Jadi Teman

1545 Kata
Ara duduk di salah satu anak tangga yang berada tidak jauh dari apartemen Bryan dengan mengenakan jaket Bryan yang tentu saja sangat kebesaran di tubuh kecilnya. Ia langsung berdiri dengan semangat saat melihat Bryan menaiki anak tangga untuk menghampirinya. “Ini es krim pisangmu. Hutangku sudah lunas sekarang,” kata Bryan sambil memberikan sebungkus es krim pisang pada Ara. Wanita itu langsung menerimanya dengan senyuman lebar di wajahnya. “Ah, es krim pisang ini jadi terasa jauh lebih enak setelah aku membayangkannya seharian,” kata Ara sambil menikmati es krimnya dengan cara yang jauh lebih norak dari yang biasanya dilakukan para bintang iklan. Bryan duduk di anak tangga yang berada dua tingkat di bawah Ara, menikmati es krim strawberinya. “Kau tidak boleh terlalu lama berada di luar. Orang suruhan keluargamu itu ada di mana-mana. Mereka bisa saja melihatmu saat ini.” “Apa mereka tahu jika ada tempat seperti ini di kota besar ini? Melewati jalan yang melingkar-lingkar, masuk ke gang-gang sempit, naik-turun puluhan anak tangga. Apa kau menjadikan apartemen ini sebagai tempatmu menjalankan bisnis ilegal?” “Oho! Jaga bicaramu, Nona! Sudah kukatakan, apartemen ini harta rahasiaku yang sangat berharga. Kau tidak boleh asal menghinanya. Aku bisa marah nanti.” “Jangan marah lagi. Kau benar-benar menakutkan saat marah.” Bryan menolehkan kepalanya ke arah Ara. Ia mendecakkan lidahnya saat melihat es krim Ara sudah tinggal sedikit padahal es krimnya saja masih tersisa lebih dari setengahnya. “Jangan memakannya seperti itu! Seharusnya kau menjilatnya, menikmatinya perlahan-lahan. Jika kau menggigitnya seperti itu dan es krimmu cepat habis, aku tidak akan membelikannya lagi untukmu!” “Aku tahu! Kau pikir aku mengharapkan apa dari orang pelit sepertimu?” sungut Ara. Ara sudah menghabiskan es krimnya, namun ia membiarkan stik es krimnya tetap berada di dalam mulutnya. “Ah, aku bosan! Aku ingin liburan ke pantai. Bryan~” “Makan ini saja, tidak usah bicara yang aneh-aneh!” Bryan berbalik pada Ara lalu menjejalkan sebuah biskuit ke dalam mulut wanita itu. “Hei!” Ara mengeluarkan biskuit itu dari dalam mulutnya lalu memindah duduknya ke sebelah Bryan. “Kau beli banyak makanan? Kau harus membaginya denganku!” ujarnya seraya merebut kantong plastik yang berada di pangkuan Bryan. “Aku tidak beli apa-apa! Itu hanya sisa kembaliannya tadi.” “Wah, kau bermaksud memakan coklat ini sendiri? Kau benar-benar pelit!” “Coklat? Bagaimana bisa ada coklat di sana? Aku tidak ingat membelinya, sini aku akan mengembalikannya!” “Pembohong! Bryan, aku juga mau coklat itu!” Bryan mengamati Ara yang sedang memakan coklatnya. Coklat yang seharusnya bisa ia nikmati sendiri kini harus ia bagi dua dengan Ara. “Jangan langsung digigit seperti itu! Kau harus menjilatnya pelan-pelan!” “Cerewet sekali! Beginilah caraku menikmati coklat!” Akhirnya mereka membagi semua makanan yang Bryan beli dan menikmatinya sambil mengagumi keindahan langit malam yang dipenuhi bintang. “Ara, hubungan kita sekarang ini… Bagaimana kita harus menyebutnya?” “Hubungan kita? Bukankah sudah sangat jelas jika kita adalah calon suami-istri?” “Apa kau tidak merasa aneh seperti itu? Kau tinggal bersama calon suami yang kau tinggalkan di hari pernikahan. Bagaimanapun juga ini hal yang sangat aneh, kan?” “Karena kau mengatakannya seperti itu, kurasa itu memang terdengar sangat aneh.” “Benar. Dan lagi, karena kita hidup bersama—“ “Tinggal bersama!” ralat Ara. “Hidup bersama terdengar mengerikan.” Bryan mengerutkan keningnya. Entah bagian mana dari kata ‘hidup bersama’ yang membuat wanita itu merasa ngeri. “Baiklah, karena kita tinggal bersama… Kita perlu menyamankan diri kita dengan satu sama lain.” “Menyamankan diri?” Ara menggerakkan bola matanya ke kanan atas. “Seperti semalam itu?” Bryan juga menggerakkan bola matanya ke kanan atas, mencoba mengingat-ingat apa yang ia lakukan semalam. “A-ah! Bukan nyaman yang seperti itu!” Bryan menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahnya saat ingat bagaimana semalam ia berusaha membuat Ara nyaman dengan mengusap-usap perutnya yang sakit. “Maksudku dengan mengubah status kita. Status sebagai calon suami-istri itu membuatku tidak nyaman.” “Oh, nyaman yang seperti itu. Kupikir… Syukurlah.” Ara tertawa dengan cara yang aneh. Tadi ia sempat berpikir jika Bryan ingin dirinya mengusap-usap perut pria itu juga untuk balas budi. “Ya, nyaman yang seperti itu. Bagaimana jika mulai sekarang kita berteman saja?” “Berteman? Kau dan aku jadi teman?” “Iya, teman,” kata Bryan. “Kau tahu teman, kan? Itu berbeda dengan pelayan, Ara!” “Eii! Kau pikir aku ini bodoh? Tentu saja aku tahu teman itu apa, Bryan! Aku punya banyak teman saat sekolah dulu. Kau tahu, aku ini sangat popular karena sangat manis.” “Kau bilang kau tidak punya teman, karena itulah kau bersembunyi bersamaku. Kau bohong, ya?” “Tidak, aku tidak bohong! Bukankah tadi aku bilang aku punya banyak teman saat sekolah dulu? Kalau sekarang aku memang tidak punya teman lagi. Seharusnya kau mendengarkan ucapanku dengan baik!” “Baiklah, baiklah,” Bryan memilih mengalah agar mereka bisa melanjutkan pembicaraan mereka pada hal yang lebih penting. “Karena kita akan menjadi teman, mulai sekarang kita harus saling membantu, saling mengerti, saling berbagi—“ “Berbagi! Berbagi!” Ara memotong perkataan Bryan sambil menunjuk wajah pria itu. “Kau tadi menyembunyikan makananmu dariku karena tidak mau membaginya denganku. Cih, kau teman yang pelit!” “Bukan begitu!” Bryan menyingkirkan telunjuk Ara dari depan wajahnya. “Tadi kita belum berteman, kan? Maksudku, mulai sekarang kita harus melakukan semua itu. Kita harus saling membantu, saling mengerti, dan saling memahami.” “Kau pintar sekali membela diri.” “Saling membantu,” kata Bryan sambil mengacungkan telunjuknya. “Kau harus membantuku membersihkan apartemen meski aku tidak menjanjikan es krim padamu. Kau harus membantu mencuci piring dan bereskan tempat tidurmu sendiri.” “Aku tahu, aku tahu.” “Lalu yang kedua, saling mengerti.” Bryan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Kau harus mengerti situasiku yang saat ini hanya pengangguran. Jangan meminta macam-macam padaku karena aku tidak punya uang. Jadi tolong, mengertilah pada keadaanku, uh?” “Tunggu sebentar.” Ara menatap Bryan dengan wajah berpikir. “Semua yang kau katakan itu, mengapa lebih memberatkan untukku? Aku harus membersihkan apartemenmu dan mengerti keadaanmu. Lalu mengapa kau tidak berusaha mengerti keadaanku juga?” Ara menunjukkan kedua telapak tangannya yang terbuka di depan wajah Bryan. “Lihat ini. Karena kau membeli sabun cuci piring yang murah, tanganku menjadi kasar dan kulitnya mengelupas. Lalu ini,” Ara menjulurkan kakinya yang dibalut celana pendek Bryan. Ia menggores kakinya dengan ujung kukunya. “Lihat betapa keringnya kulitku. Kau hanya memberiku sabun murah dan bahkan tidak membelikanku lotion. Apa kau tidak bisa mengerti keadaanku juga?” “Oh.” Untuk sesaat Bryan sempat kehabisan kata-kata untuk menjawab Ara. “Kau ini… Ya sudah jika kau tidak mau berteman denganku! Tidak usah jadi temanku!” “Siapa yang bilang aku tidak mau berteman denganmu? Hanya saja konsep bertemanmu itu sangat merugikanku!” Bryan mengakuinya dalam hati, konsep bertemannya memang lebih banyak memberikan keuntungan untuknya. “Tapi tetap saja,” ucapnya kemudian setelah menemukan senjata untuk membela dirinya. “Yang terakhir, tentang berbagi itu. Aku menampungmu dan menanggung hidupmu. Memberimu makan dan tempat tinggal. Kau bahkan tidak pernah berterimakasih padaku.” “Aku berterimakasih padamu!” sangkal Ara. “Hanya saja aku mengucapkannya dalam hati. Jika aku terlalu sering mengucapkannya secara langsung padamu kau bisa jadi sombong nanti. Aku tidak mau berteman dengan orang sombong.” “Kau ini,” dengus Bryan. “Aku sedang berusaha sekarang. Kau tahu, aku berkeliling ke mana-mana mencari pekerjaan agar aku bisa punya uang. Jika aku punya uang, aku akan bisa membelikanmu sabun yang bagus agar kulitmu tidak terkelupas atau kering lagi.” “Benarkah? Kalau begitu kau harus segera mendapat pekerjaan dan kumpulkan uang yang banyak, Bryan!” “Aku tahu, karena itu kau harus mendukungku.” “Bagaimana caranya?” “Bersihkan apartemenku, cucikan pakaianku, dan juga masak untukku. Sementara kau bekerja keras di apartemen, aku juga akan bekerja keras untuk mendapatkan uang.” “Ah… Itu pasti akan sangat melelahkan,” keluh Ara diiringi helaan napasnya. “Tapi karena kau akan bekerja keras, maka aku juga akan bekerja keras!” “Wah, itu bagus! Kita mulai jadi kompak sekarang, uh?” “Benar, apa kita sudah mulai berteman sekarang?” “Menurutmu? Tidak mungkin aku bicara sebanyak itu pada orang asing.” “Kau benar.” Ara mengangkat telapak tangan kanannya yang terbuka. “Sebagai simbol kita memulai pertemanan itu, ayo kita lakukan high five!” Bryan menatap telapak tangan Ara sekilas lalu mengadunya dengan telapak tangannya. “Bukan begitu!” Ara yang tidak puas dengan high five itu mengambil telapak tangan Bryan lalu mengaitkan jari-jari mereka sambil menggoyang-goyangkannya. “Setelah high five, kau harus mengaitkannya dan menggoyang-goyangkannya seperti ini. Kau pasti tidak memiliki banyak teman, ya. Yang seperti ini saja kau tidak tahu!” “Aku tahu! Aku punya lebih banyak teman daripada dirimu, bahkan sampai sekarang.” “Kau tidak perlu mengejekku seperti itu!” “Kau yang mulai mengejekku, Ara!” “Baiklah, baiklah! Ayo kita lakukan sekali lagi! High five!” Apa ini masih terasa seperti ironi sekarang? Saat sepasang manusia yang seharusnya menjadi ‘teman hidup’ justru berakhir sebagai ‘teman biasa’ seperti ini?     **To Be Continue**      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN