Awal Pertemuan

1129 Kata
“Menikah?” Sorot mata yang begitu tajam menatap pria yang ada di hadapannya. “Enggak, aku enggak mau menikah,” ucap wanita bernama Elina Nathania Putri tanpa ada rasa ragu sedikitpun. “Kalau kamu enggak mau menikah kamu harus mau meninggalkan jabatanmu sekarang!” Elina terdiam memikirkan apa yang baru saja keluar dari mulut Hardi yang tak lain pamannya. Elina tidak mau melepaskan jabatannya begitu saja apa lagi perusahaan itu didirikan oleh ayahnya dan memiliki saham paling banyak di perusahaan tersebut. “Tanpa pendamping pun aku bisa mengelola bisnis ini dengan baik, Paman. Jadi jangan menyuruhku untuk menikah.” Hardi mendekati Elina lalu berucap, “Itu menurutmu, tapi kami membutuhkan sosok pemimpin yang bisa mengatur bisnis kita ini.” “Jadi menurut Paman aku enggak bisa mengurus bisnis ini dengan baik, gitu?” “Dengar Elina, kamu itu perempuan. Akan ada banyak orang atau pemilik saham yang ingin merebut posisimu. Kalau kamu menikah sama cowok kaya, paman yakin mereka akan takut kepadamu karena kamu memiliki bekingan. Jadi berhentilah membantah karena paman sudah memilih 3 pria yang akan menjadi calon suamimu dan kamu harus memilih salah satu diantara mereka.” Hardi melempar amplop diatas meja, kemudian pergi dari ruangannya. Elina mengepalkan tangannya menahan kekesalan kepada Hardi. *** “Selamat pagi, Bu,” sapa Dina sekretaris Elina. Elina tak bergeming, ia masih duduk di meja rias sembari memoleskan make up di wajahnya. “Pilih salah satu baju yang ada di atas ranjang, aku harus menemui seseorang,” perintah Elina. “Oke.” Dina mulai memilih baju yang akan di kenakan oleh atasannya. Namun, ia begitu bingung ketika hanya melihat baju warna hitam dengan model yang mirip. “Apa enggak ada warna yang lain?” tanya Dina. Elina membalikkan tubuhnya mendengar ucapan Dina, dengan kesal ia beranjak dari kursi kemudian mendekati sekretarisnya itu. “Apa matamu buta, semua baju di sini motifnya beda.” “Iya, tapi semua warnanya hitam. Tetap saja terlihat sama,” gerutu Dina dalam hati. Ia pun memilih salah satu baju untuk Elina. “Yang ini bagus.” Elina berdecak, lalu menarik baju yang lain sesuai pilihannya. “Seleramu kuno,” ejeknya. Dina hanya menghela napasnya melihat kelakuan atasannya itu. Meski ia sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkan Elina, tapi ia bersyukur bisa bekerja dengan Elina meski ia hanya lulusan SMA. Dengan ragu Dina memberikan map kepada Elina yang baru saja selesai mengganti pakaiannya. “Ini profil lengkap calon suami Bu Elina.” Sudut mata Elina hanya melirik, lalu berjalan ke kaca rias untuk melihat penampilannya. “Bagaimana, cocok bukan?” tanya Elina meminta pendapat wanita yang berdiri di belakangnya. “Wah, Bu Elina terlihat cantik.” “Ehm … matamu normal ternyata.” Setelah mengatakan hal itu, Elina mengambil map yang ada di tangan Dina lalu membacanya. “Anak orang kaya, anak politikus dan anak bau kencur. Mereka hanya memilih pria sampah untukku.” Ia pun melempar map ke atas ranjang. Elina masih memikirkan apa yang sedang direncanakan oleh pamannya. Mengapa mereka memaksanya untuk menikah sementara ia masih nyaman dengan kesendiriannya dan bisa mengurus bisnisnya dengan baik. “Dina, berapa maksimal usia wanita yang pantas menikah?” tanya Elina yang mulai berpikir tentang usianya yang hampir menginjak 30 tahun. Terlihat Dina sedang memilih jawaban yang tepat karena Elina tidak suka dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pemahamannya. “30.” “Ah, 30,” ujar Elina bernapas lega. “Tunggu, 30. Maksimal menikah usia 30? yang benar saja, banyak orang yang menikah di usia 35 atau 40 tahun.” “Iya, memang banyak, tapi mereka sering dibilang Perawan Tua.” Suara Elina tercekat, ia tak bisa menjawab ucapan Dina yang seolah menamparnya dengan sebutan perawan tua. Elina berlalu meninggalkan Dina yang masih berdiri di dalam kamarnya. Seolah mengerti dengan sikap Elina, Dina pun bergegas mengikuti langkah Elina dan mencoba merayunya. “Ja–” ucapan Dina tertahan saat tubuhnya menabrak Elina yang sedang berdiri di depannya. “Ada apa?” Dina melihat arah telunjuk Elina yang berakhir pada sosok pria yang sedang berdiri di depan taman. Terlihat Anna, berjalan sembari membawakan plastik ke pria tersebut. “Siapa dia?” “Noah,” ucapnya membuat Elina menoleh ke arah Dina seolah menunggu penjelasannya. “Dia anak Bi Anna. “Serius?” “Iya, awalnya aku pikir cowok seganteng untuk apa datang ke rumah ini." Pernyataan Dina sontak membuat Elina hampir mengeluarkan seluruh bola matanya. "Ak-aku hanya bercanda. Karena penasaran aku tanya sama Bi Anna dan itulah jawabannya.” Elina mengerutkan dahinya lalu berucap, “Wajahmu merah saat membahas pria itu, apa kamu menyukainya?” Tanpa pikir panjang, Dina mengangguk sambil tersenyum. Dina pun berjalan mengikuti Elina masuk ke dalam mobil. Saat mobil yang ditumpangi Elina berjalan melewati pagar tiba-tiba saja berhenti mendadak karena terkejut melihat motor yang tiba-tiba saja muncul di depan pintu keluar. “Ah, sial.” Dengan kesal Elina keluar dari mobilnya menghampiri pemilik motor yang juga berjalan menghampirinya. “Hei … apa kamu enggak punya mata. Motor segede gini masih di tabrak!” hardik pria yang begitu marah kepada Elina. “Noah, dia-” batin Elina. “Ehm, bukannya kamu yang enggak punya mata. Udah jelas ini pagar rumahku, kenapa kamu memarkirkan motor di depan rumahku!” sarkas Elina begitu kesal dengan sikap Noah. Dina yang berada di antara keduanya pun mencoba menghalangi Elina yang seperti ingin menyerang Noah. Dina menggelengkan kepalanya, tanda jika Elina tidak boleh meluapkan emosinya kepada pria pujaan hatinya. “Itu–” Noah tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya melihat Elina dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. “Apakah dia nona besar yang sering Mamah ceritakan?” batin Noah meneliti setiap jengkal yang digunakan oleh Elina. “Sepertinya enggak ada luka di tubuhmu, jadi menyingkirlah dari jalanku!” Elina menepis tangan Dina, pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri di depan mobil. “Ayo, cepat. Kenapa kalian masih berdiri di sana?!” Tak terima dengan sikap Elina, Noah pun menghalangi Elina, menutup pintu mobilnya dengan kencang. “Tunggu, harusnya kamu bertanggung jawab karena gara-gara kamu motorku rusak.” “Rusak?” Elina memiringkan kepalanya melihat motor Noah. “Apa kamu mau lapor polisi atau kamu mau memerasku? Dengar itu bukan urusanku, ini rumahku, dan tempat kamu memarkirkan motor masih tanah milikku. Jadi kalau kamu mau lapor polisi pun sia-sia dan kalau kamu meminta ganti rugi pun enggak akan aku kasih.” Elina langsung masuk ke dalam mobilnya, di susul Dina dan juga supirnya. “Dasar nenek lampir. Sial banget cowok yang nikah sama tuh cewek,” gerutu Noah yang masih bisa didengar oleh Elina. “Dasar cowok sampah, aku yakin nggak ada cewek yang mau nikah sama cowok miskin seperti dia,” desis Elina memalingkan wajahnya saat mobilnya melewati motor Noah. “Jangan seperti itu, benci dan cinta beda tipis,” bisik Dina yang membuat bulu kuduk Elina meremang seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN