“A-pa yang ingin kau lakukan?” tanya Rossie, wajah gadis itu pucat pasi saat Lizzie mengacungkan pistol ke arahnya. “Saya berhasil membawa bayi ini.” ucap Rossie dengan nada bergetar. Lizzie terkekeh, tawa meremehkan. “Iya kau berhasil tapi tanpa aku apa mungkin bisa kau membawanya ke rumah ini?” tanya Lizzie, sebelah alisnya terangkat tinggi. "Kau benar, kita berdua melakukannya bersama. Tolong jauhkan benda itu, terlalu bahaya." ucap Rossie. "Benda ini tidak akan menyakitimu jika kau patuh padaku Rossie." ucap Lizzie. “Sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Rossie. Lutut gadis itu bergetar ingin tumbang, tak kuat menahan bobot tubuhnya hingga kedua tangan Rossie bertumpu pada bibir ranjang. “Uangku Rossie.” jawab Lizzie. Rossie menelan saliva yang tercekat di tenggorokannya,

