“Bangun Agnia. Jangan malas.” Radika menyibak selimut yang membungkus tubuh sang putri. Agnia tampak asyik memeluk boneka panda kesayangan dan masih hanyut dalam tidur nyenyaknya. Perempuan itu sudah mendengar ucapan ayahnya. Tetapi, kasur yang sedang ditempati Agnia seakan-akan memberi pengaruh kuat bak magnet, dimana terus menarik perempuan itu untuk tetap terlelap dalam tidur yang pulas. Maklum, Agnia paling hanya dapat merasakan empuknya kasur selama dua sampai tiga hari saat pulang ke Bali, setiap enam bulan sekali. Jadi, wajar rasanya Agnia begitu enggan untuk bangun atau beranjak dari kasur. “Bangun, Nak.” Radika menggoyangkan pelan lengan putrinya sembari duduk di tepi ranjang. “Ngantuk, Ayah. Satu jam lagi,” pinta Agnia dengan nada suara rendah. Perempuan itu menarik kembali s

