PILOT TEWAS BERSAMA GUNDIKNYA
PART 13
Mas Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sehingga membuatku berpegangan pada handle di atas kepalaku karena ketakutan.
"Mas, hati-hati, aku takut," mohonku pada Mas Kevin yang menatap fokus ke depan. Sesekali matanya menatap ke spion dalam dan kiri, tanpa menjawab sepatah kata pun.
Aku menatap wajah tampan yang terlihat memerah itu. Sepertinya ia sangat memendam amarah yang cukup hebat. Mungkin selama ini ia begitu percaya pada Dinda. Ternyata, Dinda tega mengkhianati.
Mas Kevin pun tak kalah tampan. Wajah blasteran Indo-Inggris dan terlihat sangat dewasa.
Berbeda dengan Mas Thoriq yang masih bergaya layaknya anak muda masa kini.
Terbersit rasa kasihan melihat wajahnya. Tampak jelas manik coklat itu berkaca-kaca. Ya Allah, terbuat dari apa hatimu, Dinda? Lelaki yang begitu setia menunggumu meraih mimpi untuk menyelesaikan pendidikan penerbangan selama ini. Bahkan Mas Kevin tidak pernah sekali pun melarang Dinda untuk terbang kendati sudah menikah atau pun memiliki anak.
Di antara rasa takut, kucoba untuk mengambil ponsel di tas. Aku harus menelepon Farid, agar ia tidak lengah dari mengawasi suami durjana itu.
Ah, berkali-kali aku menghubunginya, tetap saja tidak diangkat. Ke mana anak itu?
Kuhempaskan ponsel di pangkuan dan semakin mengeratkan pegangan di handle mobil itu.
Kami kehilangan jejak mobil Alphard hitam itu tepat di lampu lalu lintas. Begitu mobil Mas Kevin tiba, lampu mendadak berubah menjadi merah. Mau tidak mau kami harus berhenti dan mobil Mas Thoriq terus melaju semakin jauh.
"Arrrgggh!" teriaknya kesal, sambil memukul setir.
Aku hanya bisa menoleh sekilas, lalu melemparkan pandangan ke luar jendela. Tak habis pikir dengan kelakuan Mas Thoriq dan Dinda.
Sepertinya mereka sudah mengetahui kalau mobil Mas Kevin mengejar mereka. Sudah pasti Dinda mengenali mobil suaminya dan meminta agar Mas Thoriq melajukan mobilnya dengan kencang.
"ASTAGHFIRULLAHAL ADHIIM," jeritku mengucapkan istighfar, ketika Mas Kevin membantingkan setir ke tepi jalan sepi.
Ia menunduk memeluk setir dengan napas terengah-engah. Tubuhnya bergerak naik turun. Mas Kevin menangis?
"Mas … Istighfar …," ucapku hati-hati.
Pengusaha tambak itu mengangkat wajahnya lalu menoleh. Ya Rabb … Mas Kevin menangis. Terlihat hidungnya memerah dan air mata keluar dari kedua sudut kelopak mata.
"Apa aku kurang ganteng, Nina? Apa aku kurang kaya? Apa kurangku sebenarnya? Katakan, Karenina!"
Aku terdiam mendengar penuturan pahit Mas Kevin barusan. Sungguh tidak tega memandang wajah yang terpancar sinar ketulusan itu. Dinda … Dinda … apa yang kamu cari dari sosok suamiku itu?
"Apa yang dia minta, selalu aku penuhi. Dari segi financial kamu tau sendiri hasil panen dari satu tambak saja, bisa membawanya keliling Eropa. Perhiasan, mobil, tas branded … semua aku penuhi. Bahkan untuk urusan ranjang pun, terkadang dia menjerit minta ampun. Lalu apa?"
"Astaghfirullah, Mas. Sudahlah … Tenangkan diri Mas! Gak ada gunanya Mas terus begini. Mereka memang sudah dibutakan oleh nafsu syaithon. Sehingga sudah tidak mampu lagi memilah mana yang benar atau pun yang salah."
"Ayo, Mas. Ucapkan istighfar! Supaya hati Mas tenang dan tidak semakin dikuasai oleh amarah syaithon."
Tangan Mas Kevin mencengkeram kemudi. Matanya menutup, kemudian terlihat bibirnya
bergerak melafalkan kalimat istighfar.
"Lagi, Mas. Ucapkan terus sampai hati Mas merasa lapang dan tenang."
Pelan-pelan Mas Kevin mulai terlihat tenang. Dari napas yang mulai terdengar stabil. Diraupnya wajahnya dengan tangan. Lalu meraih botol air mineral di dashboard mobil, kemudian meneguknya hingga tandas.
"Kamu itu wanita yang sangat baik, Nina."
Aku tertawa sinis. "Baik? Aku bukan wanita baik, Mas. Kalau aku seorang wanita yang baik, gak mungkin suamiku berpaling pada wanita lain."
"Entah apa yang merasuki pikiran mereka. Sampai demi cinta yang salah pun, tetap mereka pertahankan," ujar Mas Kevin.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Nina?"
Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku pun bingung, Mas."
Sejenak mobil terasa hening, karena kami larut dalam pikiran masing-masing.
'Apa lagi yang harus hamba lakukan ya Rabb? Hamba hanya ingin bukti perselingkuhan suami hamba. Jikalau memang ia mencintai Dinda, hamba ikhlas melepas suami hamba demi kebahagiaannya. Tentu saja dengan jalan yang halal, bukan seperti ini. Sama saja mereka sudah menyuburkan bahaya zina,' doaku dalam hati.
Tak lama, ponsel di tas terdengar bergetar. Di layar tertera nama "Farid". Tanpa membuang waktu, segera kuangkat panggilan dari lelaki itu.
"Halo, Farid, kamu ke mana aja dari tadi saya telponin," omelku begitu sambungan telepon kuangkat.
"Maaf, Bu. Tadi saya sedang nyetir, mengejar mobil Pak Thoriq. Suami Ibu kencang banget bawa mobil. Saya berusaha mengejar tanpa membuat dia curiga bahwa ada yang membuntutinya."
Astaghfirullah, aku sudah suudzon. Sementara dia sedang melaksanakan tugasnya. Benar-benar sosok yang profesional.
"Maaf saya sudah suudzon. Lalu gimana? Kamu ketemu sama mereka?"
"Ya, Bu. Mereka masuk ke sebuah penginapan di wilayah jalan Sudirman. Sebentar saya share loc. Saya harap Ibu segera ke sini. Saya khawatir nanti mereka keburu pergi lagi seperti tadi."
"Oke baik, saya segera meluncur ke sana. Saya tunggu segera share loc kamu sekarang."
Sambungan telepon seluler putus. Tinggal aku menunggu Farid membagikan lokasi terkininya. Semoga saja kali ini tidak berselisih waktu lag seperti tadi.
"Dari siapa, Nina?" tanya Mas Kevin.
"Namanya Farid. Orang yang aku suruh untuk mengikuti Mas Thoriq. Dan dialah yang selama ini menjadi informanku."
"Wah, hebat juga kamu ya. Brilliant!"
Drrreeet.
Ponselku kembali bergetar. Dan pesan share loc dari Farid masuk ke w******p-ku.
"Ini, Mas, aku udah dapat lokasinya. Yuk, buruan ke sana! Takut berselisih lagi seperti tadi."
Kukirimkan pesan tersebut ke ponsel Mas Kevin. Kemudian bergegas ia menyalakan "petunjuk arah". Mobil melaju cepat sesuai dengan arahan yang disuarakan.
Aku teringat lokasi meeting Papi tak jauh dari alamat yang dikirimkan Farid. Kesempatan bagus jika Papi ikut dalam penggerebekan kali ini. Agar ia tahu, seperti apa anak angkat kebanggaannya itu.
"Halo, Sayang. Tumben nelpon papi."
"Pi, uda selesai belum meeting-nya?" Aku langsung to the point.
"Udah. Ini lagi ngopi di Coffeshop biasa. Ada apa emangnya?"
"Papi, Nina boleh minta tolong dong?"
"Ya ampun, Sayang. Ya pasti bolehlah. Apaan emangnya? Kurang uang shopping? Biar Papi transfer sekarang," godanya sambil tertawa. Sudah kebiasaanku dulu, setiap meneleponnya pasti minta transferan untuk hobi shopping-ku.
"Entar aku jelasin ke Papi. Pokoknya Papi segera datang ke sebuah penginapan sekarang. Aku kirim maps lokasinya ya."
"Penginapan? Maksud kamu apa? Papi gak ngerti deh."
"Udah deh, Pi. Aku gak bisa jelasin di telepon. Pokoknya Papi datang aja ke alamat yang akan aku kirim. Oke?"
"Ya udah terserah kamu aja."
Setelah obrolan putus, segera kualihkan menu ponselku ke aplikasi w******p. Kemudian meneruskan pesan lokasi yang dikirmkan Farid tadi ke Papu. Done!
Tibalah kami ke sebuah penginapan cukup mewah. Terdiri dari masing-masing bangunan lepas. Bukan menyatu seperti hotel atau apartement.
Mas Kevin membelokkan mobil ke pelataran parkir penginapan tersebut. Tampak Farid sudah menunggu dengan bersandar di bemper mini sedan putihnya. Ia melambaikan tangan ke arah kami.
"Di mana mereka?" tanyaku tanpa basa basi begitu turun dari mobil.
"Saya melihat, setelah check-in, mereka masuk ke kamar yang terletak di sudut sana."
Mataku dan Mas Kevin mengikuti arah yang ditunjukkan Farid. Kamar yang terletak agak di sudut, ditutupi jejeran pohon bambu. Pandai juga mencari kamar. Di lokasi yang cukup tersembunyi. Sayangnya kalian tidak lebih pintar dari Karenina Jayadiningrat.
Mas Kevin hendak melangkah menuju kamar yang ditunjukkan Farid tadi. Cepat aku mencekal lengannya.
"Tunggu dulu, Mas! Jangan gegabah! Kita harus bekerja sama dengan pihak penginapan. Kalau tidak mau repot nantinya."
"Kapan lagi, Nina? Aku udah gak sabar ingin meremukkan tulang suamimu itu," gerutunya dengan rahang yang sudah mengeras. Tangan pun sudah mengepal kuat di bawah.
"Kita masuk dulu dan bicarakan dengan pihak penginapan. Mereka pasti mau membantu."
Akhirnya Mas Kevin mau juga mendengarkan saranku. Kemudian kami menemui resepsionis dan dipertemukan dengan Manager-nya. Setelah berbincang-bincang, dan Alhamdulillah mereka bersedia membantu kami.
Ketika kami berjalan menuju kamar yang disewa oleh Dinda dan Mas Thoriq, Papi mendatangiku dengan tergopoh-gopoh dan pandangan bingung.
"Ada apa ini, Nina?" Papi menatap padaku dan Mas Kevin bergantian. "Siapa dia?"
"Ini Mas Kevin, suaminya Dinda sahabatku, Pi."
"Lalu ini apa dan kenapa?"
Sambil berjalan menunduk aku terdiam. Bingung bagaimana menjelaskan padanya.
"Nina!" Papi mencekal bahuku. Mau tak mau aku jadi berhenti dan berbalik ke arahnya.
"Jelasin ke Papi, ini ada apa?"
"Mas Thoriq, Pi."
"Kenapa dengan Thoriq?"
"Mas Thoriq selingkuh dengan Dinda …." Aku menangis terisak, di bahu yang masih tampak tegap itu.
"Thoriq selingkuh? Gak mungkin!" Pria paruh baya itu terkekeh. "Jangan termakan hasutan orang kalau kamu belum membuktikannya, Nina."
"Mas Thoriq di dalam kamar itu bersama sahabatku, Pi. Kalau Papi gak percaya, silahkan Papi buktikan sendiri."
Tanpa menjawab, Papi segera melangkah menuju kamar yang seorang Room Service telah siap di depan pintu kamar.
Farid memerintahkan agar Room Service pria itu mengetuk pintu dan berpura-pura untuk menawarkan sesuatu.
Pintu dibuka setelah Room Service itu mengetuk hingga tiga kali. Entah apa yang mereka lakukan di dalam. Sampai membuka pintu saja lama sekali.
Mas Kevin langsung menerobos masuk begitu pintu terbuka.Tentu saja Mas Thoriq yang tengah menggunakan celana boxer pendek tanpa baju itu, gelagapan karena tanpa persiapan.
Aku berdiri terpaku tepat di hadapan pria bergelar suami itu. Mas Thoriq memandangku malu lalu tertunduk serba salah.
"Arrrgggh, ampuuun, Mas …." Terdengar lengkingan suara Dinda. Bergegas aku masuk dengan menabrakkan bahuku di d**a yang telanjang itu.
Tampak Mas Kevin menarik wanita yang tak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya itu. Astaghfirullah, aku berlari mencari pakaian atau apa pun yang bisa menutupi aurat Dinda yang terpampang.
"Tolong tutupi tubuh istrimu ini, Mas! Jangan tambah dosanya dengan mempertontonkan auratnya pada orang banyak." Aku menunjuk pada kerumunan orang di luar sana lalu melemparkan selimut ke arah Dinda.
"Lihat! Sahabat yang udah kamu sakiti ini masih peduli dengan malumu. Sementara kamu tidak punya rasa malu," bentak Mas Kevin, sembari membalutkan selimut putih itu ke tubuh istrinya.
Plaaak! Sebuah tamparan dilayangkan ke pipi Dinda hingga tubuhnya oleng dan jatuh ke ranjang. Darah segar mengucur dari sisi bibirnya.
"Tega kamu, Dinda! Dasar wanita jalang!" Kembali Mas Kevin menarik kuat rambut panjang Dinda.
"Ampuuun, Mas, ampuuun," pekiknya mengaduh dan mengampun. Sedangkan aku hanya terduduk di kursi.
Buuugggh! Sebuah pukulan mengejutkanku. Tubuh Mas Thoriq yang sedari tadi berdiri, limbung ke lantai.
"Baji**an! Sia*an! Dasar manusia gak tau diri." Astaghfirullah … Papi?
"Kau sudah kubesarkan, kusekolahkan sampai jadi pilot. Beberapa aset pun kuberikan untukmu. Lalu ini balasanmu? Kau khianati anakku dengan sahabatnya. Binat*ng kau!" maki Papi.
Ditariknya lengan Mas Thoriq masuk lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Kalian ini manusia apa, huh? Kau, Dinda …."
Dinda hanya menundukkan kepalanya sambil menangis.
"Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Tapi nyatanya … suami sahabatmu sendiri pun kau selingkuhi. Ya Allah … salah apa Nina pada kalian?" Teriakan suara bariton Papi memenuhi ruangan.
Aku bangkit dan berjalan perlahan. Menghampiri dua pesakitan di atas ranjang.
"Sayang," panggil Mas Thoriq.
"Diam! Masih berani kamu panggil aku sayang setelah apa yang kamu lakukan ini? Dasar laki-laki tak tahu malu," umpatku dengan suara bergetar.
"Aku khilaf, Dik. Tolong maafkan Mas," mohonnya dengan berlutut dan menggenggam pergelangan kakiku.
Namun alih-alih kasihan, justru aku semakin muak. Kudorongkan tubuhnya dengan kaki yang digenggamnya.
"Tanyakan pada hatimu. Apa pantas laki-laki sepertimu dimaafkan?"
Pandanganku beralih pada Dinda yang masih menangis.
"Dan elo, Din." Kuarahkan telunjukku ke wajahnya. "Mulai sekarang, jangan pernah menganggap gue sahabat elo lagi. Selain uda tega ngambil lakik gue, elo juga tega memfitnah Hesti yang gak salah apa-apa. Kalian berdua benar-benar cocok. Bina**ng dengan bina**ng. Klop!"
Aku kembali duduk ke kursi. Walau sekuat apa aku mencoba untuk tegar, tetap saja aku ini seorang wanita biasa. Lemah.
"Farid! Farid!" teriakku.
"Ya, Bu," Farid datang dengan tergopoh-gopoh.
"Tolong teleponkan Polisi! Suruh datang ke mari!"
"Baik, Bu!"
________