Three

1216 Kata
Setelah berkutat seharian dengan pekerjaannya, Dehan pun merasakan lelah. Ia bersandar di kursi sembari melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore. Dia bahkan melupakan acara makan siangnya dengan klien karena pekerjaan yang menumpuk. Dirinya meminta Alika untuk membatalkan semua pertemuannya hari ini, karena memang dirinya sedang tidak mood untuk bertemu dengan siapa pun, kecuali Alika dan para jalangnya yang sudah menantikan kehadirannya. Dehan tersenyum manis saat membayangkan b****g Alika melekat tepat di atas pangkuannya. Menyentuh little bird-nya yang sudah menegang hanya dengan membayangkan keseksian Alika. Itu benar-benar terasa menggairahkan untuk Dehan. Dia membayangkan Alika sedang bermain di atasnya dengan gerakan-gerakan erotis nan mengagumkan. Ah, membayangkan itu saja membuat suhu tubuhnya berubah menjadi gerah. Dehan sedikit melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Dia menarik napas dalam, lalu membuangnya karena merasa tidak tahan lagi untuk menjamah tubuh asistennya itu. Ia ingin merasakan setiap inci tubuh Alika menggeliat panas di atas ranjang bersamanya. Oh my, God! It's so hot! Kapan aku bisa melakukan itu dengannya? Aku benar-benar tidak tahan. Dia selalu saja menolak saat aku mengajaknya untuk berkencan. Dia juga selalu menolak bantuanku untuk membiayai pengobatan ayahnya. Sshh... Andai dia bersedia menyerahkan tubuhnya padaku, aku pasti akan membalasnya dengan penuh kelembutan agar dia selalu mengingatnya. Astaga! Suhu tubuhku benar-benar panas seperti terbakar. Dehan membuka satu per satu kancing kemejanya, sehingga memperlihatkan dalamannya yang berwarna putih sesuai dengan warna kemejanya. Ia menyampirkan kemeja yang sudah basah itu di sandaran kursi. Namun tiba-tiba saja pandangannya beralih pada Alika yang sedang membelakanginya di ambang pintu. "Alika," panggilnya. "Eum... Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau bapak sedang berganti pakaian. Tapi tadi, saya sudah mengetuk pintu ruangan bapak. Sekali lagi, saya minta maaf. Permisi." Alika berbicara dengan tetap membelakanginya. Dehan melihat tubuh Alika gemetar, sehingga membuat Bos m***m itu menyunggingkan senyuman jahat. "Tunggu, Alika," cegah Dehan saat Alika hendak pergi dari hadapannya. Dia meminta Alika untuk mendekat dengan jari tangannya. "Kemarilah. Aku hanya gerah memakai kemeja seharian." "Tapi sayaㅡ" "Masuklah. Tidak perlu takut seperti itu. Aku tidak akan menggigitmu. Tenang saja," sela Dehan beserta senyuman penuh arti itu. Dengan sangat terpaksa, Alika menuruti perintah Dehan dan kembali masuk ke ruangan bahaya itu, lalu duduk berhadapan dengan Dehan yang hanya memakai dalaman sehingga otot-otot kekarnya terekspos dengan jelas. Alika hanya bisa tertunduk sembari memberikan buku agenda yang belum sempat dia berikan pada Dehan. Dehan menerimanya dengan sedikit sentuhan lembut di tangan Alika. Membuat gadis itu merona seketika akibat perlakuan m***m Dehan. Deru napas Alika mulai tak beraturan berikut dengan detak jantungnya yang mungkin Dehan juga bisa mendengarnya, karena bunyinya begitu kencang. "Thanks, Baby," ucap Dehan lembut. Ucapan itu membuat Alika mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata biru nan indah milik Dehan. "Sungguh indah ciptaan Tuhan," batinnya. "Pipimu merona sayang." Alika gugup dan kembali tertundukㅡberusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia benar-benar malu saat ini. Ingin rasanya ia segera berlari keluar, namun kakinya sangat susah untuk digerakkan karena rasa gemetar yang luar biasa. Perasaan yang tidak wajar pun mulai menjalar di hatinya. "Tidak. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku bukanlah wanita yang pantas untuknya. Aku tidak se-level dengannya. Aku juga bukanlah wanita yang menjadi pujaan hatinya. Aku hanya wanita biasa yang tidak memiliki apa pun," batinnya berkecamuk. "Eum... Saya permisi, Pak. Masih ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan," ucap Alika seraya bangkit berdiriㅡtetap dengan wajah yang tertunduk. "Sayang, aku belum selesai bicara. Sejak tadi, aku belum makan siang. Apa kau sudah makan siang?" Alika menggeleng, lalu menjawab, "Belum, Pak. Eum... Bisakah bapak tidak memanggil saya dengan sebutan itu? Kalau didengar karyawan lain, mereka pasti akan menggunjing saya, Pak. Saya mohon, jangan bersikap seperti itu pada saya. Saya hanyalah asisten bapak, bukan istri bapak." Dehan bangkit berdiri, lalu bergerak mendekati Alika. Dan tanpa disangka-sangka, Dehan melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang ramping Alika. Pria m***m itu memeluk Alika dari belakang, dan menghirup aroma venus yang selama 4 tahun ini menjadi aroma favorite Dehan. Ia berbisik lembut di telinga gadis itu, "Kenapa kau selalu mendengarkan perkataan mereka? Apa kau tidak ingin sekali saja mendengarkan perkataanku, Baby?" "Pak, saya mohon lepaskan. Ini tidak benar. Saya hanyaㅡ" "Hanya asistenku. Benar, kan?" sambung Dehan yang semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Alika, "Abaikan saja perkataan mereka. Kau memang hanyalah asistenku di mata mereka. Tapi di mataku, kau itu spesial lebih dari seorang asisten. Jadi, jangan pernah menghindariku ya." Deru napas Alika semakin memburu ketika pria itu mulai mencium daun telinganya. Kemudian matanya terpejam disaat dirinya merasakan bibir seksi Dehan menyentuh lehernya. Bahkan tubuhnya menegang seketika itu juga dan tidak bisa berkutik sedikit pun. "Oh my, God! Lepaskan aku darinya, Tuhan! Aku tidak ingin seperti ini! Aku tidak ingin pria lain menjamahku sebelum aku menikah!" batinnya memberontak. Seketika, matanya terbuka lebar saat Dehan mulai ingin melucuti pakaian kantornya. Dengan sigap, Alika menahan tangan kekar Dehan yang ada di pundak kirinya, lalu berkata, "Tidak, Pak. Saya tidak ingin melakukan ini, sebelum saya menikah. Saya mohon, bapak bisa menghargai saya sebagai seorang wanita. Saya bukanlah seorang jalang seperti yang bapak pikirkan. Permisi." Saat hendak pergi, tangan Alika ditahan dan digenggam erat oleh Dehan. Pria itu sangat menginginkan Alika, tapi hanya sebatas untuk teman berkencan saja. Tidak lebih dari itu. Dan itu menurut pemikiran Dehan. Namun, hati pria itu berkata lain. Timbul sebuah debaran di hatinya setiap kali berdekatan atau menatap mata hazel Alika. Tetapi Dehan berusaha mengabaikan debaran jantungnya. Dia tetap berpegang teguh pada prinsipnya tentang wanita. "Kalau aku menikahimu, apa kau bersedia melayaniku selama duapuluh empat jam setiap harinya? Apa kau sanggup? Kalau kau sanggup, hari ini juga aku akan melamarmu di depan orang tua kita. Aku akan memberimu apa saja, asal kau mau melayaniku setiap saat setelah kita menikah." Pernyataan Dehan justru membuat Alika merasa sakit hati. Jadi, Dehan menganggap bahwa sebuah pernikahan itu hanya berdasarkan hawa napsu, bukan berdasarkan perasaan. Ini tidak benar. Alika tidak bisa menerimanya. Dia ingin menikah dengan seorang pria yang benar-benar menikahinya karena perasaan, bukan karena kepuasan napsu semata. Alika menggeleng pelan. "Tidak, Pak. Saya tidak akan menikah dengan orang yang tidak mencintai saya dengan tulus. Saya hanya akan menikah dengan pria yang mencintai saya, apa pun kondisi saya. Saya tidak butuh harta seperti yang bapak janjikan pada saya. Saya hanya butuh cinta dan kasih sayang dari seorang suami. Hanya itu." "Cih! Cinta?" Dehan melepaskan genggaman tangannya di tangan Alika. Ia menyeringai seraya berkacak pinggang di depan asisten cantiknya itu, "Kau pikir, dengan cinta hidupmu akan bahagia? Kau pikir, dengan cinta hidupmu akan penuh warna? Dan kau pikir, dengan cinta kau bisa memberi makan anak-anakmu, hah?! Tidak, kan? Kau juga butuh materi, Alika. Cinta itu butuh materi, bukan hanya sekedar ungkapan belaka saja yang sekejap bisa berubah." Dehan menarik dagu Alika untuk bisa memberikan asistennya itu tatapan setajam kilatan pisau. Mata sendunya tiba-tiba saja menggelap dan mengerikan saat Alika membahas tentang cinta. "Saranku, menjauhlah dari cinta. Karena cinta akan membuatmu menderita. Cinta akan membuat dunia bahagiamu menjadi kelam. Cinta akan membunuhmu secara perlahan-lahan. Jadi, lupakan cinta dan mulailah untuk bersenang-senang," ucapnya lagi. Alika menangis. Ini kali pertama Dehan memberikan tatapan tajam itu padanya. Dan ini kali pertama, Alika merasakan sakit dan sesak di dadanya akibat pernyataan Dehan barusan. Kenapa dengan hatinya? Kenapa dia seakan tak terima jika Dehan berbicara seperti itu padanya? Kenapa Alika tak terima jika Dehan menatapnya sekejam itu? "Sekarang, pergi dan pesankan makanan untukku. Aku lapar. Dan setelah ini, jangan muncul di hadapanku kalau tidak ada keperluan. Aku muak melihat orang-orang munafik sepertimu." Dehan bergerak menjauhi Alika. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya. Sementara Alika, terlihat menyeka airmatanya kasar lalu segera keluar dari ruangan Dehan. > To be continue....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN