Bab 8. Pagi Pertama

1026 Kata
Suara ayam berkokok bersahut-sahutan di kejauhan. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, menyusup lewat celah-celah dinding kayu. Cahaya matahari belum sepenuhnya naik, namun langit sudah mulai berwarna jingga keemasan. Abimanyu terbangun lebih dulu, seperti kebiasaannya sejak kecil. Ia menatap langit-langit kamar sebentar, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil jam di meja kecil di samping tempat tidur. Pukul enam lewat tiga belas. Waktu yang biasa ia gunakan untuk ke sawah. Namun, sesuatu yang lembut di lengannya membuat gerakannya terhenti. Pria itu menunduk dan langsung terdiam. Di sebelahnya, Winona tertidur pulas. Rambut panjangnya sedikit berantakan, wajahnya tenang, dan yang membuat jantung Abimanyu berdetak lebih cepat adalah tangan Winona yang melingkar di lengannya, memeluknya seperti anak kecil mencari kehangatan. Wajahnya begitu cantik meski tanpa polesan make up berlebihan. Benar-benar kecantikan natural yang membuat Abimanyu merasa seperti sedang berada di alam mimpi. Abimanyu tertegun, tidak tahu harus bagaimana. Mungkin Winona hanya mencari posisi nyaman tanpa sadar. Tapi tetap saja, melihatnya begitu dekat membuat d**a Abimanyu terasa aneh hangat, tapi juga gugup. Abimanyu tidak ingin membangunkannya. Perlahan-lahan, ia mencoba melepaskan diri dengan hati-hati. Tapi, gerakannya membuat Winona bergumam pelan, menggeliat seperti kucing kecil sebelum akhirnya membuka mata. Matanya yang masih berat tiba-tiba membulat ketika menyadari posisinya. Tangan yang memeluk Abimanyu langsung terlepas. "A-aku--" Winona gagap, wajahnya memerah. "Maaf. Aku tidak sadar." Abimanyu cepat-cepat menggeleng sambil mendudukkan dirinya. "Tidak apa-apa." Suaranya serak dan agak gugup. Untuk sesaat, keduanya sama-sama terdiam, hanya suara ayam dan embusan angin pagi yang terdengar. Akhirnya Abimanyu turun dari tempat tidur. "Aku keluar dulu, bantu ibu di dapur. Kamu istirahat saja dulu," katanya lembut, berusaha menormalkan suasana. Winona hanya mengangguk canggung, menarik selimut menutupi wajahnya yang masih panas karena malu. Ia tidak menyangka pagi pertamanya di rumah ini akan seaneh itu. Sementara itu, Abimanyu keluar kamar dan langsung membantu ibunya menyiapkan air panas untuk mandi. Bu Lastri sudah sibuk di dapur, menanak nasi dan menyiapkan sarapan sederhana. "Abim, kamu sudah bangun? Hari ini kamu ke sawah?" tanya Bu Lastri tanpa menoleh. "Sebentar lagi, Bu. Aku bantu siapin air buat Winona mandi," jawab Abimanyu sambil menimba air di sumur. Lastri menatap anaknya sekilas lalu menghela napas kecil. "Kasihan kamu, Abim. Dapat istri orang kota, pasti repot. Lihat aja, sampai sekarang dia belum bangun juga." Nada suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup jelas untuk terdengar sampai kamar. Winona yang baru saja bangun dan sedang mencari handuk di dalam tasnya tertegun sejenak. Suara sindiran halus itu menembus dinding kayu dengan mudah. Ia menunduk, menggigit bibir menahan rasa malu dan tersinggung. Tak lama kemudian, ia keluar kamar dengan rambut masih berantakan, memakai kaus putih dan celana panjang. "Selamat pagi, Bu," sapanya sopan, mencoba tersenyum. Bu Lastri menatapnya dari kepala sampai kaki. "Pagi, Nona," jawabnya datar. "Baru bangun, ya? Di sini biasanya orang bangun sebelum matahari muncul. Apalagi perempuan. Soalnya banyak kerjaan di dapur." Senyumnya tipis tapi maknanya jelas. Winona menunduk. "Maaf, Bu. Aku belum terbiasa." Sepertinya sikap hangat mertuanya yang kemarin ditunjukkan padanya meluap begitu saja. Lastri mengangguk pelan, tapi nada suaranya tetap tajam. "Tidak apa-apa, nanti juga terbiasa. Tapi jangan sering-sering bangun siang, ya. Kalau di kota mungkin bisa begitu, tapi di sini beda." Winona menahan napas, menunduk dalam. Ia tahu mertuanya tidak bermaksud jahat, tapi tetap saja setiap kata itu menusuk hatinya. Winona terbiasa hidup dengan pelayan yang melayani, bukan berusaha untuk melayani diri sendiri. Abimanyu yang sejak tadi menimba air datang membawa ember besar. "Bu, Winona masih baru di sini. Wajar kalau belum terbiasa." Lastri melirik anaknya, lalu tersenyum tipis. "Iya, ibu cuma kasih nasihat, kok. Namanya juga menantu baru." Abimanyu menoleh ke arah Winona. "Win, ini air buat kamu mandi. Aku taruh di kamar mandi belakang." Winona mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas Abi." Gadis itu mengikuti Abimanyu ke belakang rumah. Di sanalah kamar mandi itu berada. Dindingnya terbuat dari papan kayu dengan celah kecil di sana-sini, atapnya dari seng, dan di dalamnya hanya ada bak besar serta ember plastik. Winona berdiri kaku di depan pintu kamar mandi, memandang tempat itu lama sekali. Ia menelan ludah. "Aku mandi di sini?" tanyanya pelan. Abimanyu mengangguk, menatap wajah istrinya yang tampak canggung. "Iya. Maaf ya, Win. Tempatnya memang sederhana. Tapi airnya bersih, langsung dari sumur. Kamu juga bisa pakai air panas kalau mau." Winona menatap bak besar di dalam kamar mandi itu dengan mata ragu. Lantai semen kasar, dinding kayu yang seolah bisa retak jika tersenggol, dan suara ayam di luar membuatnya merasa seperti di dunia lain. "Aku coba," katanya akhirnya, meski wajahnya tampak tak nyaman. Abimanyu menatapnya sejenak, lalu tersenyum menenangkan. "Tidak usah dipaksa, Win. Kalau kamu tidak nyaman, aku bisa bantu bikin tempat mandi di kamar belakang rumah nanti." Winona memandangnya sekilas. Ada sesuatu di mata Abimanyu yang membuatnya merasa tidak ingin menolak. Ia menunduk pelan. "Tidak apa-apa, aku bisa coba. Aku cuma belum terbiasa." Abimanyu mengangguk, lalu pergi meninggalkannya agar bisa mandi dengan tenang. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Winona berdiri di depan bak air dan menatap pantulan wajahnya di permukaan air. Dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri, rambut berantakan, wajah tanpa make up, pakaian sederhana. "Ini bukan aku," bisiknya pelan. Winona mengambil gayung dan mulai menyiram air ke tubuhnya. Airnya dingin, bahkan meski Abimanyu sudah menyiapkan air panas. Suhu pagi yang menusuk membuatnya menggigil. Selesai mandi, ia keluar dengan rambut basah dan mengenakan baju kasual sederhana. Abimanyu sedang duduk di teras, menyiapkan cangkul dan peralatan ke sawah. Pria itu menoleh ketika Winona datang. "Sudah mandi? Bagaimana? Kedinginan?" Winona mengangguk sambil mengusap rambut. "Sedikit. Tapi, lumayan buat segar." Abimanyu tersenyum kecil menanggapinya. Winona duduk di kursi kayu di sebelahnya, memandangi halaman depan. Udara masih sejuk, dan aroma nasi dari dapur tercium samar. Perempuan itu melirik Abimanyu yang sedang mengikat sepatu boot-nya. "Mas Abi," panggilnya pelan. Abimanyu menoleh. "Hm? Ada apa?" Winona tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Hanya ingin memanggil," jawabnya sambil mengangkat bahu. Abimanyu mengerut dahinya, kemudian menepuk kakinya pelan sebelum akhirnya ia memindahkan posisi duduknya lebih dekat dengan Winona. "Kalau kamu merasa bosan di rumah, nanti bisa main ke sawah. Hari ini aku memang harus pergi ke sawah," kata Abimanyu pada istrinya. Winona menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Abimanyu karena Mungkin ia belum terbiasa hidup di tempat yang baru dan bahkan tidak tahu apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN