JAM KEDUA PELAJAR.
"Lan, lu mau kemana?" tanya Andri, salah satu murid kelas 12 A, menegur Erlan yang berjalan berlawanan arah.
Erlan menoleh.
"Lu enggak mau ke lapangan? Ada pertandingan voli tuh, kelas kita lawan kelas sebelah." Andri menjelaskan dengan antusias.
Erlan tidak berkomentar.
"Udah, enggak usah banyak mikir!" Andri langsung saja menarik tangan Erlan, mengajaknya untuk pergi ke lapangan, tempat para murid berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bola voli, kelas A melawan kelas B.
Erlan tidak menolak. Namun, dia cukup kesal lantaran orang lain menyentuh tangannya seenak jidat.
"Lu harus lihat pertandingan ini. Kelas kita enggak pernah kalah dari kelas manapun," kata Andri begitu semangat.
"Rania paling jago di kelas kita," tambahnya terdengar begitu membanggakan Rania, yang tidak lain adalah istrinya Erlan.
Mendengar nama Rania disebut, Erlan pun langsung menarik tangannya. Andri cukup terkejut.
"Kenapa, Lan" tanya Andri penasaran.
"Gue enggak suka voli." Erlan berkata dingin, kemudian melenggang pergi tanpa berkata kali.
Apa pun yang menyangkut soal Erlan, dia malas menanggapi dan mendengarnya.
Andri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat Erlan dengan tatapan heran.
"Kenapa dia?" Sekiranya itu yang menjadi pertanyaan di dalam benak Andri.
"Ah, terserahlah." Remaja belia itu, tidak mau ambil pusing. Diayunkan kakinya, menuju lapangan yang sudah dipenuhi banyak murid.
Sekarang, jam pelajaran olahraga. Dua kelas akan melakukan pertandingan bola voli. Mereka yang ada di sana, sudah mengetahui kemampuan Kelas 12 A, dalam permainan bola voli.
Rania bertindak sebagai kapten tim. Para cowok di sana begitu antusias. Rania sebenarnya salah satu idola di sekolah ini. Selain cantik, dia juga pintar dan ketus terhadap pria. Belum ada satupun laki-laki yang bisa merebut hatinya.
Kendati demikian, Rania tidak pernah merasa kalau dirinya hebat. Dia hanya melakukan yang sekiranya menjadi kesenangannya.
Kedua tim sudah bersiap di tengah-tengah lapangan. Rania menatap tim lawan dengan tatapan tajam. Fokusnya tak teralihkan. Tujuannya hanya satu, yaitu membawa kelasnya mencapai kemenangan maksimal.
"Kedua tim sudah siap?" tanya guru olahraga, yang bertindak sebagai wasit.
Mereka mengangguk serentak. Rania sudah tidak sabar ingin memulainya, melampiaskan semua kekesalan yang ada di dalam dirinya kali ini.
Setelah melakukan lempar koin, Rania berkesempatan melempar bola lebih dulu. Para pendukung bersorak-sorai di pinggir lapangan, memberi semangat pada kedua tim.
Rania tidak mengindahkan teriakan mereka, fokusnya pada bola yang saat ini ada di tangannya. Dia mengibaratkan bola itu, adalah Erlan.
Ya ... Dia akan melakukannya.
"Yaaaa!!!" Rania berteriak seraya melempar bola itu tinggi-tinggi. Di waktu bersamaan, dia melompat.
BRUK!
Dia langsung melakukan server dengan kekuatan penuh. Alhasil, arah bola itu tidak bisa terbaca oleh lawan dan akhirnya tim Rania mendapatkan poin pertamanya.
Semuanya bersorak. Penonton semakin ramai dan bersemangat. Permainan sudah panas di awal. Rania menyeringai kecil.
***
Satu jam kemudian. Rania dan timnya sudah meninggal lapangan.
"Ran, tadi lu keren banget. Sumpah," puji Eva, yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada sang sahabat, yang menurutnya sangat luar biasa.
"Enggak usah lebay." Rania menepis anggapan itu. Alhasil, Eva pun meregut.
"Ah, lu mah enggak bisa diajak ngomong santai, Ran. Bawaannya emosi terus."
Rania melotot ke arah Eva. Saking seramnya tatapan itu, membuat bulu kuduk Eva berdiri semua.
"Gue, enggak suka pujian dan gue lagi malas ngomong," hardiknya, kemudian melenggang pergi.
Eva menelan ludahnya berat-berat, lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Tuh anak kesambet apa dah? Galak banget bawaannya dari tadi?"
"Apa jangan-jangan dia habis ribut lagi sama nenek sihir itu?" terka Eva, mencoba menebak-nebak isi kepala sahabatnya.
Kehidupan Rania tidak jauh dari ibu tirinya yang selalu membuat repot. Jika Eva pikir-pikir lagi, beberapa waktu terakhir, sikap Rania sedikit berbeda. Lebih galak dan sensitif dari biasanya.
Rania lebih banyak diam, dari pada bicara. Padahal biasanya gadis mungil itu bersikap ceria, walau angin-anginan. Kadang full senyuman, kadang merengut seharian full.
"Jadi penasaran. Kayaknya ada yang lagi dia disembunyiin, tapi apa?" gumam Eva. Isi kepalanya sudah dipenuhi banyak pertanyaan, yang menyangkut soal Rania akhir-akhir ini.
***
Sesampainya di depan kelas.
"Ran, tadi permainan lu keren banget," ucap Andri, yang menghadang langkah Rania di depan pintu.
"Iya, eh. Keren banget tuh. Apa lagi servis yang lu pake. Bah, keren banget, sampai kelas sebelah enggak bisa balikin serangan lu." Murid lainnya pun menyahut dan tidak kalah antusiasnya dengan Andri.
Rania melipat kedua tangannya di d**a, "apa lu lu pada udah selesai?" tanyanya dengan nada malas, begitu juga tatapan kedua matanya terhadap lawan bicara.
Andri dan temannya saling berpandangan.
"Minggir kalian!" tegas Rania, lalu mendorong keduanya agar menyingkir dari jalannya.
Begitulah sikap Rania, tidak peduli dengan pujian. Cuek bebek. Dia lebih mementingkan dunianya sendiri, ketimbang harus menanggapi perkataan orang lain.
Rania duduk di tempatnya. Sepasang mata indah itu, melirik ke arah bangku tempat Erlan berada. Namun, pemuda berstatus suaminya itu, tidak ada di tempatnya.
"Kemana tuh orang?" gumamnya pelan.
"Ah, paling juga lagi sama fans-fansnya yang lebay itu," rutuknya sambil berekspresi jelek, mengikuti gaya cewek-cewek ganjen yang mengejar perhatian Erlan.
Dia menggeleng pelan. Dirinya sendiri yang memperdagangkan gaya cewek ganjen, tapi dia juga yang merasa lebay.
Bagaimana ya menjelaskannya? Intinya seperti itu.
Rania sudah tidak memedulikan keberatan Erlan. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Ada pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Rania melihat nama kontak yang tertera di layar.
'Pak Ravi.'
Pesan itu datang dari Dokter Ravi. Dia sedikit menaikkan alisnya. Tak berselang lama, Rania menekan layar ponselnya, kemudian membaca pesan singkat itu.
'Malam ini pergi jalan-jalan yuk! Saya punya tiket nonton ke bioskop. Itupun kalau kamu mau.'
Sekiranya itu yang Ravi tuliskan di dalam pesannya.
Rania tidak lantas menjawab. Dia sedang menimang-nimang ajakan tersebut.
Selama ini Dokter Ravi selalu baik kepadanya. Tidak terhitung berapa kali Dokter Ravi membantunya? Ini kali pertama Dokter Ravi mengajaknya pergi. Rania berpikir, mungkin tidak apa-apa untuk satu kali.
[Ok, tapi jangan jemput di rumah. Kita ketemuan di jalan saja. Lokasinya, nanti aku kasih tahu.]
Rania mengirim pesan balasan itu dan menunggu tanggapan Ravi selanjutnya.