“Aku ingin bicara dengan Liangyi empat mata, bisakah kau meninggalkan kami, Jiangyi?” tanya Qi Luo. “Iya, Mama. Aku pamit.” Jiangyi mundur kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu. Meski dirinya ingin mengetahui pembicaraan itu, tetapi Jiangyi tidak bisa menolak permintaan sang permaisuri. Seorang pelayan ditatap oleh Jiangyi kemudian mengangguk. Seolah memberi kode untuk wanita itu sebelum pergi. Permaisuri meminta Liangyi lebih dekat lagi sampai tinggal sekitar 10 sentimeter jarak kedua bahu itu. “Berhati-hatilah dalam bertindak, kau hidup di dunia yang tidak biasa. Semua yang kau ucapkan bisa menjadi boomerang untukmu di kemudian hari.” Liangyi mendengarnya dengan teliti. “Pada siapa aku harus curiga? Kakak Jiangyi?” “Liangyi, kau itu calon putra mahkota. Kau penerus kerajaan. K

