"Kenapa wajahmu memerah? Apa kamu sakit?" Devan menempelkan punggung tangannya ke kening Seika. Suhu tubuh gadis itu ternyata normal, tapi entah kenapa wajah Seika terlihat sangat memerah sekarang. Seika menepis tangan Devan dari atas keningnya dengan kesar. Dia tidak sudi disentuh lelaki itu. "Kenapa kamu diam saja, Seika? Apa kamu memikirkan ciuman tadi?" tanya Devan tanpa dosa. Seika menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk meredam emosinya agar tidak menampar wajah Devan yang kelewat tampan. Kenapa mulut Devan enteng sekali menanyakan hal seperti itu pada dirinya? Apa Devan tidak malu? "Sudah, jangan dipikirkan. Anggap saja saya tadi khilaf," ucap Devan tanpa memedulikan betapa marahnya Seika sekarang. "Bapak bilang spa?! Khilaf?" teriak Seika tanpa sadar hing

