Bagian 14

1828 Kata
Kejadian di kantin malah semakin menjadi pembicaraan hangat di sekolah. Ini semakin membuat Ara tak berani berkeliaran. Padahal semua orang membicarakan keberanian Ray dan Gladis serta eratnya pertemanan mereka. Sekarang malah hal berbanding terbalik dengan keadaan Lia. Gadis itu malah menjadi topik perihal penolakan yang Ray lakukan. Lia tentu tidak terima dengan penolakan itu ditambah lagi dia dipermalukan di kantin. Ini benar-benar melukai harga diri Lia. Saat itu entah sebuah kebetulan atau kesialan, Ara berada di toilet yang sama dengan yang Lia gunakan. Lia yang baru keluar dari toilet pun memandang sinis Ara yang baru masuk ke dalam toilet. Ara hanya diam, dia langsung masuk ke dalam salah satu bilik di sana. Sekitar lima menit kemudian Ara baru keluar dan langsung dihadang oleh Lia saat itu juga. Tentu wajah marah tercetak jelas pada gadis itu. Ara mencoba untuk tak terintimidasi. Dia ingat jika kemarin teman-temannya membela dirinya, dia tak ingin mengecewakan ketiganya. "Apakah kamu sekarang senang?" tanya Lia. "Tentu saja! Ini kedua kalinya aku dipermalukan. Kamu senang bukan? Sayangnya kamu adalah orang pengecut yang bersembunyi di balik ketiak teman-temanmu, Ara. Apa kamu tak bisa menghadapi aku sendiri sehingga kamu mengirim teman-temanmu? Bahkan kamu meminta Ray untuk menolakku. Sungguh gadis yang licik." Ara menggeleng saat itu juga. "Tidak. Aku tidak pernah menyuruh mereka," bantah Ara langsung. "Maling mana ada yang ngaku. Oh iya, urusanku denganmu masih berlanjut. Aku benar-benar semakin tak menyukaimu karena kamulah alasan Ray menolak keberadaanku saat ini. Kamu menghancurkan semuanya, Ara. Setelah apa yang terjadi ini aku tak akan tinggal diam." Ara mengembuskan napas beratnya. Lia pasti tak akan berhenti mengganggu dirinya jika Ara tak menyudahi ini semua. "Lia ... bisakah kamu tidak bersikap seperti ini? Aku sudah menganggapmu seperti teman. Aku tidak ingin kita saling bermusuhan apalagi hanya karena seorang laki-laki. Aku tidak ingin mengambil Ray darimu. Aku hanya membantumu untuk paham jika Ray tidak menyukaimu. Hanya itu saja." "Itu sama saja dengan kamu menghancurkan kisah cintaku. Ini sama seperti yang akan kamu lakukan pada Gara dan Gladis, bukan? Aku tidak menyangka kamu selicik ini, Ara. Bahkan Gladis membelamu habis-habisan. Dan kamu mau mengkhianatinya," sahut gadis itu. "Tidak! Kamu tidak bisa menuduhkan hal itu padaku, Lia. Aku sama sekali tak ingin merebut Gara dari Gladis," bantah Ara. "Itu yang kamu katakan pada semua orang. Namun jauh di hatimu itu kamu ingin menjauhkan Gara dari Gladis." Ara terus menggeleng. Meskipun dia menyukai Gara, tetapi dia tak ingin Gladis pergi dari hidup Gara. Sekali lagi Ara mengingat bagaimana Ray dan Gladis membelanya di kantin. Kepercayaan mereka kepada Ara benar-benar tinggi. Tak ingin membuat masalah semakin memburuk, Ara pun memilih keluar saja dari toilet, namun Lia masih menghadangnya. "Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi, Lia," ucap Ara dengan sabar. Lia tersenyum remeh menatap angkuh sosok Ara di depannya. "Apa yang Gladis katakan sepertinya salah. Aku harus mencontoh dirimu untuk bisa mendapatkan Ray? Tentu saja aku tidak mau. Untuk apa aku meniru orang bermuka dua sepertimu. Baik di depan, licik di belakang. Apakah seperti ini cara orang tuamu mengajari anaknya?" "CUKUP, LIA!" Habis sudah kesabaran Ara di sini. Tentu jika hal ini terjadi pada kalian, pasti kalian sudah tak tahan lagi mendengar apa yang gadis itu katakan. "Aku selalu diam hingga sekarang bukan berarti apa yang kamu tuduhkan adalah sebuah kebenaran. Aku sama sekali tak berniat mengambil Gara dari Gladis, ataupun mencoba menarik perhatian Ray. Sepenuhnya aku menganggap mereka teman. Jika memang aku menyukai Gara, apakah itu sebuah dosa? Memang kenapa jika aku menyukai Ray juga, apakah itu menjadi masalah untukmu?" "Setelah apa yang kamu perbuat ini, aku sudah tak bisa tinggal diam lagi. Tuduhanmu akan diriku semakin menyebar ke mana-mana. Ini tak hanya merugikanku juga, tetapi teman-temanku. Aku tidak ingin kamu mengganggu mereka terus menerus. Jika ingin cepat selesai, selesaikan sekarang juga," sembur Ara tanpa henti. Bahkan dia tak peduli jika Lia akan murka sebentar lagi. Lia menampilkan senyum anehnya. "Aku sudah mendapatkan jawabannya sekarang. Jadi .... kamu benar-benar menyukai Gara?" "Memang kenapa jika aku menyukainya? Sudah cukup, Lia! Aku harap kamu berhenti sampai di sini. Aku sudah tak tahan lagi," jawab Ara dengan kesal. Ara pun segera keluar dari toilet meninggalkan Lia yang malah tertawa senang di tempat itu.  Ara masuk ke dalam kelas dengan wajah yang ditekuk. Tentu pertemuannya dengan Lia membuat mood Ara bertambah buruk. "Ada apa?" tanya Ray yang kebetulan berada di sana juga. Ara menggeleng pelan. Sudah cukup, dia tak ingin menyusahkan semua orang lagi. Semoga setelah ini Lia tak membuat gara-gara lagi kepadanya. Ray mengeluarkan air yang ia beli di kantin tadi, tentunya air itu masih dingin. "Minumlah," katanya. Ara menerima minuman itu dan menenggaknya sedikit. Ini cukup untuk mendinginkan kepalanya yang panas sejak tadi. "Pasti Lia mengganggumu lagi," tebak Ray yang tepat sasaran. Sepertinya gadis itu tak mau berhenti setelah Ray dan Gladis menyerangnya di kantin. "Aku sudah menyelesaikan permasalahan ini barusan. Aku harap dia tak kembali membuat masalah," terang Ara yang tak menyembunyikan apa pun dari Ray. "Semoga. Jika dia masih membuat masalah, aku akan mengurusnya lagi," sahut pemuda ini yang diiyakan saja oleh Ara. Tiba-tiba saja terdengar suara pengeras suara dihidupkan di dalam kelas Ara. Setiap kelas memiliki satu pengeras suara di mana itu terhubung ke area pusat sekolah. Biasanya digunakan untuk menyampaikan info penting. "Halo selamat pagi teman-teman." Ara dan Ray tampak mengernyit satu sama lain. Mereka familiar dengan suara ini. "Lia?" lirih Ray yang masih mampu Ara dengar. Ya, ini suara gadis itu di mana baru saja Ara berdebat kecil dengannya di toilet "Sebagian dari kalian pasti sudah mengenal suaraku ini. Tanpa berlama-lama aku ingin membagikan pengumuman bagus untuk kalian. Selamat menyimak." Lia mengakhiri pembicaraannya dan kemudian terdengar grasak grusuk di sana. "Aku sudah mendapatkan jawabannya sekarang. Jadi .... kamu benar-benar menyukai Gara?" Bola mata Ara membulat sempurna. Itu adalah pertanyaan yang Lia ajukan kepadanya tadi. Jadi, sifat licik Lia kembali muncul dengan merekam pembicaraan mereka. "Memang kenapa jika aku menyukainya? Sudah cukup, Lia! Aku harap kamu berhenti sampai di sini. Aku sudah tak tahan lagi." Dan sudah pasti jawaban itu akan muncul. Lia mengulang-ngulang rekaman itu beberapa kali. Hal ini tentu menimbulkan bisikan-bisikan lagi. Tentu mereka membicarakan Ara dan Gara kembali. Dan menganggap jika apa yang Lia katakan adalah sebuah kebenaran. "Dari pengakuan ini pasti kalian semua paham. Dan mungkin sebentar lagi aku akan menjadi orang yang dicari di sekolah. Tapi ... tenang saja, aku akan segera pergi dari sini haha." "Oh iya, untuk Ara aku ucapkan salam perpisahan. Dadahh." Seiring dengan akhir perkataan Lia itu, semua orang tampak heboh. Ray yang mengetahui situasi ini tidaklah baik langsung bergerak menuju ke luar kelas, lebih tepatnya mengunjungi si pelaku pembuat onar alias Lia. Ara yang masih duduk di atas kursinya pun perlahan dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya. Tidak hanya itu, berbagai pertanyaan mereka ajukan kepada gadis ini. "Jadi kamu beneran suka sama Gara?" "Bukannya Gara sekarang lagi dekat sama Gladis ya, Ra?" "Nggak ah, mereka belum jadian, loh." "Tapi Ray juga dekat sama Ara." "Jadi, apakah ini cinta segitiga?" "Bukan ih, ini kayak cinta segi empat." "Bagaimana dengan Lia? Ini akan menjadi cinta segi lima." "Atau malah segi banyak." "Jadi, kamu pilih Gara atau Ray?" Ara benar-benar pusing mendapat pertanyaan random dari teman-temannya itu. Ara tak mau menjawab, dia hanya menunduk dan tetap duduk di kursinya. Ia berharap Ray cepat datang dan membantunya saat ini. Ray langsung menyeret Lia ke tempat yang sepi. Sepertinya Ray lah yang datang pertama kali dan berhasil menangkap Lia saat itu. Lia yang mendapat perlakuan sedikit kasar dari pemuda ini pun tampak biasa saja dan masih mampu menampilkan senyum lebarnya. "Hai, Ray," sapa Lia dengan bersemangat. "Apa kamu sudah tidak waras, Lia?" sembur Ray yang saat itu tak berminat membalas sapaan gadis ini. "Haha. Kenapa, Ray? Sekarang kamu mau membela Ara lagi? Percuma juga, dia sudah jujur ke semua orang." "Bukan dia, tapi kamu! Jika kamu memiliki masalah dengan Ara bicarakan dengannya baik-baik. Bukan dengan mempermalukan dia seperti ini," tegur Ray yang sampai sekarang tak habis pikir dengan sifat aneh gadis yang baru ia kenal ini. "Ini impas untukku. Kalian sudah dua kali mempermalukanku di depan anak-anak. Jadi, apa salahnya jika aku membalas hal yang sama?" Kalau saja Lia bukan perempuan, maka Ray akan bertindak dengan tangannya. "Selamat! Kamu berhasil!" sindir Ray sembari menatap Lia dengan penuh kebencian di sana. "Dan ya, segeralah pergi dari sekolah ini dan jangan pernah kembali. Karena jika kamu kembali, maka aku akan turun tangan langsung saat itu juga," cecar pemuda ini. "Santai sedikit, Ray. Tanpa kamu suruh pun aku akan segera pergi dari sini. Ya, laki-laki di sekolah ini tidak asyik. Apalagi kamu dan Gara yang sama-sama bodohh." "Kalau saja kamu laki-laki, maka aku akan memberimu pelajaran yang keras, Lia." "Apakah aku terlihat takut? Sama sekali tidak. Oh iya, dari pada kamu terus mengancamku di sini, lebih baik kamu temani Ara. Sepertinya dia akan menjadi trending topik dan paling dibicarakan di dalam sekolah. Aku memberikan dia panggung yang besar di sekolah untuk menaikkan namanya." Menyebut nama Ara membuat Ray tersadar jika dia harus berada di sisi gadis itu. Tanpa berlama-lama Ray langsung berbalik dan melesat kembali ke kelas. Sedangkan Lia tampak puas dengan tindakan yang dia lakukan barusan. Di dalam kelas sendiri keadaan benar-benar memanas. Beberapa murid dari kelas sebelah juga memasuki kelas Ara. Gadis ini hanya bisa menunduk sembari menutup kedua telinganya. Pertanyaan-pertanyaan dari murid di sekolah ini benar-benar membuat Ara tertekan. "Minggir. Minggir. Minggir." Seorang pemuda berjalan cepat menembus kerumunan itu. Dan entah kenapa belum ada guru-guru yang membubarkan keributan ini. "WOI! GUE BILANG MINGGIR YA MINGGIR! b******k!" Makian dan teriakan itu mampu membuat semua murid yang didominasi oleh perempuan itu langsung terdiam. Pemuda tersebut berjalan menuju ke meja Ara, dan ajaibnya kerumunan itu memberinya jalan. Hingga sampailah si pemuda tepat di samping meja Ara. Gadis itu masih pada posisinya yang diam menunduk sembari menutupi telinganya. Perlahan, si pemuda pun mencoba melepaskan tangan yang menutupi telinga Ara itu. "Ayo, kita pergi," bisiknya tepat di telinga gadis ini. Seperti sebuah mantra, Ara pun menurut dan langsung berdiri. Pemuda itu menarik Ara menuju ke luar kelas. Keadaan cukup ramai di sana. "Gue minta kalian diam dan jangan bicara soal kegilaan Lia setelah ini. Kalau gue denger kalian ngomongin Ara, gue nggak akan tinggal diam," ancam pemuda itu dengan ketegasan yang ia miliki. Tentu semua orang terlihat diam. Ini adalah kali pertama bagi mereka melihat Gara marah. Ya, Gara menyelamatkan Ara kembali kali ini. Dan setelah kepergian Gara dan Ara, barulah Ray datang dengan kebingungan karena tak menemukan gadis itu. "Ke mana Ara?" tanyanya kepada salah satu murid di sana. "Dia dibawa Gara pergi ke sana," jawab murid itu yang mana langsung berbalik untuk kembali ke kelas. Gara ternyata membawa Ara ke UKS di mana tempat itu benar-benar sepi. Gara menuntun Ara untuk duduk di sana sedangkan dia mengambilkan gadis itu minum. Ara masih dalam keadaan syok dan tak tau harus menjelaskan kepada Gara. "Tenangkan dirimu dulu, nanti kita bicara setelah semuanya tenang," ucap Gara. Ara tak memberi respon apa pun, dia hanya meminum sedikit air yang Gara berikan padanya barusan. Dengan sabar Gara menunggu Ara di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN