"Woy!" Vino menepuk keras bahu pria yang yang sedang duduk santai di balkon kamar. Ia terbahak saat Zio mengumpat karena terkejut. "Lebay lo. Masa calon penganten ngurung diri aja di kamar," ledek Vino. Zio menghela napasnya panjang. Ia menatap Vino dengan lekat, tatapan yang sulit diartikan oleh pria itu. "Ngapain lo natap gue kayak gitu?" sinis Vino. Zio memejamkan matanya, tangannya terkepal kuat. Ia ingin mengingat semuanya. Semua tentang dirinya dan Raya. Gadis itu selalu menganggu pikirannya akhir-akhir ini, hadir dimimpinya setiap malam. Mimpi yang sama yang selalu ia mimpikan setelah kejadian di apartemen lalu. "Karena saya peduli sama kamu. Saya pernah bilang kan kalo kamu nggak sendiri? Ada saya, Raya. Saya akan menjaga kamu mulai sekarang. Saya sayang sama kamu." "Aku mau

