Pelakor Itu Kikuk

1056 Kata
Norma menyadari kedatangan Laura, dan ia langsung menatap sinis pada Laura. Laura yang menyadarinya langsung mengatakan sesuatu yang membuat Norma geram. Norma berdiri di depan perusahaan dengan sikap sinis, sedangkan Laura mendekatinya dengan langkah mantap. Laura menghampiri Norma, "Pagi, Norma. Apa kabar?" Tanya Laura berbasa-basi. Tidak tampak kebencian dari wajah Laura pada Norma, wanita yang sudah merebut suami yang tak lain ayah dari anak-anaknya. Norma menatap Laura dengan sinis, "Oh, Laura. Kabarku baik-baik saja, berkat pernikahan yang bahagia dengan mantan suamimu," jawab Norma seakan puas. Laura mengangkat alis, "Norma, aku tahu hubungan kita belum pernah harmonis. Tapi ini tempat kerja, dan kita perlu memisahkan masalah pribadi dan profesionalisme." Ujar Laura tegas. Norma geram mendengar ucapan Laura, "Apa yang kau tahu tentang profesionalisme? Kau tidak bisa mengatur hidupku, Laura." Protes Norma. Laura pun menjawab dengan wajah tenang, "Norma, aku tidak bermaksud mengatur hidupmu. Tapi kamu ada di sini, di perusahaan ini, dan kita harus tetap fokus dan bekerja dengan semangat." Ucap Laura. Norma tak mau kalah, "Oh, tentu saja, Laura. Seperti yang selalu kau lakukan, hidup ini hanyalah sebuah permainan bagimu, bukan?" Tanya Norma. Laura yang menyadari Norma tidak ingin mendengarkan pun angkat bicara, "Norma, aku hanya ingin mengingatkan agar tetap profesional di tempat kerja ini. Kita berdua harus bekerja dengan baik demi kepentingan perusahaan." Ungkap Laura. Norma tertawa sinis, "Baiklah, Laura. Aku akan mencoba meniru semangatmu yang palsu itu." Laura menyadap senyum "Baiklah, Norma. Itu yang harus kita lakukan. Semoga harimu menyenangkan." Harap Laura. Setelah itu Laura melenggang pergi dengan perasaan puas. Norma memandang Laura yang pergi dengan geram, merasakan adanya ketegangan yang semakin memburuk antara mereka. Ia tidak senang dengan situasi ini, tetapi menyadari bahwa ia harus menyelesaikan masalah pribadinya dan fokus pada pekerjaannya di perusahaan. Nasih di tempat yang sama Norma masih merasa kesal dan tidak percaya setelah Laura meninggalkannya di depan perusahaan. Ia tidak dapat memahami bagaimana Laura masih terlihat bahagia setelah Norma merebut suaminya. Norma diam-diam memperhatikan penampilan Laura yang menjauhinya. Setiap barang yang dikenakan oleh Laura terlihat mahal dan berkelas. Norma merasa iri dan bertanya-tanya dari mana Laura mendapatkan semua barang-barang itu. Meskipun suami Laura sekarang menjadi suaminya, Norma merasa perlu bersaing dengan Laura. Norma berbisik sendiri, "Dari mana dia mendapatkan semua itu? Mengapa dia masih terlihat begitu bahagia setelah semua yang terjadi? Aku tidak boleh kalah darinya." Norma memutuskan untuk melakukan sedikit penelusuran. Ia akan mencari tahu dari rekan-rekan mereka di perusahaan dan mencari tahu apakah Laura mungkin mendapatkan semua barang itu dari sumber yang tak diketahui. Norma ingin tahu bagaimana ia bisa memiliki pakaian dan barang-barang yang sekelas Laura. Sementara Norma tenggelam dalam pikirannya, Laura sudah mulai berjalan ke ruang departemen pemasaran. Tempat barunya bekerja di perusahaan itu. Laura memasuki departemen pemasaran dengan pikiran yang penuh harapan dan determinasi. Ia berbatin bahwa mulai hari ini, Norma akan menjadi bawahannya. Laura ingin memastikan bahwa peralihan kepemimpinan ini akan berjalan dengan lancar dan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis. Para staf di departemen pemasaran dengan senang hati menyambut kedatangan Laura, mereka merasa gembira memiliki seorang kepala departemen yang baru. Salah satu karyawati tersenyum dan menyambut Laura, "Selamat datang, Laura! Kami sangat senang memiliki Anda sebagai kepala departemen baru." "Ya, kami telah mendengar kabar perubahan ini dan semuanya sangat antusias. Kami berharap dapat bekerja sama dengan Anda untuk mencapai kesuksesan dalam proyek-proyek kami," ungkap karyawan lain. Laura pun tersenyum hangat, "Terima kasih semuanya. Saya juga sangat senang menjadi bagian dari tim ini. Saya percaya kita dapat mencapai banyak hal hebat bersama-sama." Ucap Laura. Laura melihat ke sekeliling dan merasa bangga melihat semangat kerja yang tinggi dari timnya. Ia memutuskan untuk menyampaikan pesan kerja sama dan motivasi kepada semua staf. Laura masih berdiri di depan mereka, "Saya ingin mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat ini. Saya sangat antusias untuk bekerja bersama kalian semua. Saya percaya bahwa dengan kerja sama dan kolaborasi, kita dapat mencapai tujuan departemen ini. Jadi, mari kita bekerja sama dengan semangat dan memberikan yang terbaik dalam pekerjaan kita." Semua staf departemen pemasaran mengangguk dan bertepuk tangan sebagai tanda kesepakatan mereka untuk bekerja sama dengan Laura. Mereka merasa termotivasi dan percaya bahwa perubahan kepemimpinan ini akan membawa dampak positif bagi tim mereka. Namun, saat suasana penuh semangat itu berlangsung, Norma tiba-tiba memasuki ruangan. Ia terkejut saat menyadari bahwa Laura sekarang menjadi kepala departemen pemasaran, yang berarti Laura adalah atasannya sekarang. Norma menunjukkan wajah terkejut, "Laura?! Apa maksudmu dengan menjadi kepala departemen?" Laura memaklumi kekagetan Norma. Laura pun menjawab dengan tenang, "Ya, Norma. Mulai hari ini, saya ditunjuk sebagai kepala departemen pemasaran. Saya berharap kita dapat bekerja dengan baik sebagai tim." Ucap Laura dengan wajah serius. Norma merasa campur aduk. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Laura akan menjadi atasannya setelah semua yang terjadi di antara mereka. Namun, ia mencoba untuk mengendalikan emosinya dan menerima situasi ini dengan lapang d**a. Norma pun memaksa senyuman, "Tentu, Laura. Saya harap kita dapat bekerja sama dengan baik. Selamat atas penunjukanmu sebagai kepala departemen." Ucapnya palsu. Laura pun mengangguk, "Terima kasih, Norma. Ayo kita tunjukkan kepada semua orang bahwa kita dapat bekerja sebagai tim yang solid dan sukses." Harapnya. Laura berpikir orang lain tidak usah tahu jika Norma telah merebut suaminya. Norma merasa perlu menempatkan perasaannya yang rumit di sisi dan fokus pada pekerjaan. Setelah penyambutan itu Laura memilih masuk ke dalam ruangannya. Laura memasuki ruang kepala departemen pemasaran dengan antusiasme dan semangat. Namun, ia langsung terkejut saat melihat meja kerjanya yang dihiasi dengan sebuah buket bunga yang indah dan kotak coklat yang terletak di atasnya. Laura merasa penasaran dan tertarik dengan kejutan tersebut. Ia mengambil buket bunga dengan hati-hati dan melihat ada sebuah surat yang terletak di antara bunga-bunga itu. Laura membuka surat tersebut dengan hati-hati dan membacanya dengan perasaan campur aduk. "Dear Laura, Selamat atas penunjukanmu sebagai kepala departemen pemasaran! Aku tahu betapa berbakat dan dedikasimu dalam pekerjaanmu. Aku yakin kamu akan menginspirasi dan membawa perubahan positif dalam tim. Aku harap buket bunga ini dapat mewakili kegembiraanku untukmu. Semoga bunga-bunga ini memberikan semangat dan keceriaan di setiap langkahmu. Dan kotak coklat ini hanya sebagai sebuah simbol kejutan manis untuk merayakan pencapaianmu. Teruslah berprestasi, Laura! Aku mendukungmu sepenuhnya dan berharap yang terbaik untukmu. Salam hangat, Seorang Pengagum Rahasia" Laura merasa terharu dan bingung sekaligus. Ia tidak dapat mengenali tulisan tangan pengirim surat tersebut. Namun, pesan dalam surat tersebut mengandung semangat dan dukungan yang sangat dihargai. Laura berbisik kepada diri sendiri, "Siapa yang bisa mengirimkan pesan seperti ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN