Mas Prima memberhentikan mobilnya di pekarangan rumah orang tuanya. Dia melirik ke arahku seolah memberikan isyarat agar aku masuk ke dalam. "Mas enggak masuk?" tanyaku karena melihat dia dari tadi yang diam saja menungguku.
"Enggak, saya harus segera ke kampus. Sudah ditunggu rekan lain."
Semalam Mas Prima sudah izin sama Maminya bahwa aku ingin menginap di sini, perempuan paruh baya itu mengizinkan, tetapi dia minta maaf karena dia enggak bisa menemaniku setiap saat di rumah karena dia lagi mengurusi bisnisnya.
Tadi juga sebelum ke sini aku sempat video call dengan Hannan, katanya di rumah hanya ada dia dan Ibunya.
Aku menatapnya malas. "Masuk dulu sih. Temani aku gitu. Aku kurang dekat sama Mbak Marina, setidaknya temani aku, sampai aku basa-basi sama dia."
Omong-omong Mbak Marina adalah nama dari Ibunya Hannan.
"Dia baik. Nanti kamu juga dekat sama dia."
"Yaudah, masuk dulu."
Dia menggeleng. "Saya harus ke kampus, mau berangkat."
"Jam berapa berangkatnya?"
"Jam sembilan."
Aku menunjuk ke arah jam digital yang ada di dashboard. "Sekarang masih jam tujuh. Dua jam lagi. Masih bisa buat mampir dulu."
"Enggak. Enggak bisa. Saya harus ke kampus."
Aku berdecak sebal. "Yaudah, hati-hati," ucapku kemudian turun dari mobil.
Mas Prima ikut turun dari mobilnya, tetapi dia hanya mengambilkan koperku. "Hati-hati juga ya, Bee."
Aku bergumam kemudian berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah aku berjalan, saat menoleh ke belakang mobil Mas Prima sudah tidak ada, dia sudah pergi. Aku menarik napas lalu kembali melanjutkan langkahku.
"Aunty Key!" pekik Hannan saat aku masuk ke dalam rumahnya. Hmm, lebih tepatnya ini rumah Tante Dilla.
Aku berjongkok dengan tangan yang terbuka. Anak kecil itu berlari kemudian masuk ke dalam pelukanku. "Kata Mami, Aunty Key mau menginap di sini?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
Aku mengangguk dengan penuh semangat. "Iya," aku menyentuh hidungnya, "kemarin kan Hannan menginap di rumah Aunty, sekarang Aunty menginap di rumah Hannan. Boleh kan?"
"Boleh banget!" tangan mungilnya menyentuh tanganku, "ayo masuk ke dalam Aunty. Mami sudah nunggu."
"Oh, iya, ayo-ayo," ucapku kemudian kami berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah.
Di tengah perjalanan, aku melirik ke anak kecil ini. Maybe, jika benar Mas Prima berpotensi mandul dan kami enggak punya anak. Mungkin aku bisa lebih cepat menerima kenyataan karena di keluarga ini ada Hannan dan mungkin di masa depan juga ada adik-adiknya Hannan. Aku dan Mas Prima bisa menyayangi mereka layaknya anak sendiri.
Aku berpikir lebih panjang, mungkin karena ini juga Mas Prima dekat secara intensif dengan Hannan karena dia tahu dia berpotensi enggak punya anak sehingga dia begitu menyayangi anak kecil itu layaknya seperti anak sendiri.
Kalau aku sambung-sambungkan terasa masuk akal juga.
"Keyra," Mbak Marina—Maminya Hannan—tersenyum kecil ke arahku, "Primanya ikut masuk?"
Aku menggeleng kemudian meletakkan koperku di pinggir meja. "Enggak, Mbak. Dia langsung ke kampus. Katanya sudah ditunggu karena dua lagi, waktu keberangkatannya."
Mbak Marina membuka tutup saji dan terpampanglah berbagai menu makanan di sana. "Padahal Mbak sudah mempersiapkan makanan untuk kalian berdua. Pagi-pagi buta masaknya."
Aku jarang berinteraksi dengan Kakak iparku, tapi dari kejadian ini aku bisa membaca bahwa dia begitu perhatian dengan anggota keluarganya. Sampai makanan kesukaan Mas Prima saja, dia tahu dan bela-belain masak.
Pantas saja Hannan memiliki sifat perhatian, ternyata keturunan dari Ibunya.
"Maaf ya, Mbak. Mas Prima emang suka begitu. Berusaha enggak terlambat, padahal waktunya aja masih lama," aku menarik kursi meja makan lalu duduk di sana, "dari aromanya enak banget, pasti aku makannya banyak sih."
Aku berusaha menghiburnya dan ternyata berefek cukup baik. Perempuan itu tersenyum lantas dia mengambil piring untukku. "Ayo, dimakan dulu, Key."
Aku mengangguk kemudian mengambil alih piring itu. "Ayo. Mbak juga makan ya?"
"Iya," ucapnya lalu kami sibuk makan bersama.
"Hannan juga mau makan," ucap Hannan ketika aku sudah menghabiskan setengah dari porsi makanananku.
"Sini, Sayang," Mbak Marina langsung mengambil nasi dan menambah lauk lantas dia menyuapi anaknya.
Aku diam-diam tersenyum. Kayanya seru banget ya kalau punya anak. Bisa mengurusnya, memberikannya kasih sayang, dan mendidiknya sepanjang waktu.
Ada Hannan di dalam hidupku yang notabennya hanya keponakan saja aku udah senang, apalagi kalau aku punya anak. Enggak kebayang sih sesenang apa aku nanti.
"Mbak," cicitku pelan, "doain aku ya semoga bisa cepat punya anak."
"Iya," dia tersenyum lirih, "Mbak doakan yang terbaik."
"Rasanya menyenangkan ya kalau punya anak? Aku aja bisa sayang banget sama Hannan, apalagi kalau aku punya anak sendiri," ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Sebelah tangan Mbak Marina mengelus pundakku. "Dimasa depan, kamu dan Prima punya anak ataupun tidak, tetap sayangi Hannan ya. Kamu boleh sayangi dia lebih dari sekedar keponakan. Dia juga pasti akan menyayangi kamu lebih dari sekedar Tante."
Saat itu juga, tangisku pecah.
Dari ucapan Mbak Marina, aku yakin banget pasti dia tahu tentang permasalahan Mas Prima.
Persentase keyakinanku semakin bertambah bahwa Mas Prima punya potensi kemandulan yang cukup besar.