Musim panen tiba. Hamparan padi yang selama ini tumbuh subur di bawah sinar matahari kini mulai menguning sempurna, melambai lembut setiap kali angin berhembus. Desa itu tampak hidup dan ramai. Setiap sudut sawah dipenuhi tawa dan teriakan semangat para petani yang memanen hasil kerja keras berbulan-bulan. Winona ikut ke sawah pagi itu, mengenakan topi caping milik Ibu Lastri dan kemeja kotak-kotak milik Abimanyu yang kebesaran di tubuhnya. Sinar matahari memantul di wajahnya yang berpeluh, tapi senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Gadis itu berdiri di tepi pematang, menyaksikan Abimanyu dan para lelaki lain memotong batang padi dengan sabit, lalu mengikatnya dalam ikatan besar-besar. Meskipun menurut bapak mertuanya jika panen kali ini tidak sebaik panen lalu, sudah diperkirakan jika

