Sogokan Manis

1519 Kata
“Sudah selesai!” Mama Ara berseru dengan riang setelah menata rambut panjang Ara dan menghiasnya dengan pita warna merah yang membuat wanita 25 tahun itu jadi terlihat seperti anak-anak yang masih sekolah. “Tapi rambutmu jadi kering dan tidak selembut biasanya. Kau pasti tidak mengurusnya dengan baik selama pergi dari rumah, kan?” Mama bertanya dengan nada sedih seraya membelai rambut Ara. Ara menyentuh rambutnya sendiri dan ia jadi ingat pada shampo di kamar mandi Bryan yang ia pakai bersama pria itu. Pria itu membelikannya shampo seperti yang selama ini ia pakai agar dirinya berhenti merengek dan ikut memakai shampo tersebut hingga rambutnya jadi beraroma seperti wanita. “Dia mengurusku dengan baik,” kata Ara. “Bryan membelikanku shampo yang—“ “Ara!” Mama yang menyerukan namanya dengan suara berbisik itu berhasil membuat Ara terdiam. Saat Ara menatap mamanya melalui cermin yang ada di hadapannya, wanita tu menggeleng lemah padanya dengan kedua matanya yang tampak sedih. “Jangan pernah menyebut namanya lagi di hadapan Mama dan Papa, Sayang,” bisik Mama yang meski diucapkan dengan suaranya yang selembut biasanya namun kedua matanya tetap tidak bisa menutupi kesedihan yang datang begitu saja saat Ara mengingatkannya pada Bryan yang telah mengkhianati kepercayaannya. “Mama, aku—“ “Sudah selesai?” Sekali lagi ucapan Ara terpotong. Kali ini dengan kehadiran papanya yang berjalan menghampirinya dengan senyuman yang tidak pernah terlihat selebar ini sejak Ara pergi. “Tuan Putriku cantik sekali,” puji Papa seraya membelai lembut rambut panjang Ara. “Sudah selesai dandannya, kan? Ayo pergi sekarang.” Mama dan Papa keluar dari kamar Ara lebih dahulu, membiarkan wanita itu mematut dirinya sendiri di depan cermin lebih lama. Pakaian yang cantik, pita yang cantik, lipstick yang cantik. Ara merasa akhirnya kembali menjadi dirinya yang dulu setelah pulang ke rumah dan didandani dengan baik seperti ini. Jauh berbeda dengan dirinya saat bersembunyi di apartemen Bryan. Pakaian seadanya milik Bryan. Makan seadanya yang dibelikan Bryan. Dan hidup seadanya sesuai dengan apa yang Bryan berikan padanya. Namun saat membandingkannya dengan apa yang dimilikinya sebagai nona muda di rumah ini, Ara justru merasa kekosongan di hatinya jadi semakin besar. Ruang kosong yang tercipta sejak ia dipisahkan dengan Bryan ketika pria itu baru memenuhi hatinya dengan cinta. “Mau pergi?” tanya Ara saat berpapasan dengan Josh di ruang tengah. Pengawalnya itu tidak mengenakan setelan jas seperti saat dirinya bertugas, melainkan kemeja dan celana yang tampak kasual. “Tentu saja. Kau pikir hanya kau saja yang akan pergi jalan-jalan, uh?” sahut Josh. “Pergi ke tempat yang menyenangkan?” “Hmm. Aku akan pergi ke taman bermain dan makan es krim,” sahut Josh yang membuat Ara menghela napas simpati. “Kau pergi untuk bekerja rupanya,” komentar Ara yang sadar jika Josh pergi ke taman bermain untuk mengawal dirinya dan orang tuanya. “Nanti akan kubelikan es krim yang besar sekali untuk Kakak.” “Memangnya ada es krim yang besar sekali?” “Tentu saja ada! Es krimnya—“ Ucapan Ara terhenti saat terdengar deringan ponsel dari dalam tasnya. Saat Ara mengeluarkan ponselnya dan melihat nama Bryan yang tertera di sana, wanita itu menjinjitkan kedua kakinya dan membisikkan sesuatu di telinga Josh yang membuat pengawalnya itu membelalakkan kedua matanya. “Kalau Kakak mau membantuku bertemu dengan Bryan sebentar saja, aku pasti akan membelikan es krim yang besar sekali untuk Kakak.”     ***     Dengan masker dan kacamata hitam yang dikenakannya, Bryan mampu menutupi dengan baik bekas luka dan lebam di wajahnya. Namun ia tetap tidak bisa menutupi sebelah kakinya yang pincang dan jadi kesulitan saat harus membuntuti Ara di taman hiburan yang luas itu. “Dia itu 25 tahun atau 5 tahun sih sebenarnya? Bisa-bisanya terus bersemangat begitu. Aku yang lihat saja sudah mulai encok rasanya,” gerutu Bryan saat mengawasi Ara yang saat ini sedang naik wahana kora-kora. Namun cemberut di wajah Bryan perlahan memudar saat ia melihat betapa bahagianya wajah Ara yang menikmati permainan. Wanita itu tersenyum lebar, tertawa lepas, dan berteriak keras saat bermain. Melambaikan tangannya dengan penuh semangat sambil berteriak pada mama dan papanya. Membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir jika Ara adalah wanita beruntung yang hidupnya tidak pernah tersentuh kesedihan hingga membuatnya bisa tampak sebahagia itu. Namun saat Bryan ingat bagaimana tangisan Ara di pertemuan terakhir mereka, wajah pria itu berubah sendu. Melihat bagaimana sekarang Ara sangat bahagia bersama kedua orang tua yang begitu menyayangi dan memanjakannya, Bryan jadi merasa jika kehadirannya dalam hidup wanita itu hanya menjadi batu sandungan yang membuat Ara terjatuh, terluka, dan menangis. “Nah, ini es krim untuk Tuan Putriku.” Di salah satu kedai es krim yang berada di dalam taman bermain itu, Papa meletakkan mangkuk berisi es krim berukuran besar di hadapan Ara yang membuat kedua mata wanita itu jadi berbinar. “Hari ini kau boleh makan es krim sebanyak apapun yang kau inginkan.” “Kalau begitu...” Ara mendorong mangkuk es krim tersebut ke hadapan Josh yang duduk di sebelahnya. “Aku akan menghadiahkan es krim yang super besar ini untuk Kakak Pengawal kesayanganku.” Mama dan Papa yang tahu pasti sesuka apa Ara pada es krim tentu saja jadi bingung saat wanita itu justru memberikan seluruh es krimnya pada Josh. Berbeda dengan Josh yang diam-diam menghela napas saat paham apa maksud di balik kemurahan hati nona mudanya itu. “Tidak, Nona. Es krim yang ada rasa pisangnya ini tentu saja khusus dipesan untuk Nona nikmati di hari yang terik ini,” tolak Josh seraya mendorong mangkuk es krim tersebut kembali ke hadapan Ara. Mendengar ada kata pisang di sebut, Ara yang melihat ada warna kuning di es krimnya untuk sesaat jadi ragu untuk memberikan makanan kesukaannya itu pada Josh. Namun saat ingat jika saat ini dirinya harus menyuap pengawalnya itu agar bisa bertemu dengan Bryan, Ara buru-buru menggelengkan kepalanya dan kembali mendorong mangkuk tersebut ke hadapan Josh. “Ini untuk Kakak! Aku memohon dengan segenap hatiku agar Kakak yang baik hati ini mau menerima es krimku ini,” bujuk Ara dengan memasang ekspresi memelas di wajahnya. “Tidak, Nona.” Dan Josh dengan ketegasannya langsung menolak permohonan Ara dengan mengembalikan mangkuk es krim tersebut ke hadapan Ara. “Aku tidak bisa menerima kebaikan sebanyak ini dari Nona. Aku akan sangat senang dengan hanya melihat Nona menikmati semua es krim ini dengan perasaan bahagia.” Ara menghela napas kesal karena Josh sama sekali tidak mau diajak bekerja sama. Membuatnya tidak punya pilihan selain minta bantuan pada mamanya. “Ma...” Ara menatap wanita paruh baya itu dengan wajah cemberut. Tangan kanannya menarik-narik pelan lengan baju mamanya sementara tangan kirinya menunjuk Josh yang tidak mau menerima es krim pemberiannya—yang hanya dirinya dan Josh yang tahu jika es krim itu adalah bentuk sogokan yang akan membuatnya bertemu dengan Bryan. “Kalau begitu kalian bisa berbagi dan menghabiskan es krimnya bersama,” saran Mama yang membuat Ara menganggukkan kepalanya penuh semangat sementara Josh menatap nyonyanya itu dengan wajah protes. Namun lihatlah, bagaimana wanita paruh baya itu sama keras kepalanya dengan Ara saat mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan dan berkata, “Tolong bawakan satu sendok lagi ke mari agar anak-anakku bisa makan es krimnya bersama.”     ***     Hari sudah gelap dan wahana bianglala yang akan dinaikinya ini adalah yang terakhir sebelum Ara pulang. Namun wanita itu jadi cemas saat belum juga menemukan Bryan dan sama sekali tidak ada balasan untuk pesan yang dikirimkannya pada pria itu. “Kakak tidak diam-diam melakukan sesuatu pada Bryan, kan?” tuduh Ara dengan suara berbisik. “Melakukan apa? Kau tidak lihat aku sejak awal sampai sekarang hanya terus menempel denganmu, uh?” Josh berusaha membela diri yang membuat Ara menghela napas karena sekarang tidak memiliki kambing hitam untuk disalahkan. “Ada orang tua dan pengawalmu di sini, mungkin dia jadi takut dan tidak berani menemuimu,” kata Josh yang ucapannya merupakan harapannya sejak tadi dan membuatnya dengan sengaja memasang ekspresi garang di wajahnya agar Bryan tidak berani dekat-dekat pada nona mudanya. “Anak nakal itu mana mungkin bisa takut pada yang seperti ini!” Ara menggerutu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. “Katanya ingin mengajakku kabur lagi. Tapi apa ini? Dasar tukang bohong!” “Cepat naik sana!” Josh menepuk puncak kepala Ara, menyudahi gerutuannya yang terdengar seperti orang kumur-kumur itu. “Selesaikan mainnya dan pulang. Mama dan papamu sudah kelelahan.” Ara menoleh ke belakang, yang membuat mama dan papanya tersenyum padanya meski rasa lelah di wajah mereka tidak bisa ditutupi setelah menghabiskan sepanjang hari untuk menyenangkan hati putri tunggal mereka yang seperti bocah kelebihan energi itu. “Ayo temani aku naik,” pinta Ara. Yang kemudian membuatnya mengerutkan kening saat Josh melepas rangkulannya. “Itu hanya untuk dua orang,” kata Josh. “Tentu saja. Kan Mama dan Papa tidak ikut naik dengan kita.” Josh tersenyum, tampak agak ganjil saat berkata, “Naiklah. Aku akan mengalihkan perhatian mama dan papamu.” Ara memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan maksud ucapan Josh sampai kemudian seorang pria masuk ke dalam kotak bianglala  yang sama dengannya. Pria yang membuat Ara membelalakkan matanya saat melihatnya membuka kacamata dan menunjukkan sepasang mata yang tampak sendu saat menatapnya.       **To Be Continue**      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN