“Cathreen, berapa kali Ibu mengatakan untuk patuh pada aturan asrama, hm?” Miss Johnson menatap murid perempuan yang ada di hadapannya, yang kini balik menatapnya dengan tatapan polos seolah dia sedang tidak dalam masalah.
“Aku sudah mengerjakan pekerjaan rumahku, dan Sir Richard tidak percaya itu. Padahal aku berniat untuk mengambil buku itu di kamar asramaku kalau dia percaya.” Cathreen menjawab dengan nada yang defensif. Tentu saja dia tidak ingin disalahkan akan sesuatu yang tidak ia lakukan. Dia dituduh bolos kelas fisika ketika pada kenyataannya, dia hanya mengambil buku fisikanya yang ternyata tertinggal.
“Dan kenapa buku itu harus tertinggal, Cathreen?” Miss Johnson dikenal sebagai guru konseling paling sabar di sekolah ini. Tidak heran kalau dia selalu mendapatkan tugas untuk menyelesaikan kasus anak-anak nakal, dan Cathreen adalah satu dari sekian anak nakal di sekolah asrama Forest School itu.
“Karena aku tidak sengaja meninggalkannya. Miss Johnson, please, aku yakin ini bukan sesuatu yang harus aku jawab. Lagipula, aku sudah menjelaskan semuanya, bukan?” Cathreen terkenal sangat badung. Dia adalah anak yang pintar dalam akademik—karena itu pula dia bisa masuk ke Forest School dan mendapatkan beasiswa full di sini, namun tingkahnya sering kali membuat para guru geleng-geleng kepala.
Miss Johnson menghela napasnya. Dia tidak pernah tega menghukum murid-muridnya. “Baiklah. Berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan … kamu diberikan skors dengan ikut membantu pegawai dapur mencuci piring setelah jam makan ini, okay?”
Cathreen dengan mata berwarna cokelat dan rambut curvy berwarna hitamnya, terlihat terkejut mendengar ucapan dari Miss Johnson. “Dari sekian banyak murid, aku harus mencucikan piring mereka satu per satu?!”
“Iya, itu konsekuensinya, Cathreen. Kamu tahu kalau segala sesuatu yang kamu lakukan pasti akan ada konsekuensi, bukan?” Miss Johnson tersenyum. “Lakukan saja, okay?”
Cathreen menghela napas sebal. “Baiklah.” Dia bangkit dari duduknya dan tanpa berpamitan juga dengan wajah sebal bukan main, dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Namun, langkahnya terhenti sejenak ketika Miss Johnson kembali memanggilnya.
“Hm?” Cathreen mengangkat sebelah alisnya.
“Tante kamu mencoba untuk menghubungi kamu ke sekolah ini, apa kamu—”
“Aku tidak mau. Tolong, Miss Johnson, pihak sekolah sudah mengabulkan permintaanku yang satu itu. Aku akan melakukan apapun agar dia tidak menghubungiku.” Cathreen terlihat panik dan hal itu langsung bisa dilihat oleh Miss Johnson.
Wanita tua dengan dress hitam sebagai seragamnya itu mengangguk. “Baiklah. Maaf, Cath.”
Cathreen mengangguk dan keluar dari ruangan itu. Dia akan pergi ke kantin utama di mana semua murid sepertinya sudah berada di sana sekarang. Dia menghela napasnya ketika dia ingat bahwa dia ditugaskan untuk mencuci piring setelah ini. Hilang sudah selera makannya sekarang.
“Cath!”
Cathreen bukan termasuk murid populer di sekolah ini. Ibaratnya dia bagaikan debu di antara para berlian di sekolah ini. Dia masuk kemari juga karena beasiswa, dia berasal dari keluarga yang biasa saja. Jadi, tidak heran kalau dia menjadi murid tak terlihat di sini. Dan memang lebih baik seperti itu.
Sahabat satu-satunya yang dia miliki adalah Sophia Gracie. Dia berasal dari keluarga berada yang terkadang membuat Cathreen merasa heran kenapa dia mau berteman dengannya, karena Sophia bisa mendapatkan teman yang lebih berada dibandingkan dia.
“Hai.” Cathreen menyapa sahabatnya yang sudah mengalungkan lengannya di sekitar leher Cathreen.
“Dipanggil Miss Johnson lagi?” tanya Sophia ketika tidak melihat Cathreen di manapun setelah kelas fisika tadi.
Cathreen menghela napas. “Iya. Jadi, bagaimana kelas fisika tadi?”
“Boring as usual.” Sophia memutar bola matanya malas yang membuat Cathreen tertawa kecil.
“Sudahlah, aku terlalu lapar untuk memikirkan itu.” Cathreen menepuk-nepuk perutnya yang mana sepertinya cacing di perutnya ini sudah protes karena mereka kelapaaran. “Koridor sepi sekali,” komentar Cathreen ketika melihat tidak ada satu pun murid di koridor ketika mereka melangkahkan kaki menuju kantin utama. “Apa mereka juga sama kelaparannya dengan kita sehingga sudah berkumpul di sana?” Cathreen tertawa kecil.
Sophia memukul pelan bahu Cathreen. “Apa kamu tidak tahu?”
“Apa?” Cathreen adalah salah satu murid yang jarang sekali memberikan perhatian pada apapun yang terjadi di sekolah ini. Dia selalu ketinggalan berita, dan untunglah dia memiliki sahabat yang selalu up to date.
“Putra dari Louis MacMillan pindah kemari.”
“Louis MacMillan?” Cathreen mengeryitkan dahinya. Terlalu banyak keluarga bangsawan dan kelas atas di sekolah ini sehingga sulit untuknya mengingat semuanya.
“Iya, Viscount of Overden, salah satu keluarga bangsawan paling dihormati. Dia tinggal di Skotlandia, tapi jauh-jauh menyekolahkan anaknya di Edinburgh ini. Katanya, dia sangat tampan dan karena itu menjadi buah bibir belakangan ini.” Sophia menceritakan semuanya dengan menggebu-gebu. “Aku jadi penasaran setampan apa dia, karena menurutku yang paling tampan di dunia ini hanyalah Ben Barnes.”
Cathreen yang sedari tadi fokus mendengarkan semua perkataan Sophia, langsung tertawa begitu mendengar kalimat terakhir dari sahabatnya itu. “Iya, Ben Barnes memang paling tampan.” Cathreen meledeknya.
Sophia berdecih. “Dan katanya, dia berada di kantin utama sekarang, karena itu para murid berboyong-boyong ke sana.” Biasanya, sekalipun sudah waktunya makan bersama, murid-murid di sekolah ini tidak akan langsung pergi ke sana bersamaan. Sebagian dari mereka akan menunggu giliran jam makan selanjutnya karena terlalu malas, atau karena ada kegiatan lain.
“Oke, ayo kita lihat seberapa tampannya ia.”
***
Ketika mereka melangkahkan kaki di kantin tersebut, suasana memang sangat ramai, namun tetap tertib. “Di mana dia?” tanya Cathreen penuh dengan rasa penasaran. Dia mengedarkan pandangannya dan mencoba mencari lelaki yang kini menjadi buah bibir anak-anak sekolah.
“Yang mana, ya?” tanya Sophia ikut mencari. Dia sendiri tidak tahu pasti wajah Aleksander MacMillan. Dia tidak sempat melihatnya di internet.
Cathreen tertawa melihat ekspresi dari sahabatnya. “Sepertinya kita juga terlalu lapar untuk mencari si idaman perempuan itu sekarang.” Sophia mengangguk polos.
“Aku yakin kita akan menemukannya, tapi … sepertinya dia sama seperti lelaki-lelaki bangsawan lainnya.” Cathreen juga ikut penasaran dengan wajah Aleksander MacMillan, tapi dia tidak terlalu tertarik.
“Seperti apa?”
“Sombong, merasa dirinya selalu harus unggul, dan menyebalkan.” Cathreen tidak bisa mengeneralisasikan bahwa semua bangsawan seperti itu, tapi hampir semua yang ia temui memang begitu. Walaupun lagi-lagi, tidak semuanya seperti yang ia katakan.
Sophia memukul sahabatnya. “Kamu bisa diamuk massa kalau membicarakannya terlalu keras.” Dia melotot, walaupun pada akhirnya mereka tertawa bersama. “Tapi, siapa tahu kalau Aleksander MacMillan tidak seperti itu, bukan? Aku jadi semakin penasaran.”
Dan mereka menghabiskan jam makan tanpa tahu siapa itu Aleksander MacMillan.
“Aku ditugaskan oleh Miss Johnson. Kamu duluan saja.” Cathreen berkata pada Sophia ketika dia akan melangkahkan kakinya ke balik meja tempat para siswa mengumpulkan piring-piring kotor bekas mereka.
Sophia mencebikkan bibirnya. “Baiklah. See you.”
“Hm.”
Satu per satu murid menyimpan piring bekas mereka di keranjang di hadapan Cathreen. “Kamu petugas baru?” ledek salah satu teman kamar asramanya yang membercandai Cathreen, membuat Cath berdecak kesal.
“Awas saja—aish!” Cathreen terkejut bukan main ketika salah satu murid tidak sengaja menumpahkan bekas makannya ke bajunya.
“Hei!”
Dan Cathreen mendapatkan masalah. Lagi.
***