Pulang Bersama

1013 Kata
Siang hari di musim kemarau terasa sangat panas dan panjang. Bryan telah berkali-kali membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia mencoba untuk tidur siang, namun AC tua yang menyala itu bahkan tidak cukup untuk mendinginkan suhu di ruangan tersebut. "Ya ampun panas sekali. Kapan musim hujan datang?" Bryan keluar dari kamar, hendak mengambil air dari lemari pendingin saat melihat sebuah mangkuk kaca di atas meja dapur. Mangkuk kaca itu berisi nasi yang dicampur dengan berbagai sayuran dan lauk yang dicampur dengan saos tomat "Dia belum makan siang." Bryan memungut sendok yang terjatuh di lantai dan melemparkannya ke tempat cuci piring. Ia meneguk air minumnya sambil terus melihat isi mangkuk itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil sendok dan mencicipinya. "Ini makanan macam apa sih?!" Bryan memuntahkan nasi campur yang telah masuk ke dalam mulutnya di tempat sampah. "Wanita itu benar-benar tidak bisa melakukan apapun dengan benar! Jika dia hidup sendiri, mungkin dia akan mati kelaparan karena tidak bisa memberi makan dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia mencampur apa saja yang ada di lemari pendingin dan diberi saos untuk dijadikan makan siang seperti ini?" Bryan berhenti bersungut-sungut. Sekarang, kata 'jika' itu telah benar-benar terjadi. Ara berada di luar sana seorang diri, tanpa uang dan belum makan siang. Entah bagaimana wanita itu akan menghadapi situasi tersebut. "Memangnya aku akan peduli? Biarkan saja!" Dan Bryan yang terlanjur sakit hati oleh sikap papanya itu akhirnya bisa mengalahkan hati nuraninya yang agak mencemaskan Ara. Menekan rasa khawatirnya dan membesarkan rasa tidak pedulinya. Karena telah memutuskan untuk mengusir Ara, maka meski hati nuraninya membuatnya merasa bersalah namun ia akan bertahan dengan sikap tidak pedulinya dan melanjutkan hidupnya tanpa terganggu oleh wanita manja itu lagi.     ***     Bryan sedang menggoreng telur untuk makan malam saat ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari Mama Ara. "Halo?" "Bryan," sapa Mama Ara yang dari suara ramahnya membuat Bryan bisa membayangkan senyum lembut di wajah wanita paruh baya itu. "Apa kau sedang sibuk?" "Ah, tidak. Aku tidak sedang sibuk, Mama," jawab Bryan meski dalam hati ia menggerutu karena Mama Ara mengganggunya yang sedang menyiapkan makan malam. "Bagaimana Bangkok? Apa panasnya sama dengan di sini?" Bryan mengerutkan dahinya. Bangkok? Apa yang— "Aku baru saja dari rumahmu dan mamamu bilang kau sedang menangani sebuah proyek di Bangkok. Kau pasti sangat sibuk." "Ah..." Bryan mengerti sekarang. Jadi cerita yang dikarang oleh orang tuanya saat orang tua Ara berkunjung ke rumahnya dan tidak menemukan dirinya di sana adalah ia sedang ke Bangkok sekarang. "Tidak. Bangkok cukup sejuk sekarang. Aku akan membawakan oleh-oleh saat pulang nanti. Bagaimana keadaan kalian?" tanya Bryan. "Kami baik-baik saja. Aku merindukan Ara, karena itu aku meneleponmu. Kupikir aku bisa sedikit menekan rasa rindu ini saat berbicara denganmu, tapi ternyata aku hanya menjadi semakin merindukannya." "Mama..." "Ah, apa di Bangkok cerah malam ini?" "Ya, bintang-bintangnya sangat indah." "Beberapa saat yang lalu aku juga masih melihat bintang saat keluar dari rumahmu, tapi tiba-tiba saja turun hujan." "Hujan?" Bryan berjalan menuju kamarnya, lalu berdiri di depan pintu balkonnya. Ia baru menyadarinya, ternyata memang sedang turun hujan yang cukup deras. Hujan pertama yang menandakan berakhirnya musim kemarau yang sangat panas. "Ara suka hujan, tapi dia takut pada petir dan gemuruh. Setiap kali turun hujan deras di malam hari, anak itu pasti akan lebih memilih untuk tidur lebih cepat. Tapi di mana dia sekarang? Apa dia memiliki tempat berteduh? Apa dia sudah makan malam?" Di mana wanita manja itu sekarang? Apa dia kehujanan? Dia belum makan siang, apa dia juga belum makan malam? Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Dia tidak bisa melakukan apa-apa sendiri. Apa dia baik-baik saja? Bunyi petir yang sangat keras menyadarkan Bryan dari lamunannya. Ia menatap makan malamnya yang telah ditata di atas meja makan. Bunyi petir dan gemuruh yang bersahut-sahutan itu telah menghilangkan nafsu makannya. Detik berikutnya, dengan langkah terburu-buru ia memasuki kamarnya, mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu keluar dari apartemennya.     ***     Ara berdiri di depan pagar rumahnya yang menjulang itu. Air hujan jatuh di atas kepalanya yang tidak terlindungi oleh apapun dan membasahi seluruh tubuhnya, membuatnya menggigil kedinginan. Setelah menghabiskan sepanjang hari untuk mencari jalan ke rumahnya, ia akhirnya sampai ke rumahnya dengan menumpang pada seorang siswa SMP yang pulang sekolah dengan naik sepeda. Namun yang ia lakukan saat sampai di depan rumahnya hanya berdiri memandanginya. Dari kejauhan, tampak sebuah mobil yang mendekat. Ara yang menyadari jika itu adalah mobil yang biasa digunakan mamanya segera berlari untuk bersembunyi. "Ah!" Wanita itu hendak menjerit kencang saat tangannya ditarik dengan kasar, namun mulutnya dengan cepat dibekap oleh orang itu. Punggungnya bersandar di d**a yang bergerak naik-turun dengan cepat. Wanita itu menangis tanpa suara, bayangan saat orang jahat mengejarnya untuk mengambil kalung berliannya beberapa hari yang lalu membuatnya sangat ketakutan. Ia berada di jalan yang sepi, gelap, dan dengan hujan deras yang disertai petir dan gemuruh. Sekarang, siapa yang akan menolongnyameski ia menangis dan berteriak dengan kencang? "Kau bisa langsung masuk tadi." Tangisan Ara langsung terhenti begitu saja. Ia mengenali suara ini. Suara yang siang tadi membentaknya dengan sangat keras ketika mengusirnya tanpa dirinya tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga harus menanggung amarah itu. "Mengapa kau kabur lagi? Kau tidak ingin pulang pada orang tuamu?" Bryan menurunkan tangannya yang membekap mulut Ara lalu membalikkan tubuh wanita itu agar menghadapnya. Ara menatap Bryan masih sambil menangis. Seharusnya ia takut bertemu dengan pria ini lagi. Namun ia justru merasa bersyukur. Ia merasa sangat bersyukur karena Bryan lah yang telah menarik tangannya. Kedua tangan Ara yang gemetar karena kedinginan dan rasa takut terangkat, menyentuh jaket Bryan yang sudah basah kuyup dan mencengkeramnya dengan kuat seolah sedang mencari kekuatan. "Bryan... Aku takut sekali. Aku benar-benar sangat ketakutan." "Maafkan aku,” bisik Bryan sambil tangannya menyentuh kedua punggung tangan Ara. Menggenggam telapak tangan yang terasa mungil di telapak tangan besarnya itu dengan erat hingga akhirnya Ara bisa menemukan sedikit kekuatan yang sejak tadi dicarinya. “Semua ini karena aku tidak dapat mengendalikan diriku. Maaf karena aku telah membentak dan mengusirmu, Ara." "Aku ingin pulang." "Kau sudah bisa pulang sekarang." "Pulang..." "Aku akan mengantarmu masuk." Ara menggelengkan kepalanya. "Aku ingin pulang, Bryan,” lirihnya. “Aku ingin kita pulang ke apartemenmu."       **To Be Continue**          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN