2. Pertemuan

1523 Kata
Allena menuruni tangga rumahnya dengan pakaian yang sudah sangat rapih, rambut yang sudah tertata dan juga make up tipis yang menghiasi wajah cantiknya. Tak lupa pula dengan senyumannya yang merekah sempurna, terlihat begitu menawan dan semakin memesona.   “Selamat pagi, Mom.” Allena mengecup ringan pipi Thalia, Mommy-nya.   Wanita itu menoleh pada Allena seraya tersenyum dengan lembut. “Selamat pagi sayang, hari ini kau wawancara?”   Allena bergumam seraya mengangguk. “Hm, iya Mommy. Allena akan wawancara.”   Ya, hari ini Allena memang akan melakukan sesi wawancaranya untuk magang. Sehingga ia rela bangun sangat pagi demi memberikan penampilan sempurnanya untuk wawancara tersebut.   Thalia terkekeh pelan. “Pantas Daddy-mu terus mengeluh.”   Allena tersenyum ditengah kunyahannya. “Daddy berlebihan Mom. Papa saja mengijinkan Allena magang di tempat lain. Papa paham, jika Allena harus mandiri. Tapi Daddy hanya selalu mengeluh.” Ujarnya pelan.   Allena memang memiliki dua pasang orangtua. Papa dan Mama-nya, Daniel dan Tania adalah orangtua kandungnya. Sementara Darren dan Thalia adalah orangtua yang sudah merawatnya sejak kecil. Namun keposesifan Darren pada Allena justru melebihi posesifnya Daniel pada puteri kandungnya itu. Darren adalah gambaran ayah posesif yang tidak akan dengan mudah memberikan ijin pada anaknya. Justru daripada memberi ijin, Darren lebih banyak memberikan larangan pada puterinya itu. Namun meski demikian, Darren akan selalu memberikan apapun yang diminta Allena, dan pada akhirnya akan luluh oleh permintaan puterinya itu, walaupun awalnya sulit. Seperti magang kali ini, awalnya Darren dengan tegas mengatakan bahwa Allena harus magang di perusahaannya. Namun pada akhirnya dia luluh juga ketika Allena memohon hingga mogok makan selama satu malam.   Ya ... seperti itulah hubungan ayah dan anak itu. Pada dasarnya Darren tetap saja akan kalah oleh permintaan puteri kecilnya.   “Daddy hanya khawatir saja padamu Allena.” Ujar Darren yang baru saja bergabung di meja makan. “Kehidupan diluar sana itu lebih berbahaya, lebih dari yang kau bayangkan.” Lanjutnya. “Apalagi disekeliling Jason. Kehidupan Jason itu tak mudah. Dia memiliki sangat banyak musuh dan pesaing, banyak juga perempuan yang mencari perhatian padanya, dan mengincarnya untuk dijadikan kekasih. Bisa-bisa kau menjadi korban dari wabita-wanita itu, atau bahkan kau nanti dimanfaatkan mereka. Daddy hanya khawatir.”   Allena tersenyum kemudian meraih tangan kanan sang ayah. “Daddy, Daddy do’akan saja agar Allena baik-baik saja. Jangan selalu berpikir buruk. Karena setiap kejadian itu, baik atau buruknya tergantung pada pemikiran kita juga. Jika Daddy selalu berpikir begitu, bagaimana jika Allena bahaya sungguhan? Daddy harus berpikir positif. Allena akan baik-baik saja, Allena juga berjanji akan jadi Allena yang lebih mandiri dan segera bergabung di perusahaan.”   Darren menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlaha. Setelah itu tangan kanannya terulur, mengusak pelan puncak kepala puterinya itu. “Yasudah, makan. Kau akan terlambat jika hanya berbicara.”   Allena mengangguk patuh kemudian segera menyantap kembali sandwich ditangannya.   “Good morning.” Sapa seorang pemuda baru saja bergabung dan duduk disamping Allena.   “Tak biasanya kau sudah bangun Ren.” Ujar Thalia ketika melihat puteranya bergabung dimeja makan.   Aaren Davidson, pemuda itu adalah putera Darren dan Thalia. Adik Allena. Pemuda tinggi itu mencebik dengan mata yang mendelik tajam pada Allena. “Dia yang pagi-pagi sekali membangunkanku. Demi apa Mom, aku baru saja tidur dan dia sudah membangunkanku dengan sadisnya!”   “Kakak, Aaren.”Tegur Thalia.   Allena tersenyum lebar. “Kakak. Panggil aku Kakak.”   Aaren mendengus. Kemudian meraih sandwich yang baru saja Thalia buatkan.   “Kau juga tumben sekali membangunkan adikmu Allena.” Ujar Thalia. “Biasanya kau cuek saja, membiarkannya tidur.”   “Aaren akan mengantarku ke kantor untuk wawancara Mom. Aaren sudah berjanji, jika Allena diijinkan Dad magang ditempat itu. Aaren akan menjadi sopir Allena selama satu bulan penuh.” Allena tersenyum penuh kemenangan ketika melihat adiknya yang kembali mencebik.   Darren menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. “Baguslah kalau begitu. Antarkan Kakakmu Aaren. Pastikan tidak ada yang mengganggunya.”   Aaren menghembuskan nafasnya pelan, pasrah saja. “Iya Dad.”   Selesai sarapan Aaren benar-benar mengantar Allena menuju perusahaan Archilles dengan tenang, tanpa ada rajukan dan keluhan lagi. Lagipula ia juga sebenarnya sangat mengkhawatirkan kakaknya itu, meskipun terkadang sangat menyebalkan.   “Tak bisakah kau berhenti bermain game Aaren? Kau hanya menghabiskan waktu dan membuat matamu lelah. Jika kau terus gadang setiap malam, kau akan sakit.” Ujar Allena seraya menatap adiknya itu.   Meskipun mereka layaknya Kucing dan Anjing yang tak pernah terlihat akur, tapi diam-diam mereka memang saling memerhatikan. Keduanya secara diam-diam selalu saling membantu dan saling menolong. Hanya saja jarang sekali melakukan itu secara terang-terangan. Gengsi mereka berdua terlalu tinggi.   “Aku hanya bersenang-senang. Kau tau, manajemen bisnis bukan seleraku. Aku stress mengahdapinya.”   Allena menatap adiknya lagi lalu menghembuskan nafas panjang. “Tapi Ax sepertinya biasa saja.”   Aaren mendesis. “Apa sekarang kau mulai membanggakan calon suamimu itu?”   Allena memutar bola matanya. “Tidak. Siapa bilang? Lagipula siapa yang akan menikah dengan dia? No way! Dia bukan tipeku Ren.”   “Ya ya ya ... aku mengerti. Kau lebih suka pada Om-om sepeti Jason daripada brondong seperti Ax.”   Allena tersenyum samar seraya mengulurkan tangannya menepuk puncak kepala Ax.. “Pintar.”   “Berhenti di gerbang saja. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian.”   Aaren menghentikan mobilnya tepat di gerbang perusahaan Archilles. Ia menatap Kakaknya yang keluar dari dalam mobil itu sekilas kemudian tersenyum. “Good luck. Kabari aku jika ingin di jemput.”   “Hm. Thank you, hati-hati di jalan Ren.” Ujar Allena kemudian melambaikan tangannya pada sang adik.   Setelah memastikan adiknya pergi, Allena kemudian berbalik menatap gedung perusahaan Archilles. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya, setelah itu tersenyum lebar.   Jason, aku datang.   ***   “Allena! Disini.” Azura melambaikan tangannya.   Allena ynag sebelumnya nampak sangat kebingungan begitu memasuki lobi perusahaan itu, akhirnya ia tersenyum lebar ketika melihat Azura yang sudah duduk pada bangku tunggu.   “Banyak sekali yang datang.” Ujar Allena seraya mendudukkan dirinya. “Aku pikir hanya dari kampus kita yang datang. Tapi sepertinya kampus lain juga melakukan hal sama.”   “Karena ini Archilles Allen.” Bisik Azura. “Dan hanya Archilles yang membuatkan sesi wawancara dan juga seleksi seperti ini untuk magang. Perusahaan lain mana ada?”   Allena menghembuskan nafasnya. “Memang sih, di lain tempat mana ada yang seperti ini.”   Ketika keduanya berbicara, tanpa mereka sadari seorang pria tampan datang mendekati mereka. Membuat semua pasang mata mngikuti pergerakan pria itu hingga akhirnya berdiri dihadapan Allena. Ketika mendengar langkah kaki berhenti, barulah Allena mendongak. Sesaat kemudian senyumannya merekah sempurna.   “Jason!” seru Allena. “Ah maksud saya. Mr. Archilles.”   Pria itu, Jason Archilles. Pria yang sebelumnya terlihat sangat dingin itu, kini menarik ujung bibirnya sangat tipis ketika melihat tingkah Allena. Tangan kanannya bahkan terangkat, mengusak puncak kepala gadis itu beberapa saat.   Semua orang yang berada di tempat itu seketika saling berbisik tanpa terkecuali, bahkan karyawan yang bekerja di tempat itu saja memandang atasannya itu dengan tatapan seolah tak percaya dengan yang mereka lihat.   Jason yang biasanya tampak sangat dingin dan menakutkan, kini terlihat begitu lembut dan manis di depan seorang gadis, calon pemagang.   “Ayo. Kau tak perlu wawancara Allena. Ikut aku.”   Allena mengerjapkan matanya sesaat, ia memandang Jason kemudian memanang Azura secara bergantian, sejujurnya ia tak enak pada Azura. Mereka datang bersama, masa ia meninggalkan Azura begitu saja?   “Tapi ... Mr. Archilles.”   “Jadi tak mau ikut?”   “Mau!” Jawab Allena dengan cepat.   Jason kembali menarik ujung bibirnya. “Ayo.”   Allena menatap Azura dengan penuh rasa bersalah. Namun Azura kini justru tersenyum seraya menaik turunkan alis, berniat menggodanya.   “Jas ... Mr. Archilles. Tunggu.” Allena kemudian berjalan dengan cepat untuk mengejar Jason. Tanpa menyadari bisikan-bisikan dari orang lain yang sejak tadi memperhatikannya.   “Pasangan Daddy bersama Baby-nya. Mungkin lain kali kita memiliki kesempatan bersama Daddy seperti Mr. Archilles.”   “Hm ... ya. Sangat beruntung.”   Azura mendelik pada dua orang perempuan itu, kemudian mendengus pelan. Mereka tak tau saja, Allena itu siapa. Jika tau, mereka tak akan berani berbicara seperti itu.   ***   “Mr. Archilles.” Panggil Allena ketika ia memasuki sebuah lift bersama dengan Jason.   “Kenapa Allena?” Jason menghadap kearah Allena. Ia menatap gadis itu dengan iris mata kecoklatannya. “Ada masalah?”   Allena menghembuskan nafas pelan. “Aku tak enak pada yang lain. Mereka melakukan wawancara, tapi aku tidak.”   “Kau tak suka disini bersamaku?”   “Tidak! Maksudku, aku senang tapi aku hanya tak enak pada yang lain Mr. Archilles.” Allena menghindari tatapan Jason. Ia menunduk menatap sepasang sepatunya. Jujur saja, ia tak berharap bertemu dengan Jason dalam kondisi seperti ini. Ia pikir ia tak akan bertemu dengan Jason sepcepat ini. Tapi sepertinya harapan tinggal harapan. Karena kenyataannya pria itu sekarang sudah berada dihadapannya.   Jason menarik ujung bibirnya lagi seraya mengangkat tangannya, mengusak puncak kepala Allena ketika melihat gadis itu menunduk dengan pipi yang menggembung. “Dasar bayi. Tak perlu memikirkan itu. Abaikan saja mereka.”   Mata Allena mendelik menatap Jason. “Aku bukan bayi Mr. Archilles.”   Jason terkekeh pelan melihat dengusan menggemaskan itu. Allena memang selalu sama. Selalu sangat menggemaskan. “Bayi.”   “Mr. Archilles!”   “Jason saja ketika kita hanya berdua. Aku risih mendengarmu memanggil namaku seperti itu.” ujar Jason. Membuat mata Allena mengerjap beberapa saat.   “Tapi ... .”   Tangan Jason kembali terulur, kali ini mencubit hidung Allena. “Terlalu banyak membantah.” Ucap Jason. Bertepatan dengan itu pintu lift terbuka, tepat di lantai teratas gedung itu. Letak kantor Jason berada.   Allena berjalan disamping Jason, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ketika sampai di depan ruangan Jason, seorang wanita menyambut Jason. Dia membungkuk sesaat seraya menyapa lelaki itu.   “Selamat pagi Mr. Archilles.” Sapa wanita itu.   Jason bergumam pelan ketika memberi respon. Ia kemudian menatap kearah Allena lagi. “Allena ini Ms. Vishaka.  Zahira Vishaka, sekretarisku.”   Allena menatap Zahira yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Wanita itu terlihat sekali jika dia tidak menyukainya. Meskipun wanita itu tersenyum padanya, tapi tatapan wanita itu padanya benar-benar tak bisa berbohong. Dia tidak menyukainya.   “Allena, ayo masuk.” Ucap Jason yang sudah memasuki ruangannya.   Sementara itu Allena masih bertatapan dengan Zahira yang masih mempertahankan senyumannya. Ketika Jason memanggil barulah ia berpaling, mengikuti langkah pria itu. Namun ketika tanpa sengaja ia menoleh kembali kearah Zahira. Iris matanya menangkap tatapan tajam wanita itu diiringi dengan rahang yang mengatup rapat. Wanita itu ... terlihat sangat marah.   Tapi, mengapa dia marah? Toh dia hanya sekretaris bukan?   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN