Kena Jebakan

1743 Kata
“Apa kau bersedia jika seandainya kami menikahkanmu dengan Ara?” Josh menatap nyonya besarnya itu untuk beberapa saat demi memastikan maksud perkataannya. Namun itu justru membuat Josh jadi tidak enak hati sendiri saat menyadari jika Mama Ara tidak sedang bercanda dan terlihat begitu mengharapkan persetujuan atas tawarannya tersebut. “Aku tidak bercanda,” kata Mama Ara seolah menegaskan pada Josh jika perkataannya tadi bukan hanya sekadar omong kosong. “Jadi tolong pertimbangkan hal itu dengan baik, uh.” “Tapi, Nyonya...” Josh bicara dengan sikap yang canggung. “Aku sudah berada di sisi Nona Muda begitu lama dan menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Jadi untuk pernikahan...” Mama Ara tersenyum dengan getir sebelum dengan suara berbisik yang hanya dapat didengar oleh Josh ia berkata, “Tidak banyak waktu yang tersisa, Josh. Jika ada seseorang yang bisa menggantikan tugasnya untuk menjaga Ara, suamiku baru bisa beristirahat dengan tenang nanti.” “Nyonya, aku telah bersumpah untuk selalu menjaga Nona. Ada atau tidaknya Tuan tidak akan berpengaruh dan aku akan selalu menjalankan kewajibanku untuk menjaga Nona dengan baik.” Senyuman getir Mama Ara perlahan berubah menjadi senyuman yang lebih lembut saat ia mendengar perkataan tulus Josh. “Kau selalu lebih memikirkan Ara dibandingkan dirimu sendiri. Kami akan sangat tenang jika bisa mempercayakan anak itu pada suami yang bisa menjaganya dengan baik sepertimu.” “Ah...” Josh membuka mulutnya, namun tidak tahu harus berkata apa. “Ya, aku akan memikirkannya dengan serius nanti.” Begitu akhirnya yang Josh katakan untuk menenangkan hati Mama Ara dan membuatnya bisa melarikan diri dari pembicaraan ini. “Kalau begitu aku akan memanaskan mobilnya terlebih dahulu, Nyonya.” Josh melangkah dengan langkah-langkah lebar seolah benar-benar ingin kabur dari Mama Ara. “Bahkan meski mereka sangat putus asa mencari menantu... Bisa-bisanya mereka berpikir untuk menjodohkan kami!” gerutu Josh tidak habis pikir dengan usulan majikannya itu. “Lihat saja kalau sampai Ara tahu rencana ini. Anak nakal itu pasti akan menangis sampai berguling-guling di lantai!”       ***     Josh masih ingat bagaimana Ara menangis keras sekali saat orang tuanya akan menjodohkannya dengan Bryan. Jadi pria itu pikir kali ini pun Ara akan menangis bahkan lebih keras dari sebelumnya saat mamanya berkata akan menjodohkan mereka. Tapi lihatlah bagaimana wanita itu menatapnya dengan tersenyum sambil menopang dagu dengan kedua punggung tangannya setelah mamanya meminta pendapatnya tentang menikah bersama pengawalnya itu. “Oke,” kata Ara yang membuat Josh melotot dengan cara paling maksimal yang bisa dilakukan oleh kedua matanya. “Kalau Kak Josh bolehlah.” “Oke?” tanya Josh tak percaya yang dijawab dengan anggukan polos oleh Ara. “Bolehlah?” tanyanya lagi yang sekali lagi dijawab dengan anggukan oleh Ara. “Karena kita semua sudah oke, jadi—“ “Oke?” Josh menyela ucapan Mama Ara sambil melotot pada wanita itu, yang kemudian membuatnya buru-buru minta maaf saat menyadari wajah terkejut nyonya besarnya itu. “Kak Josh tidak oke?” tanya Ara. “Tidak mau menikah dengan Ara yang kaya dan cantik luar biasa ini?” “Anak gila ini...” desis Josh, yang tahu pasti jika Ara hanya sedang menggodanya sekarang. Namun yang jadi masalah adalah Mama Ara yang menganggapnya serius dan jadi kelihatan kecewa dengan reaksi Josh. “Jadi Josh tidak oke?” tanya Mama Ara yang membuat Josh jadi gelapan. “Padahal Ara sudah bilang oke.” “Iya. Ara sudah oke, lho,” timpal Ara dengan nada sok imut yang membuat Josh jadi ingin sekali memukul kepala anak nakal itu andai saja tidak ada mamanya di sini. “Mama, aku jadi ingin kencan dengan Kak Josh sekarang.” “Kencan?” Josh dan Mama bertanya berbarengan. Yang satu kelihatan kesal sekali dan yang satunya lagi kelihatan senang sekali dengan permintaan itu. “Iya. Jadi Mama pulang lebih dulu naik taksi, uh. Tidak apa-apa, kan?” “Oh, anak ini...” Mama mengacak rambut di puncak kepala Ara dengan gemas. “Jadi sekarang kau ingin langsung menyingkirkan mamamu begitu dapat teman kencan, uh?” “Iya,” sahut Ara sambil menunjukkan senyum lebarnya yang tidak berdosa setelah mengusir mamanya itu. “Ini sudah waktunya Papa istirahat makan siang. Jadi sebaiknya Mama juga ke kantor Papa dan mengajak Papa kencan.” Mama mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum menatap Josh dengan senyuman hangat di wajahnya. “Kalau begitu aku titip Ara ya, Menantuku. Pulanglah sebelum jam makan malam.” Josh mengerjapkan kedua matanya dengan mulut terbuka. Sepertinya Mama Ara juga sengaja ikut menggodanya bersama Ara yang sudah terkekeh geli mendengar bagaimana mamanya memanggil Josh. “Nah, ayo pergi!” Ara tiba-tiba bangkit dari duduknya setelah memastikan mamanya meninggalkan kafe tersebut. Membuat Josh menatapnya dengan kerutan aneh di wajahnya. “Apa? Kenapa menatapku begitu?” tanya Ara sambil ikut mengerutkan wajahnya. “Ya ampun, Kakak pikir aku benar-benar akan mengajak Kakak kencan? Aku yang secantik tuan putri ini? Mengajak Kakak kencan?” Josh kembali mengerjapkan kedua matanya. Jadi semakin bingung dengan perkataan Ara yang entah maksudnya memuji dirinya sendiri atau malah sengaja ingin menghinanya. “Jadi ayo ke mana?” “Ketemu Bryan,” sahut Ara dengan polos yang membuat Josh berubah menatapnya dengan tajam. Namun sebelum pengawalnya itu sempat mengatakan apapun untuk mengomelinya yang tetap ingin menemui Bryan saat kedua orang tuanya telah dengan tegas melarangnya untuk kembali berhubungan dengan pria itu, Ara buru-buru kembali membuka mulutnya. “Aku harus bertemu Bryan dan meluruskan semuanya agar kami bisa menikah nanti. Ah, atau Kakak memang sengaja ingin hubungan kami rusak agar bisa menikahi aku yang kaya dan cantik seperti malaikat ini, uh?” Nah, Josh seharusnya tahu jika dibalik wajah polosnya itu Ara kadang bisa jadi sangat licik. Lihatlah bagaimana sekarang wanita itu dengan wajah polosnya yang tampak tak berdosa kembali menjebaknya seperti ini.     ***     Bryan tidak ingat kapan atau berapa lama ia tidur. Namun saat bangun pagi ini, semuanya masih sama. Tempat tidurnya yang kosong, wajahnya yang masih lebam, kakinya yang masih pincang, dan patah hatinya yang masih terasa menyakitkan. “Aku belum sempat memberikan ini padanya.” Dengan duduk bersila di lantai ruang tengah, Bryan memandangi bra yang diam-diam ia belikan untuk Ara saat mereka pergi kencan tempo hari. Bra warna hitam dengan hiasan pita dan renda merah muda yang membuatnya terlihat sangat manis. Yang membuat Bryan jadi tersenyum getir saat membayangkan betapa bahagianya Ara jika saat itu ia memberikan bra yang cantik ini untuk wanita yang selalu cerewet minta dibelikan bra dengan pita itu. “Ya, dia sudah tidak butuh bra ini lagi. Dia pasti punya banyak yang jauh lebih bagus.” Bryan melepas sebelah tali bra tersebut. Membuka pengaitnya lalu menjadikan tali hitam itu sebagai gelang di tangan kirinya. Tersenyum kecut saat menyadari betapa konyolnya dirinya yang mencoba mengobati rasa rindunya pada Ara dengan menjadikan tali bra sebagai gelang seperti ini. “Tidak bisa! Si Sialan itu pasti sudah mengganti kata sandinya!” “Kalau tidak bisa ya sudah ayo pulang saja!” Bryan menoleh ke arah pintu masuk yang tertutup saat mendengar suara berisik dari balik pintu tersebut. Yang kemudian membuatnya melangkah menghampirinya saat dirinya mengenali suara wanita yang terdengar sangat kesal itu. “Dibobol saja!” Di balik pintu tersebut, Ara yang sudah kesal karena tidak berhasil membuka pintu apartemen Bryan yang telah diubah kata sandinya itu memberi perintah pada Josh. “Coba gunakan sesuatu untuk membobol pintunya agar terbuka!” “Nona, aku ini pengawal bukan pencuri. Mana tahu aku bagaimana caranya membobol pintu, uh?” “Cari caranya di internet,” kata Ara sambil menyodorkan ponselnya pada Josh. “Kalau mau belajar pasti bisa!” “Kita pulang saja, uh,” ajak Josh. “Aku belikan es krim untuk Nona lalu kita pulang ya.” Ara menghentakkan kakinya bergantian dan secepat itulah kedua matanya jadi berkaca-kaca. “Kakak ini tidak pernah patah hati, ya? Memangnya sakit hatiku ini bisa dilupakan begitu saja hanya dengan es krim, uh?” “Es krim pisang,” bujuk Josh. “Dan kue yang manis juga. Aku pilihkan yang ada hiasan cerinya nanti.” Ara kembali menghentakkan kakinya. Membuat Josh menghela napas saat bujukannya tidak berhasil dan justru membuat Ara benar-benar hampir menangis. “Ya sudah, aku belajar cara membobolnya dulu, uh.” Josh menerima ponsel Ara sementara wanita itu menganggukkan kepalanya dengan wajah memerah menahan tangis. Sekali lagi, Josh menghela napas panjang saat melihat wallpaper Ara merupakan foto wanita itu bersama Bryan yang diambil saat keduanya kencan di menara. Tepat di depan gembok warna-warni yang salah satunya merupakan milik mereka. “Kau benar-benar menyukai pria jahat itu, uh?” tanya Josh sambil mengetik asal di kolom pencarian yang kemudian dibuat kaget saat melihat ada banyak video yang menjelaskan tutorial membobol pintu. Membuat pria itu geleng-geleng kepala saat memikirkan betapa berbahayanya dunia yang ditinggalinya saat ini. “Bryan tidak jahat, tahu!” bela Ara. “Dia galak, tapi tidak jahat.” “Dia suka memarahimu?” tanya Josh sambil membagi fokusnya pada video yang ditontonnya. “Iya, dia suka marah-marah dan membuatku takut.” “Lalu kenapa masih ingin bersama pria galak yang menakutkan seperti itu, uh?” “Karena rasanya lebih menakutkan jika tidak bersamanya.” Jawaban Ara yang terdengar tulus itu membuat Bryan yang mendengarkannya dari balik pintu jadi tertegun. “Aku takut jika aku menyerah sekarang kami akan benar-benar berakhir seperti ini. Aku takut membayangkan tidak bisa lagi bersamanya. Aku benar-benar takut sampai rasanya ingin menangis lagi hanya dengan memikirkannya saja.” “Nona...” “Karena itu, cepat belajar bobol pintunya agar aku bisa masuk dan menunggu Bryan di dalam!” Josh menghela napas lagi, paling panjang di antara yang sebelum-sebelumnya. “Baiklah, aku akan—“ Cklek. Pintu tiba-tiba terbuka saat Josh masih belum menyelesaikan ucapannya. Ara yang pertama melihat Bryan berdiri di balik pintu tersebut membulatkan kedua matanya tak percaya. “Ara—“ “Jadi kau di dalam sejak tadi!” Josh mengerjapkan kedua matanya, terlihat sama kagetnya dengan Bryan saat Ara yang sedetik lalu wajahnya masih sangat sendu itu kini tiba-tiba bisa membentak Bryan yang merupakan alasan dari kesenduannya tersebut. “Kalau ada di dalam kenapa tidak buka pintunya, uh? Lihat! Aku jadi menyuruh pengawalku yang polos ini belajar yang tidak-tidak—“ Bryan tidak menunggu sampai Ara menyelesaikan ucapannya untuk menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. “Maafkan aku, Ara,” bisik Bryan. Sangat lembut, sangat pelan, hingga hanya Ara saja yang bisa mendengarkannya meski Josh telah berusaha menajamkan telinganya untuk mendengar apa yang pria itu katakan. “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Jadi kau tidak perlu lagi merasa takut sekarang.”       **To Be Continue**    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN