"Kenapa kamu memanggil kakak, mama?"
"Karena Cherry suka," jawab anak itu polos.
"Panggil kak Seika saja, ya?" Seika mencoba membujuk Cherry karena dia merasa tidak nyaman dipanggil mama.
"Nggak mau. Cherry suka panggil mama."
"Terserah kamu saja lah." Seika mengangkat kedua bahunya ke atas. Sepertinya dia sudah menyerah menyuruh Cherry agar berhenti memanggil mama.
"Kenapa kamu bisa sampai di sini? Orang tua kamu mana?"
Cherry menatap Seika dengan kening berkerut dalam. Sepertinya anak itu tidak paham dengan apa yang Seika katakan.
Seika menepuk keningnya sendiri lumayan keras setelah menyadari kebodohannya karena dia lupa jika sedang berhadapan dengan anak kecil seperti Cherry.
"Maaf kalau kakak membuatmu bingung. Kakak bantu cari mama kamu, ya?"
"Cherry nggak punya mama, Cherry cuma punya papa sama nenek."
Seika terkejut mendengar ucapan Cherry barusan karena anak itu ternyata tidak punya ibu. "Maaf, kakak tidak tahu. Kalau begitu kakak bantu cari papa sama nenek kamu, ya? Kamu bisa jalan nggak?"
Cherry menggeleng pelan membuat Seika sontak menghela napas panjang. Dia terpaksa menggendong Cherry karena tidak tega membiarkan anak itu berjalan sendirian.
Sementara itu Diana terlihat sangat bingung karena cucu kesayangannya hilang. Dia tidak menyadari jika Cherry terpisah dari rombongan karena terlalu asyik bergosip dengan ibu-ibu yang lain.
"Aduh, Cherry. Kamu di mana ...?" desahnya terdengar khawatir. Dia sudah meminta bantuan pada guru dan wali murid yang lain untuk mencari Cherry. Namun, Cherry sampai sekarang belum ketemu.
Bagaimana kalau Cherry diculik?
"Astaga!" Diana semakin panik. Dia pun mengambil ponsel dari dalam tas karena ingin menelepon Devan.
"Halo, Devan. Cherry hilang!"
***
"APA?" Diana sontak menjauhkan ponselnya karena Devan berteriak keras. Dia sudah menduga jika Devan pasti akan terkejut setelah mendengar kabar tersebut.
"Mama sudah mencari Cherry ke mana-mana, tapi dia tidak ketemu. Lebih baik kamu ke sini sekarang!" Diana menutup sambungan teleponnya dengan paksa sebelum Devan semakin marah pada dirinya.
Devan langsung meninggalkan ruangan rapat begitu saja. Dia tidak peduli akan kehilangan proyek besar karena yang ada pikirannya sekarang hanya Cherry. Lagi pula uang masih bisa dia cari.
Devan menyuruh Pramudya agar mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Cherry.
"Baik, Tuan."
Devan mengemudikan Mercedes Benz G65 miliknya dengan kencang membelah jalanan ibu kota. Tiga puluh menit dia sudah tiba di taman. Tanpa menunggu waktu lama dia segera menghampiri Diana.
"Mama!" Devan menatap Diana dengan tajam. Amarah tergambar jelas di wajah tampannya karena sang ibu sudah lalai menjaga putinya hingga hilang.
Diana hanya bisa menunduk sambil meremas kesepuluh jemari tangannya. Dia tidak berani menatap Devan karena takut.
"Maaf ...."
Devan menghela napas panjang lantas mengedarkan pandangan sekitar. Devan tidak bisa membayangkan Cherry pasti merasa sangat ketakutan berada di luar sendirian.
"Cepat cari Cherry!" perintahnya semua anak buahnya.
***
Seika berulang kali menarik napas panjang. Dia merasa sangat lelah karena menggendong Cherry lumayan lama.
"Mama, capek?" tanya Cherry polos.
Rasanya Seika ingin sekali mengatakan 'iya'. Namun, dia tidak ingin menyakiti perasaan Cherry.
"Tidak. Kakak akan bantu mencari papa dan nenek kamu sampai ketemu."
Tubuh Seika sontak menegang, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak karena lima orang berpakaian serba hitam tiba-tiba berdiri mengelilinginya.
"Ada apa ini? Siapa kalian?" Seika tanpa sadar mendekap Cherry semakin erat. Dia takut kelima orang tersebut memiliki niat yang jahat pada dirinya.
Salah satu dari kelima orang tersebut tiba-tiba menarik Cherry dengan paksa dari gendongannya. Gadis kecil itu sontak menangis keras karena takut.
"Hei, lepaskan aku!" teriak Seika karena dua orang lelaki berpakaian serba hitam tersebut memegang kedua tangannya dengan erat.
"Nona Cherry sudah ketemu Tuan," ucap lelaki yang memakai kaca mata hitam.
"Apa yang kalian lakukan, hah? Aku tidak akan memaafkan kalian karena sudah membuat Cherry menangis?!" Seika berusaha melepas diri karena ingin menyelamatkan Cherry. Namun, kedua lelaki itu malah memegang tangannya semakin erat.
"Papa!" Cherry berteriak keras saat melihat Devan dan langsung minta digendong oleh papanya itu.
"Syukurlah Cherry sudah ketemu." Diana sontak mengembuskan napas lega karena Cherry sudah ketemu. Wanita paruh baya itu tidak bisa membayangkan apa yang akan Devan lakukan pada dirinya jika Cherry tidak pernah ditemukan. Bisa-bisa Devan akan mengirimnya ke panti jompo.
"Sepertinya wanita ini ingin menculik Nona Cherry, Tuan," ucap lelaki berbaju hitam yang memiliki tubuh paling kekar.
"Aku bukan penculik, Bodoh!" Seika menginjak kaki lelaki tersebut lumayan keras hingga meringis kesakitan karena sudah menuduhnya sembarangan.
"Mama bukan penculik, Pa. Tolong lepasin, Mama!" rengek Cherry.
"Mama?" Devan mengerutkan dahi mendengar ucapan Cherry barusan. Siapa yang dipanggil mama oleh Cherry?
Apa mungkin ....
Devan sontak menatap gadis yang berdiri tidak jauh darinya. Tidak mungkin gadis yang penampilannya mirip preman pasar ini dipanggil mama oleh Cherry.
"Papa lepasin, Mama!"
Devan tergagap karena Cherry berteriak keras. Dia pun menyuruh kedua anak buahnya untuk melepaskan Seika.
"Lepaskan dia!"
Seika menatap kelima anak buah Devan dengan kesal. Padahal dia bukan orang jahat, tapi mereka memperlakukannya seperti penjahat.
Menyebalakan!
Cherry tiba-tiba minta turun dari gendongan Devan lalu menghampiri Seika dan mengulurkan kedua tangannya.
"Mama, gendong ...."
Seika sebenarnya merasa sangat lelah, tapi dia tidak tega jika menolak keinginan Cherry. Akhirnya dia terpaksa menggendong anak itu lagi.
"Pantas saja kamu tidak mau mama jodohin sama Siska. Ternyata kamu sudah punya calon mama untuk Cherry." Diana menghampiri Seika dengan wajah berbinar. Wanita itu merasa sangat senang karena dia sebentar lagi akan mempunyai seorang menantu.
Devan terlihat bingung karena dia tidak paham dengan apa yang mamanya katakan. Pergi ke mana otak cerdasnya?
"Nenek, kenalkan. Ini mamanya, Cherry." Cherry dengan polos memperkenalkan Seika sebagai mamanya pada Diana. Gadis kecil itu terlihat sangat senang karena akhirnya menemukan sosok ibu yang selama ini dia idamkan.
Seika hanya bisa tersenyum canggung. "Maaf, Tante. Nama saya Seika. Saya tadi tidak sengaja menemukan Angel sendirian."
"Nama saya Diana. Kamu ternyata masih muda, ya. Saya nggak menyangka kalau anak saya memilih kamu menjadi calon mama Cherry."
Kening Seika berkerut dalam mendengar ucapan Diana barusan. Sepertinya wanita itu salah paham karena dia tidak mempunyai hubungan apa pun dengan papanya Cherry. Dia bahkan baru bertemu dengan lelaki itu hari ini.
"Mama jangan asal bicara. Dia bukan calon istriku, Ma!" ucap Devan kesal.
Seika sontak menatap Devan. Lelaki itu memiliki alis tebal, sepasang mata bulat, rahang kokoh, serta hidung mancung. Satu hal untuk menggambarkan wajah Devan. Tampan.
"Tapi Cherry memanggil Seika mama," bantah Diana. Dia tetap yakin jika Seika adalah calon mama tiri Cherry.
"Mama jangan tertipu wajah polosnya! Sekarang banyak kan, orang jahat yang berpura-pura baik?" Devan tersenyum miring. Dia tidak akan tertipu dengan gadis licik seperti Seika yang sudah meracuni pikiran Cherry agar mau memanggil mama.
Seika menatap Devan dengan kesal. Rasanya dia ingin sekali menampar wajah Devan karena sudah menuduhnya sembarangan. Padahal dia tidak punya niat sedikit pun untuk menipu mereka. Orang kaya seperti Devan memang selalu memandang rendah orang miskin seperti dirinya.