"Mmph..." Gwiyomi melenguh, jemarinya meremas bahu kemeja Gavin saat pria itu menyesap bibirnya dengan rakus. Ciuman itu tidak lagi memiliki sisa-sisa kesabaran. Itu adalah luapan rasa lapar selama tiga tahun yang membeku. Gavin mengerang rendah, tangannya yang besar kini tidak lagi tinggal diam. Ia menyusup ke balik oversized sweater Gwiyomi, menyentuh kulit pinggang yang halus dan panas. Seolah tak cukup, Gavin menarik sweater itu melewati kepala Gwiyomi, menyisakan wanita itu dengan pakaian dalam tipis yang nyaris tak menutupi apa pun. "Gav... ahh..." Gwiyomi mendongakkan kepalanya saat Gavin mulai memindahkan ciumannya ke leher, memberikan hisapan kuat yang pasti akan meninggalkan jejak esok pagi. Napas Gavin memburu, ia melepaskan kemejanya sendiri dengan kasar hingga kancing-kanci

