Nino meletakkan Ara tepat di tengah-tengah kasur. Ara memperhatikan setiap gerakan yang pria aneh itu lakukan. Kemudian, Nino mengambil beberapa tali di mana ia ikatkan pada tiang penyangga tempat tidur. Tidak hanya itu saja, pria itu juga mengikat talinya pada kaki Ara. Gesekan yang disebabkan oleh tali itu membuat Ara sedikit meringis di sana. “Apa yang kamu lakukan? Berhenti, Nino!” teriak Ara saat itu juga. Dia berharap Nino masih memiliki belas kasihan di sini. Namun, pria ini seakan buta dan tuli sehingga ia tak mempedulikan perkataan Ara lagi. “Sudah lama aku mengincarmu. Mendekatimu agar kamu bisa menjadi milikku. Tapi, kenapa pada akhirnya kamu menolakku? Ini adalah kali pertama ada wanita yang berani menolakku dan aku tak suka itu.” “AW!” Nino terlalu kencang mengikat talinya

