Vine menguap beberapa kali lalu akhirnya jatuh tertidur. Vine tidak tidur semalaman karena menangisi nasib Alegria yang mengenaskan. Ia akan protes kepada Claudia nanti.
Tapi tiba-tiba sang empu telfon. Dan menyuruhnya segera bersiap-siap agar tidak terlambat ke gala premiere filmnya. Vine yang masih setengah sadar mengiyakannya dan pergi ke kamar mandi. Setelah itu barulah ia pergi ke tempat pemutaran filmnya.
Vine berusaha tak megantuk tapi tiba-tiba ada mobil di depannya yang berhenti mendadak. Lalu tak lama ada yang menabrak mobilnya hingga ia menabrak mobil depan. Vine hanya bisa menutup matanya dan berharap semoga ia selamat.
****❤****
Aku membuka mataku perlahan, indra pengelihatanku melihat kesekeliling bewarna putih. Dan ada aroma yang khas. Aroma rumah sakit. Aku menghela nafas. Syukurlah aku masih hidup. Ku fikir aku akan mati dalam kecelakaan beruntun itu. Aku melihat kesekelilingku. Dan aku sendirian. Tidak ada satu orang pun yang menemaniku. Aku tau keluargaku memang membenciku. Tapi aku tetaplah seorang anak dan saudara kandung dari mereka. Bisa-bisanya mereka tidak datang menjengukku. Apa mereka tidak khawatir?? Apa yang aku harapkan?? Hal itu tentu saja tidak akan mungkin terjadi. Keluargaku memang keterlaluan.
Tak lama pintu terbuka menampilkan seorang Dokter dan perawat masuk. Mereka memeriksaku.
“Nona Alegria apa anda bisa mendengar saya?” tanyanya.
Aku diam saja. Karena memang namaku bukan Alegria. Namaku Jade Vine.
“Nona Alegria.” panggilnya sekali lagi dengan menyentuhku.
Alegria... Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Aku menatapnya lalu tersenyum.
“Aku bisa mendengarmu Dok. Tapi, siapa itu Alegria?” tanyaku penasaran. Tapi aku tak asing dengan nama Alegria. Alegria... Alegria... Ah, ada satu nama Alegria Millian Dominique.
“Astaga... Apa nona mengalami amnesia?”
“Alegria adalah nama nona. Alegria Millian Dominique.”
“Apa???”
Aku tertawa. Dokter ini pasti sedang bercanda. Come on, ini pasti ulah Claudia. Astaga anak itu, iseng kali.
“Saya bukan Alegria.” kataku.
“Dokter, sebaiknya kita melakukan CT.Scan. Nona ini pasti mengalami amnesia.”
Aku hendak menutupi tawaku dan ketika aku mengangkat tanganku, aku terkejut. Kenapa tanganku seputih ini? Aku menyentuhnya. Sangat halus. Wah... Gila. Ini pasti bukan aku. Iya!! Ini pasti bukan. Mana mungkin aku punya kulit sehalus ini dan tangan seramping ini. Aku melihat kukuku juga bercat hitam panjang dan cantik.
Aku pun bangun lalu meraih handphone disampingku. Aku menggunakannya untuk mengaca. Tapi... Astaga. Kenapa dengan wajahku. Kenapa wajahku berubah?? Kenapa aku bisa jadi secantik ini?? Aku sih tidak masalah jika wajahku cantik tapi, ini bukannya terlalu keterlaluan. Ini sih aku jadi sangat cantik. Aku jamin kalau aku masuk kuliah nanti, Aku pasti akan menggeser posisi (Gina) sebagai orang terpopuler di kampus.
“Nona...”
“Yah?” sautku.
“Apa Nona baik-baik saja?” tanya Dokter itu khawatir.
“Boleh saya minta kaca?” tanyaku sopan.
Dokter itu menganguk. Tak lama seorang suster datang membawa kaca. Aku pun mengucapkan terimakasih dan mulai mengaca. Wajahku terlihat asing. Tapi, rambut hitam, bibir bewarna peach pucat dan mata sebiru batu Safir itu mengingatkanku pada seseorang.
“Alegria Millian Domique.” sebutku.
Dia seorang tokoh antagonis dari Villain dan Cinderella yang mati dengan tragis.
“Itu nama nona.” kata Dokter itu.
“Namaku?”
“Iya.” jawabnya.
Aku meletakan cermin itu. Lalu menatap Dokter dan perawat satu persatu.
“Apa ini kota Oxy??” tanyaku.
“Benar nona. Ini kota Oxy. Ibu kota terbesar Negara bagian Barat.” jawabnya.
Aku tertawa. Sepertinya aku gila sekarang. Aku ingat betul jika aku mengalami kecelakaan beruntun di jalan ketika akan menghadiri gala Premiere film Villain dan Cinderella. Masa aku sudah mati?? Tapi kenapa sekarang aku seolah-olah terperangkap didalam novel itu. Masa ini seperti mahnwa-mahnwa yang dibaca oleh Claudia sih. Masa aku bisa ngalamin itu?
Tapi kenapa diantara sejuta cerita konyol yang ada, kenapa aku harus masuk kedalam cerita ini?? Kenapa aku harus jadi Alegria?? Ishh... s**t!!
Kenapa aku tidak jadi orang yang beruntung sih. Ayolah, Jade Vine adalah orang yang di abaikan di keluarganya. Ia tidak pernah menerima cinta. Hidupnya menderita tapi kenapa sekarang aku harus mengalami hal yang lebih buruk dari Jade Vine. Kenapa aku harus jadi Alegria yang berakhir teragis?? Setidaknya Jade Vine tidak akan berakhir setragis itu.
Claudia... Kenapa kau harus membuat novel pilih kasih seperti ini?? Aku pun berbaring kembali.
“Nona...”
“Kembalilah... Aku sudah ingat dan baik-baik saja.” jawabku.
****❤****
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Akhirnya aku benar-benar sadar jika aku adalah Alegria Millian Dominique. Alegria tidak terlihat seperti di novel yang memiliki keluarga bahagia, cantik, mendapat semua perhatian dan mendapatkan semua yang ia inginkan. Alegria hanyalah orang yang kesepian dan haus perhatian.
Lihat saja. Seminggu di rumah sakit tidak ada yang menjenguknya. Aku sangat kasian terhadapmu Alegria. Aku tau kenapa kau jadi penjahat seperti itu. Karena aku sudah tau, lebih baik aku membantumu menghindari kematian dan mencari cara keluar dari dunia ini.
Aku menatap orang yang masuk ke kamarku dan membawakan semua barang-barangku. Dia tersenyum ramah. Lalu membantuku berjalan. Dia memiliki rambut coklat dan warna mata hijau. Aku mengenalnya. Deon. Satu-satunya orang yang mencintai Alegria. Satu-satunya orang yang memperhatikan Alegria. Dia orang yang melindungi Alegria sampai akhir hayatnya.
Aku juga ingat, Deon selalu mendapat hukuman atas perbuatan jahat Alegria. Deon selalu melindunginya. Alegria terlalu buta mengejar cinta Ziel. Karena sekarang aku Alegria. Aku tidak akan mengejar cinta Ziel lagi. Aku juga tidak akan membuat masalah dengan Deby. Aku akan hidup bahagia dan menyelamatkan Deon.
Deon membukakan pintu mobilku. Aku masuk. Setelah itu Deon menyetirnya.
“Deon.” panggilku pelan.
“Ya nona. Apa nona butuh sesuatu?” tanyanya lembut.
“Terimakasih.” ucapku tulus.
“Ya?” tanyanya bingung.
Jelas bingung. Alegria terkenal tidak tau terimakasih dan tidak pernah memberikan pujian. Sifatnya sangat buruk. Dia tempramental dan gampang cemburu.
“Terimakasih Deon.”
“Ah iya nona. Itu sudah tugas saya.” jawabnya.
Aku melihat telinganya yang bewarna merah. Aku tersenyum kecil melihatnya. Dia... Lucu. Alegria bisa-bisanya kamu tidak tau kalau Deon memperhatikanku.
“Deon.” panggilku lagi.
“Iya nona?”
“Maafkan sikapku selama ini ya... Maaf karena aku sudah bersikap jahat padamu.”
Deon menghentikan mobilnya lalu menatapku.
“Nona... Tolong jangan bicara seperti itu. Anda tidak pernah bersifat jahat kepada saya.” ucapnya pelan. Deon terlihat sangat khawatir.
Aku tersenyum.
Deon terlihat semakin khawatir. Jelas sajalah. Alegria juga jarang memberikan senyum. Sekalinya senyum. Senyum yang dimilikinya berbeda. Senyum itu selalu terlihat jahat.
“Deon aku tidak ingat apa yang terjadi padaku, kenapa aku harus dirawat?” tanyaku.
Deon selalu tau apa yang terjadi pada Alegria. Karena Deon sangat mencintai Alegria.
“Saya... Tapi nona. Berjanjilah pada saya. Tolong jangan marah.”
“Iya. Jadi katakan saja.” perintahku.
“Ini karena ulah tuan muda kedua.”
“Kakak kedua? Axel??”
“Benar nona. Tuan muda sengaja menyuruh orang untuk merusak mobil yang nona pakai tempo hari. Alhasil nona kecelakaan.”
“Sialan!! Dia benar-benar ingin membunuhku!” ucapku kesal.
“Nona tolong, jangan marah.” ucapnya khawatir.
Aku tersenyum. “Deon tenang saja. Aku tidak akan marah atau membuat ulah. Aku akan bersikap tenang dan pura-pura tidak tau.”
Deon menatapku tidak percaya. Tentu saja. Mana mungkin orang tempramental bisa langsung berubah dalam seminggu.