursi yang diskon 75%.”
Kedua mata Bryan memicing, tampaknya mulai kesal karena Ara terus mengungkit tentang kursi yang bisa sampai ada di balkon apartemennya ini karena didiskon 75%. “Duduklah!”
“Sudah duduk, kok!” sahut Ara seraya menepuk pangkuannya sendiri.
“Maksudku nikmati kursi barumu. Aku akan menyiapkan makan malam,” jelas Bryan sebelum berbalik masuk untuk menyiapkan makan malam mereka. Meninggalkan Ara seorang diri dengan kursi baru serta langit malam yang dipenuhi bintang dan bulan sabit yang cantik.
Dan entah bagaimana, kesendiriannya ini membuat ingatan Ara kembali ke saat Bryan mencium dirinya di tangga di penghujung kencan mereka. Membuat wanita itu jadi tersipu-sipu sendiri saat mengingat bagaimana ciuman pertamanya itu benar-benar membuat jantungnya terasa seperti akan meledak.
“Makan malamnya sudah siap!”
Seruan riang Bryan membuat Ara menolehkan kepalanya untuk kemudian mengerutkan keningnya saat melihat nampan berisi sepanci mie instan, piring kecil berisi 9 tusuk telur gulung, dan 2 gelas air putih.
“Nasinya mana?” tanya Ara.
“Berasnya habis,” jawab Bryan sambil meletakkan nampan di atas meja.
“He? Kau jadi miskin lagi setelah mengajakku jalan-jalan?” tanya Ara dengan wajah sedih saat membayangkan dirinya harus kembali jadi tukang cuci piring lagi karena Bryan yang bangkrut setelah mengajaknya kencan.
“Apanya yang jadi miskin? Memangnya kapan aku pernah miskin?” Bryan bertanya dengan nada menantang yang terdengar tersinggung. “Berasnya habis dan aku lupa beli. Jadi kita makan yang ada saja. Itu, mienya sudah kutambahkan telur dua.”
Ara mengambil sendok dan mengaduk-aduk isi panci untuk memastikan ada dua kuning telur di sana. “Kuning telurnya untukku semua ya. Untuk pengganti nasi.”
“Ini kan masih ada telur gulung. Kenapa serakah sekali?”
“Telur gulungnya kan untuk cuci mulut nanti.”
“Ah, begitu ya.”
“Iya. Kau jangan makan telur banyak-banyak. Nanti kentutmu bau telur,” kata Ara sebelum mulai memakan mienya.
“Awas rambutmu.” Ara yang belum selesai menyeruput mienya itu mengangkat wajah saat tangan Bryan terulur memegang rambut panjangnya yang hampir masuk ke dalam panci. “Ingatkan aku untuk membelikanmu ikat rambut nanti. Rambutmu yang diurai seperti ini bisa tercampur dengan makanan, tahu!”
Ara tiba-tiba jadi tersipu lagi. Entah mengapa merasa jika Bryan yang sedang makan dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih terus memegangi rambutnya agar tidak masuk ke dalam panci ini benar-benar sangat manis.
Jadi sebagai pengganti ucapan terima kasih, Ara meletakkan kuning telur yang disukainya di atas sendok Bryan dan masih dengan senyum malu-malu di wajahnya ia berkata, “Makanlah.”
Dan tiba-tiba saja, Bryan jadi ikut tersipu saat melihat tingkah manis Ara ini. Pria itu mendekatkan sendok ke mulutnya, meniupnya sampai dingin lalu menyodorkannya ke depan mulut Ara. “Buka mulutmu.”
Ara mengerjapkan kedua matanya, merasa jantungnya kembali berulah saat tatapannya bertemu dengan Bryan. Padahal biasanya ia seperti dalam pertarungan hidup dan mati setiap kali rebutan kuning telur atau sisa kuah mie di dalam panci bersama Bryan. Namun saat kini pria itu dengan sukarela ingin menyuapinya dengan kuning telur yang lebih berharga dari sepiring nasi itu—karena malam ini mereka tidak punya beras untuk dimasak—Ara jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak berdebar atas sikap pria itu.
Jadi Ara menundukkan pandangannya, membuka sedikit mulutnya untuk kemudian dibuat terperanjat saat yang masuk ke dalam mulutnya bukan kuning telur melainkan bibir atas Bryan yang langsung melumat lembut bibir bawahnya tanpa peringatan apapun.
“Kau masih lapar?” Bryan bertanya setelah melepas ciumannya. Ara yang jiwanya masih belum kembali setelah dibawa melayang oleh Bryan dengan ciumannya yang tiba-tiba hanya terus menatap pria itu dengan napas berat yang keluar dari celah bibirnya yang memerah. Membuat Bryan tidak sanggup untuk menahan diri sampai Ara menyelesaikan makan malamnya dan kembali melumat bibir wanita itu.
Ara tahu dirinya masih lapar dan ia juga tahu ke mana hal ini akan berlanjut saat merasakan tangan Bryan yang mulai membelai tubuhnya dengan gerakan pelan yang terasa menyiksa. Namun seperti dihipnotis, Ara membiarkan ciuman Bryan menghanyutkannya semakin dalam hingga dirinya tidak bisa memikirkan apapun selain hanya pria itu.
Namun seperti bagaimana Bryan yang tiba-tiba menciumnya, pria itu juga melepaskannya secara tiba-tiba dan menatap Ara dengan cara yang terasa seperti membakar seluruh tubuh wanita itu. “Makan,” bisik Bryan. “Kau harus menghabiskan mie dan telur gulungmu seka—“
Dan Bryan harusnya tahu, bukan hanya dirinya seorang yang menginginkan hal ini. Ara yang tidak menunggunya hingga menyelesaikan ucapannya dan langsung membungkam mulutnya dengan ciuman yang menuntut itu juga menginginkan hal ini sebanyak dirinya.
Meninggalkan makan malam yang belum habis di balkon dengan pintu yang terbuka dan membawa angin malam masuk ke dalam kamar, Bryan menindih tubuh Ara di atas tempat tidurnya. Menciumi jari-jari lentik Ara yang terasa mungil dalam genggamannya satu per satu seolah tengah memujanya. Terus memanjakan Ara dengan cumbuannya sementara wanita yang baru pertama kali merasakan sentuhan tangan dan bibir pria di sekujur tubuhnya itu hanya bisa menerima semuanya dengan diiringi desahan lirih yang tidak dapat ditahannya.
“Bryan...” Ara berbisik sambil kedua tangannya menangkup wajah Bryan yang berkeringat. “Apa aku sudah bisa pulang sekarang?”
“Kau ingin pulang?”
“Ya,” sahut Ara. Ia lalu tersenyum saat menambahkan, “Karena aku ingin jadi pengantinmu.”
Bryan ikut tersenyum bersama wanita itu saat bertanya, “Janji tidak akan kabur lagi?”
Kali ini Ara tertawa. Merasa ketakutannya yang kala itu membuatnya sampai melarikan diri dari pernikahannya itu sangat konyol saat ia menilainya dengan dirinya yang saat ini dengan senang hati ‘menyerahkan’ diri pada Bryan.
“Aku tidak akan kabur lagi,” janji Ara seraya memejamkan kedua matanya saat wajah Bryan kembali mendekat padanya. “Kau juga. Jangan pernah kabur meninggalkanku lagi.”
“Tidak,” sahut Bryan sebelum mendaratkan satu kecupan di atas bibir Ara. “Tidak akan pernah, Sayang.”
Sepasang kekasih yang dimabuk cinta itu terlalu terbuai hingga lupa bagaimana takdir biasa memainkan lelucon yang ironis pada mereka. Tentang bagaimana takdir memaksa keduanya yang ingin saling menjauh untuk terjebak bersama dan kemudian saat mereka benar-benar ingin terus bersama, takdir memaksa mereka untuk saling menjauh.
**To Be Continue**