Meli memutuskan untuk untuk tidak berbicara pada Bima, bukan tanpa alasan Meli mendiamkan Bima. Dia mendiamkan Bima karena tak mau terbawa emosi, suasana hatinya sedang tak baik, dari pada dia harus ribut lagi, lebih baik dia diam.
Umaya membuka matanya perlahan, suara kicauan burung sudah terdengar jelas di telinganya.
"Eunghhh ...." Umay meregangkan otot-ototnya, badannya pegal sehabis bangun tidur.
"Lohh, mama?" Umaya terkejut saat melihat mamanya tertidur di sampingnya.
"Mama kok tidur di sini?" tanya Umaya bingung.
Meli mendengar samar-samar suara Umaya, dia langsung terbangun dari tidurnya. "Eehh kamu uda bangun? uda lama bangunnya? mama belum siapin sarapan loh. Tunggu sebentar ya, mama buatin sarapan dulu." Meli langsung duduk, dia mengikat rambut nya yang berantakan, lalu merapikannya dengan cepat.
"Lohh mama kok tidur di kamar Umay? perasaan semalam mama gak ada deh di sini." Umaya bertanya pada sang mama.
"Iya, mama khawatir banget sama kamu, jadi mama memutuskan untuk tidur di sini aja. Sambil liat keadaan kamu, siapa tau kamu butuh apa-apa, nanti kalau gak ada mama kan payah. Tapi kamu tidur nya nyeyak bangett, bahkan kamu gak ada kebangun sedikit pun." Meli berbohong, dia tak ingin memberitahu Umaya tentang masalah yang terjadi antara Bima dan dirinya.
Meli langsung berdiri, dia langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Umaya. Di dalam kamar mandi Meli langsung mencuci mukanya supaya matanya tak terbuka dan tidak ngantuk lagi. Setelah itu Meli langsung menggosok gigi. Di setiap kamar mandi rumahnya memang selalu disediakan gosok gigi yang baru, itu semua disediakan Meli untuk berjaga-jaga jika ada tamu yang tiba-tiba menginap. Tapi kali ini bukan tamu yang memakainya, melainkan Meli sendiri. Seharusnya Meli bersih-bersih di kamarnya, tapi dia tak mau bertemu dengan Bima, jadi lebih baik Meli bersih-bersih di kamar Umaya saja.
Setelah selesai bersih-bersih, Meli langsung keluar dari kamar mandi, lalu dia langsung berjalan ke meja rias, menyambut sisir dan langsung menyisir rambutnya dengan rapih. Setelah menyisir rambut nya, Meli langsung mengikatnya dengan rapih.
"Mama mau ke mana?" tanya Umaya yang sejak tadi hanya memperhatikan kegiatan mamanya saja.
"Mau masak lah, kamu kan lagi sakit. Mama mau masak bubur untuk kamu," jawab Meli.
"Mama ... Umay gak mau bubur, gak selera banget kalau makan bubur," Umay menolak mamanya yang ingin memasakkan bubur untuknya.
Meli mengerutkan dahinya bingung. "Jadi kamu mau apa? kamu mau sarapan pakai apa? sarapan yang banyak biar langsung minum obat." Meli bertanya pada Umaya tentang makanan yang dia mau untuk sarapan pagi ini.
"Umay mau sup, rasanya Umay pengen banget makan sup, pagi-pagi makan sup seger kayaknya. Dari tadi malam Umay pengen banget makan sup, tapi kan malam-malam gak ada sup, lagi pula mana mungkin mama masak sup malam-malam. Tadi malam sebelum tidur emang Umay mikir tentang sup mulu, tapi yaudah Umay bawa tidur aja, jadi Umay mau makan sup pagi ini." Umaya menjelaskan pada mamanya tentang apa yang dia mau. Memang sejak tadi malam sebelum tidur Umay sangat ingin makan sup, tapi tak mungkin dia merepotkan mamanya di malam hari.
"Lohh kamu kok gak bilang? kan bisa pesen sup dari resto yang enak itu." Meli terkejut saat mengetahui ternyata Umaya sangat ingin makam sup sejak tadi malam.
Umay langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak ah, Umay gak mau makan sup dari restoran atau rumah makan, Umay pengennya sup buatan mama. Itu sup buatan mama enak banget, buat Umay pengen makan terus, gak bosen bosen deh pokoknya."
Meli tersenyum lebar. "Ooh jadi mau buatan mama asli toh?" tanyanya.
Umay menganggukkan kepalanya. "Iya, ma, mau mama yang masak," jawab Umay cepat.
"Yaudah mama mau masakin buat kamu dulu ya. Kamu tunggu di sini sebentar. Mama mau masak, kalau ada apa-apa kamu panggil mama atau bibi aja ya. Mama mau ke dapur, biasanya kalau di dapur mama suka gak denger kalau ada orang manggil. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa telepon ke telepon rumah kita. Nahh, kan nanti bibi tuh yang ngangkat, jadi kamu gak udah capek teriak-teriak manggil mama atau bibi. Cukup telepon aja ke telepon rumah kita, oke?" Meli memberitahu Umaya jika dia menginginkan sesuatu harus dibantu oleh bibi, Umaya tak boleh melakukannya sendiri.
"Ingat, kamu jangan ngapa-ngapain sendiri. Kalau mau ngapa-ngapain panggil bibi." Meli kembali memperingati anaknya.
Umaya langsung menganggukkan kepalanya mengerti. "Iya, mama yang cerewet, iya. Umaya tau kok, nanti kalai ada apa-apa langsung panggil bibi biar datang ke sini," ucap Umaya mengerti.
"Oke, kalau begitu mama mau ke dapur dulu, masak sup untuk kamu." Meli pamit, dia langsung pergi dari kamar Umaya menuju dapur.
"Seneng banget rasanya Umay pengen makan masakan aku, bahagia gitu rasanya kalau anak kita masih suka masakan mamanya, padahal dia juga sering makan makanan yang lebih enak di restoran. Tapi seenak-enaknya makanan restoran, Umaya bilang dia tetap suka makanan yang dimasak sendiri oleh mamanya. Itu yang buat aku selalu bersemangat untuk masak, anak aku emang semangat ku banget." Meli tersenyum girang. Dia langsung mengeluarkan bahan-bahan masakan yang ingin dia masak pagi ini. Dia langsung mencuci semua sayuran yang ingin dia masak untuk campur sup ayam kesukaan Umaya. Ada kentang dan wortel, Meli langsung mencucinya dan memotongnya dengan cepat. Tak lupa Meli juga mencuci kembali ayam yang sudah dia simpan di dalam lemari pendingin. Ayam itu sudah bersih sebelumnya, tapi alangkah lebih baiknya dicuci kembali sebelum dimasak.
Meli memasak dengan semangat, tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, malah Meli merasa senang sang anak mencintai masakannya.
Di sisi lain, Bima yang sudah sejak tadi bangun saat ini sedang bersiap-siap untuk mandi.
Sejak bangun dari tidur tadi, Bima tak melakukan apa-apa, dia hanya duduk diam sambil melamun. Tidurnya tak tenang, dia tak bisa tidur nyenyak, dia juga bangun lebih awal dan tak seperti biasanya. Itu semua karena Bima merasa aneh saat Meli tak tidur bersamanya. Rasanya benar-benar janggal, seperti ada yang kurang.
"Ck, kenapa coba dia gak tidur di sini? merajuk sama aku gitu?" tanya Bima pada dirinya sendiri.
Bima mengambil handuknya di dalam lemari. Lalu dia langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi. "Kenapa sih perempuan taunya merajuk aja? gak mamanya, gak anaknya, gak yang uda tua, gak yang masih muda, taunya merajuk aja. Buat orang kesel banget." Bima mengomel, dia merasa kesal saat dirinya didiamkan oleh Meli.
"Dipikir dia cuma dia aja apa yang bisa merajuk? aku juga bisa kali. Liat aja siapa yang gak bertahan dan nyerah duluan. Ck," Bima tersenyum miring. Dia akan mengikuti alur permainan Meli, dia juga tak akan bicara duluan pada Meli supaya Meli sadar dia juga bisa merajuk seperti itu.