Fourteen

1353 Kata

Pagi ini, Dehan tiba di kantor dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya. Wajahnya terlihat muram, dan pastinya akan banyak menimbulkan pertanyaan dari para karyawan yang melihatnya. Sejujurnya, Dehan juga sedang tidak mood untuk masuk kantor. Akan tetapi, ia masih punya tanggung jawab atas diskusi proyek terbarunya kemarin bersama Malvin. Ia tak ingin membuat Malvin kecewa nantinya. Kalau bukan karena Malvin, aku malas datang ke kantor. Aku muak bertemu dengan gadis munafik itu. Dalam hati, Dehan terus mengumpat kesal. Ia benar-benar kesal sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Tapi untungnya, masih ada Kezhiaㅡgadis cantik idaman hati," gumamnya pelan. Saat melewati ruangan Alika, langkah Dehan terhenti sejenak. Ia menaikkan sebelah alisnya sambil melihat Alika yang sedang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN