Mike langsung menyesali apa yang keluar dari mulutnya itu. Bagaimana dia bisa bertindak begitu impulsif seperti itu?? Ini sama sekali seperti bukan dirinya. Mike yang biasa tidak akan pernah mempermalukan dirinya sendiri dengan mengajak seorang gadis yang baru dikenalnya untuk makan malam.
“Kau mengajakku makan malam di hari pertama kita berkenalan?” Adelle bertanya dengan shock dan Mike mengansumsikan jika gadis ini tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
“Ini bukan kencan atau semacamnya. Hanya makan malam karena kebetulan aku juga free malam ini.”
Oh, tentu saja dia bohong. Kebenarannya adalah dia harus ada di rumah sakit pukul sembilan malam. Akan tetapi dia tidak bisa membuang kesempatan untuk makan malam bersama Adelle. Atau lebih tepatnya dia tidak ingin.
“Ini bukan berarti kau flirting padaku atau semacamnya kan? Aku tidak tertarik pada hal semacam itu.”
Mike mengangkat alis. Apa maksud dari 'tidak tertarik' itu? Apa gadis ini seorang penyuka sesama jenis?
“Err ... dengar, aku minta maaf telah lancang mengajakmu makan malam, tetapi itu bukan berarti aku ingin mengajakmu kencan atau semacamnya. Kurasa mungkin kita bisa ... berteman?”
Mike tidak yakin dengan apa yang diucapkannya, tetapi setidaknya menjadi seorang teman bisa menjadi awal yang bagus untuknya.
“Hanya pastikan kau yang membayar semuanya karena aku makannya banyak.”
Mike tertawa dan menatap Adelle tak percaya. “Apa itu artinya ya?”
“Jemput aku jam tujuh.” Adelle membuka pintu mobilnya sebelum Mike sempat keluar dari mobil dan membuka pintu untuknya. “Dan terima kasih untuk tumpangannya, kau bisa pergi sekarang.” Gadis itu melambai dan berbalik tanpa menoleh lagi.
What the hell?? Dia diusir? Benar-benar gadis yang aneh! Adelle lain daripada yang lain. Dan ini adalah pertama kalinya Mike diusir oleh seorang gadis.
Kembali tertawa, Mike mengarahkan mobilnya kembali ke jalan untuk pulang menuju rumahnya. Rasa lelahnya hilang seketika. Dia bahkan tidak sabar menunggu malam tiba.
Okey, ini benar-benar semacam bukan Mike. Seumur hidupnya, dia tidak pernah tertarik pada seorang gadis. Ini bukan berarti dia tidak normal, tetapi jika kau tumbuh diantara keluarga yang kacau, kau akan mengerti. Mike telah melihat contoh ketidakwarasan yang disebabkan oleh satu hal yang disebut banyak orang dengan nama cinta. Mungkin bagi orang lain atau anak lain, mereka akan bangga memiliki seorang ibu yang begitu mencintai ayah mereka. Namun tidak dengan Mike.
Ibunya dulu adalah seorang gadis yang cerdas dan sangat mandiri. Dia bahkan hampir menyelesaikan sekolah dokternya sebelum wanita itu bertemu ayahnya yang kala itu adalah seorang artis muda terkenal di Finlandia. Buta karena cinta, hidup ibunya berubah seratus delapan puluh derajat saat ibunya mengandungnya dan Erika. Wanita itu tidak menyelesaikan sekolah dokternya. Kedua orang tua Mike menikah tetapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Karier ayahnya perlahan meredup hingga pria itu menjadi peminum dan penjudi.
Sejak Mike kecil, dia melihat bagaimana ibunya bekerja di sebuah klinik kecil untuk menghidupi mereka. Dia dan Erika akan dititipkan pada nenek mereka hingga sang ibu menjemputnya. Ayahnya tidak pernah bekerja. Honornya selama menjadi artis habis di meja judi. Setelah uangnya habis, dia akan meminta secara paksa pada ibunya.
Sedikit demi sedikit harta mereka habis terjual. Merupakan suatu keajaiban bagi Mike, dia tetap bisa belajar hingga mendapatkan beasiswa untuk kuliah dokternya. Beasiswa yang seharusnya dia nikmati bersama Erika jika saja ayahnya yang mabuk tidak menembaknya.
Mike menghela napas dan mematikan mesin mobilnya. Sekuat apapun dia mencoba, dia tidak akan bisa memaafkan ayahnya. Ayahnya hanyalah ba****an egois yang tidak berguna. Mike masuk ke apartemennya yang sepi dan melempar tasnya ke sofa. Dia butuh kopi. Atau mungkin sedikit alkohol untuk menjernihkan pikirannya. Meraih botol minumannya, dia menuang sedikit ke dalam gelas dan kembali memasukkan botol itu ke lemari. Dia selalu membatasi diri meminum alkohol.
“Arthur, aku butuh bantuanmu,” katanya tanpa basa-basi saat Arthur mengangkat teleponnya. Selain Andra dan Gab, Arthur adalah orang terdekatnya di rumah sakit. Seorang teman lain yang dimilikinya.
“Ada apa?” Tanya Arthur dengan suara mengantuk.
“Aku butuh bantuanmu untuk bertukar shift denganku malam ini.”
“Tidak biasanya kau meminta ganti shift secara mendadak.”
“Aku tahu dan aku minta maaf karena mengacaukan liburanmu. Tetapi aku benar-benar butuh bantuanmu kali ini. Please?”
Arthur mengerang di ujung sana. ”Gadisku tidak akan menyukai ini.”
Sesaat rasa bersalah memenuhi rongga d**a Mike. Akan tetapi dia sangat berharap Arthur bisa membantunya.
“Ada apa, Honey?”
Mike mendengar Lucy -tunangan Arthur- bertanya di latar belakang. Dia diam untuk mendengarkan.
“Aku harus masuk kerja malam ini, Luce. Aku ...”
“Arthur, boleh aku bicara dengan Lucy?” Mike menyela dan sesaat dia mendengar suara merdu Lucy menyapanya. “Lucy, aku minta maaf telah mengacaukan malam kalian, tetapi aku ...”
“Tidak apa-apa, Dokter. Arthur akan ada di rumah sakit malam ini.”
Mata Mike berbinar mendengarnya. “Oh benarkah?? Kau benar-benar malaikat, Lucy! Aku berhutang satu padamu, Manis.”
Lucy terkikik di seberang sana. ”Aku senang bisa membantumu, Seksi.”
“Hei, kau menyebut pria lain seksi di depanku, Luce?”
“Kau tetap yang paling seksi, Babe.”
Mike tertawa mendengar pertengkaran mereka. Dia sudah biasa mendengar Lucy memanggilnya seksi.
“Kau berhutang satu padaku, Frederick! Sekarang tutup teleponmu dan biarkan aku menghukum gadisku yang nakal ini.”
Mike kembali tertawa dan menutup teleponnya. Oke, tunggu aku malam ini, Curly!
~~~
Dengan kesal, Adelle melempar pakaiannya ke kasur yang sekarang terlihat seperti tumpukan baju bekas yang siap dibakar. Sudah dua jam dan dia belum punya sesuatu untuk dipakai! Semua yang dimilikinya adalah kaus dan celana jeans. Tidak ada dress ataupun gaun. Ini konyol. Bagaimana seorang gadis bahkan tidak memiliki satu gaun pun??
Adelle menjatuhkan tubuh di tumpukan kausnya di ranjang dan menarik napas. Oke, ini bukan kencan, tetapi walaupun ini bukan kencan, apa itu berarti dia harus memakai jeans dan kaus?? Tidak biasakah dia terlihat 'normal' seperti seorang gadis pada umumnya?
Ponselnya berbunyi dan dia menggapai-gapai di antara timbunan kausnya. Matanya melebar melihat nama Darla terpampang di layar.
“Ha ...”
“Aku lima menit lagi sampai di apartemenmu. Buka pintu bawah!”
Adelle menggerutu saat Darla dengan sangat sopannya langsung menutup teleponnya. Beranjak dari kasurnya, dia memencet tombol untuk membuka pintu bawah dan membuka kunci pintu apartemennya lalu kembali ke kamar.
Dua menit kemudian dia mendengar pintu terbuka dan kembali terkunci.
“Adelle?”
“Di kamar!” Adelle berteriak dan sesat kemudian dia mendengar suara terkesiap saat pintu kamarnya dibuka.
“Kau menjadi pengumpul barang bekas sekarang?”
Adelle melotot dan melempar satu kausnya pada mata hijau Darla yang melebar melihat kekacauan di kamarnya.
“Aku tidak punya rok! Atau gaun. Atau dress!!” Jerit Adelle dengan kesal.
Darla kembali terkesiap dan kali ini duduk di sampingnya, mengguncang bahunya. “Ada angin apa tiba-tiba kau membutuhkan sebuah gaun??”
Wajah Adelle memerah. Dia harus mengatakan ini pada Darla. Sial!
“Aku... aku ...”
“Cepat katakan apa yang terjadi, Braun!!” Desak Darla dengan tidak sabar.
Adelle menarik napasnya. “Kau ingat dosen tamu yang mengajar di kelas kita bulan lalu?”
“Dosen seksi itu?? Apa yang terjadi??” Dia bertanya dengan antusias.
“Mmm... dia... dia mengajakku keluar malam ini.”
Darla menjerit hingga Adelle menyumpalkan satu kausnya di mulut Darla.
“Sialan!” Dia menyumpah dan kembali melempar kaus itu. “Dokter seksi itu mengajakmu kencan??”
Adelle menggeleng. “Bukan kencan, Darla. Ini hanya makan malam.”
Mata hijau Darla menyipit. “Dan sahabat macam apa kau menyembunyikan hal ini dariku? Sejak kapan kau mengenalnya?”
Adelle mendesah dan menarik rambutnya dengan kesal. “Aku bertemu dengannya beberapa kali sesudah di kampus,” katanya lirih.
“Di mana?”
“Di kafe baru Karl.”
Darla kembali menjerit. “Siaal! Kenapa bukan aku yang bisa menyanyi!!”
Adelle tertawa. Darla itu sangat cantik dan fashionable, tapi satu kekurangannya, suaranya benar-benar payah dalam menyanyi.
“Lalu kalian berkenalan dan dia tertarik padamu dan kalian berkencan?”
Adelle menggeleng. “Tidak seperti itu,” ucapnya hingga akhirnya dia menceritakan bagaimana mereka bertemu pagi ini di kafe milik Hilda dan berakhir dengan kausnya yang bertebaran di ranjangnya seperti saat ini.
“Sudah berulang kali kubilang padamu untuk membeli gaun kan?” Mata hijaunya kembali melotot pada tumpukan kaus dan celana jeansnya yang Darla sebut sebagai sampah.
“Ini bukan kencan, Darl. Ini ...”
“Itu sama saja, Bodoh! Oh God, apa yang harus kulakukan padamu, Keriting!” Darla bangkit dari duduknya dan kembali meraih tasnya. “Ikut aku!” Dia menarik tangan Adelle untuk bangun dan menyeretnya keluar kamar.
“Kita mau ke mana?”
Darla menoleh saat satu tangannya meraih pintu depan. “I'll be your fairy godmother.”
....
Adelle mendesah dan mengamati wajahnya di cermin. “Apa ini tidak terlalu berlebihan, Darla?”
“Ya Tuhan, Adellina! Sudah berapa kali kau menanyakan itu?” Darla menjerit dengan kesal.
Adelle cemberut. Darla telah 'menyulapnya' menjadi benar-benar seorang gadis.
Make up, lipstick, kuteks. Adelle merasa ini terlalu berlebihan untuk sebuah makan malam. Bagaimana jika nanti Mike menertawakannya? Mike bilang ini bukan kencan, tapi dia berdandan seolah akan pergi ke pesta.
“Ini pengalaman pertamamu keluar dengan seorang pria. Pria yang amat sangat seksi kalau boleh kutambahkan. Kau harus tampil sempurna,” akhirnya Adelle selesai dengan kuteksnya.
“Tapi ini bukan kencan.”
“Kencan atau bukan, ini harus berkesan untukmu.” Darla bangkit dan membuka lemari bajunya.
Darla dan Adelle adalah kutub utara dan kutub selatan. Jika lemari Adelle penuh dengan kaus dan celana jeans, isi lemari Darla adalah kebalikannya. Semua yang para gadis butuhkan ada dalam lemari Darla.
“Ayo ganti pakaianmu itu,” katanya dengan nada jijik yang dibuat-buat saat dirinya melihat kaus yang Adelle pakai.
Adelle memutar bola matanya dan meraih dress hitam yang disodorkan Darla. Dia menarik napas lega. Setidaknya Darla tidak menyuruhnya memakai gaun kurang bahan seperti yang biasa Darla pakai. Adelle memakai gaun itu dan langsung menyukainya.
Gaun itu sederhana saja. Tidak ada hiasan atau ornamen apapun. Polos dan simpel.
Gaun itu memeluk erat tubuhnya dan jatuh tepat di lututnya. Bahan satinnya yang halus dan dingin membelai kulit tubuhnya dengan lembut. Sial, seharusnya dia memiliki satu gaun yang seperti ini!
Suara siulan terdengar saat dia membuka pintu kamar mandi.
“Kau tidak bilang akan ada penonton, Darla.” Adelle cemberut melihat Nate, kekasih Darla, berbaring di ranjang Darla.
Darla dan Nate tertawa bersamaan.
“Dia merindukanku. Jadi saat aku tahu kau akan berkencan, aku menyuruhnya kemari. Tadinya aku ingin nonton denganmu.”
“Aku tidak berkencan!” Adelle melotot padanya.
“Ya, ya, terserah apa katamu. Ayo, kami antar kau pulang sebelum dokter tampan itu sampai di rumahmu.”
Adelle mengikuti Darla dan Nate keluar dari apartemen Darla. Dia duduk dengan gelisah di bangku belakang mobil Nate.
“Tenanglah. Kau sempurna,” Darla menoleh dan tersenyum padanya.
“Yeah, aku tidak menyangka kau bisa secantik ini saat memakai rok, Adelle. Jika aku tahu dari dulu, aku sudah memacarimu.”
Darla melotot dan memukul lengan Nate dengan main-main. Adelle tertawa dan gugupnya sedikit berkurang karena candaan Nate.
“Beritahu aku cerita kencan pertamamu ya,” Darla memeluknya dan mencium pipinya saat mereka sampai di apartemen Adelle.
Adelle melambai dengan gugup saat mereka pergi dari hadapannya. Masih ada waktu setengah jam sebelum Mike datang. Dia butuh minum untuk menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan.
Seumur hidupnya, baru kali ini dia keluar dengan seorang pria. Tidak pernah ada pria yang begitu tertarik padanya hingga mau mengajaknya keluar seperti ini. Dia sendiri bingung atas dasar apa Mike mengajaknya keluar.
Bunyi bel interkom menyadarkan lamunannya dan dia merapikan roknya. Dia menarik napas panjang sebelum membuka pintu dan turun ke bawah.
Napasnya tertahan begitu menjejakkan kakinya di lantai bawah. Di sana, di hadapannya, berdiri pria paling seksi yang pernah dia lihat dengan celana jeans berwarna hijau dan kemeja biru yang membungkus tubuh tegapnya. Dua kancing teratasnya dibuka dan rambut halus dadanya mengintip dari baliknya. Sebuah kacamata terselip di sana.
Adelle berdiri dengan kaki goyah. Bagaimana seseorang bisa terlihat 'selezat' itu?? Dia mengamati dirinya sendiri dan merasa buruk. Sangat buruk. Dalam konteks apapun, dia tidak akan pernah cocok bersanding dengan adonis tampan ini.
“Hai,” Mike menyapanya dan mendekat. Senyum tersungging di bibirnya.
“Ha... hai,” jawabnya dengan gugup.
“Kau cantik.”
Dua kata itu membuatnya mendongak dengan kaget. Apa dia tidak salah dengar?
“Tidak, kau tidak salah dengar,” ucap Mike dengan terkekeh.
Adelle menunduk dengan wajah merah saat menyadari dia menyuarakan pikirannya dengan keras.
“Siap untuk pergi?”
Adelle mengangguk dan pria itu membuka mobilnya yang berbeda dari yang digunakannya pagi tadi. Kali ini sebuah Mercedes warna hitam mengkilap yang tampak sangat mewah. Lagi-lagi Adelle merasa buruk!
Mereka berkendara dalam hening. Adelle terlalu gugup untuk memulai pembicaraan. Dia tidak pernah sedekat ini dengan pria. Dia tidak tahu harus membicarakan apa.
Mereka sampai di sebuah restoran yang (lagi-lagi) terlihat sangat mewah bagi Adelle. Dia meremas tangannya dengan gugup di pangkuannya. Apa dia pantas datang kemari? Oke, dia memang berasal dari keluarga kaya di tempat asalnya sana, tetapi sudah cukup lama Adelle hidup dalam keadaan yang sangat sederhana.
Mike membuka pintu dan mengulurkan tangannya. Adelle hanya memandangnya.
“Adelle? Kau tidak mau turun?” Dia menunduk menatapnya dengan heran.
“Aku... aku... apa kau tidak malu mengajakku ke dalam?”
Kedua alis Mike bertaut. “Malu? Kenapa aku harus malu?”
Adelle melihat dirinya dan kembali menatap Mike. Berharap Mike mengerti tanpa dia harus mengatakannya.
Mike tertawa pelan, tampak paham dengan ketakutannya. “Kau sempurna. Ayo turun sekarang karena aku sangat kelaparan.”
Adelle mendesah dan akhirnya meraih tangan Mike yang terulur. Gelenyar aneh mengaliri tubuhnya saat tangan mereka bersentuhan. Dia ingin menarik tangannya namun Mike menahannya dengan menggenggamnya lembut.
“Reservasi atas nama Michael Jonathan Frederick,” ucapnya saat salah seorang pelayan membuka pintu untuk mereka.
“Kau sudah memesan?” Adelle berbisik dengan kaget. Dia tahu ini restoran mahal, dan sebuah reservasi tentu akan membuatnya semakin mahal.
Mike tersenyum padanya dan mengangguk. “Aku ingin makan malam pertama kita istimewa.”
Hati Adelle meleleh. Oh Tuhan, pria ini manis sekali. Seumur hidup, tidak pernah ada pria yang memperlakukannya secara istimewa seperti ini. Mereka duduk berhadapan di sebuah meja kayu cantik di ruangan private. Seorang pelayan berseragam menyerahkan buku menu untuknya. Adelle menerimanya dan membelalakkan matanya. Sial, semua makanannya sangat mahal!
Menahan wajahnya di balik buku menu, dia menunduk di atas meja dan berbisik pada Mike. “Kau yang akan membayar kan?”
Mike tertawa dan mengangguk. “Pesan apa saja yang ingin kau makan.”
Adelle tersenyum lebar dan mulai memesan apa yang ingin dia makan.
“Aku senang pergi makan malam dengan gadis yang suka makan,” ujar Mike setelah pelayan pergi.
Wajah Adelle memerah dan dia tersenyum malu-malu pada Mike. “Aku agak gugup dengan makan malam ini hingga tidak bisa makan, dan sekarang aku benar-benar kelaparan,” akunya dengan jujur.
Mike tertawa menampakkan barisan giginya yang rapi. “Kau gadis menarik, Adelle. Aku suka gadis sepertimu.”
Adelle terkesiap. Apa artinya itu??