Bab 5

1014 Kata
Jonas menghela napasnya, sungguh dia tak habis pikir dengan apa yang dia lihat tadi di kantor, bagaimana tidak, dia kesal dengan pegawai barunya yang bernama Amanda itu. Kalau saja Amanda tidak berulah, pasti malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak. Dia menghela napasnya, jam menunjukkan pukul dua malam, sayangnya dia masih tidak bisa memejamkan matanya. Dia memilih ke parkiran apartemen dan tidur di mobil. Ada kebiasaan aneh yang ada dalam diri Jonas, dia pernah mengalami trauma masa kecil. Orang tuanya tiada saat Jonas berusia enam tahun, jadi ya wajar saja jika Jonas lebih nyaman tidur di mobil karena dulu orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Jonas lebih nyaman berada di mobil karena dia merasa lebih dekat dari orang tuanya. Ponsel Jonas berdering, sebuah pesan dari adiknya-Mario. "Kak, aku baru saja pulang dari Paris," ucap Mario. Jonas membulatkan matanya, dia terkejut dengan ucapan Mario. Adik Jonas itu bekerja sebagai fotografer, pekerjaannya keliling dunia dan mencari objek-objek indah. "Lalu sekarang dimana?" tanya Jonas. "Ya dibandara lah kak, ini aja baru sampai Jakarta." Jonas lalu mengganti bajunya dan segera menjemput adiknya yang berada di Bandara. Dia menatap arlojinya, jam masih menunjukkan pukul tiga pagi, sebenarnya kepalanya pusing, tapi bagaimana lagi? Adiknya harus dijemput. Mario duduk di bandara sembari memesan roti dan membeli kopi hangat, dia mengantuk sekali, dembari megunyah dia menutup matanya. Menunggu adalah hal yang mengesalkan bagi Mario. Kakaknya juga lama datangnya. Jonas menelpon adiknya, sayang Mario sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar di tembok bandara. Dia mengantuk, kelopak matanya terasa berat. Bahkan telepon dari Jonas pun tidak Mario angkat. Dia benar-benar mengantuk. Jonas sendiri menjadi panik mencari adiknya yang tak kunjung mengangkat telfonnya. Dia menghela napasnya kesal karena Mario tak segera mengangkat telfonnya. Jonas antara geram dan bingung. Dia mengelilingi area bandara, sampai akhirnya matanya menemukan di satu titik. Sosok adiknya yang sedang tertidur di atas kursi. Jonas sedikit tertawa memperhatikan Mario. Dia lalu berjalan mendekatinya dan menatap adiknya dengan seksama. Guratan wajah Mario terlihat bahwa dia sangat lelah. "Mar, ayo pulang dulu." Jonas menyenggol kaki Mario, sayangnya Mario tak bangun juga. Jonas sebenarnya kasihan membangunkan Mario. Dia akhirnya duduk di samping Mario, menemani adiknya yang tertidur. Jonas bukanlah orang kaya yang kaya raya karena berasal dari keluarga kaya raya. Dia merintis karirnya sejak awal. Jonas bahkan tidak sempat berurusan dengan hubungan cinta karena dia sendiri harus bekerja keras demi keluarganya, demi adiknya. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil saat berangkat ke Jakarta dari Bali. Semenjak itu Jonas dan Mario hidup berdua. Mereka berasal dari ibu yang berbeda. Kecelakaan itu terjadi tepat saat usia Mario delapan belas tahun dan usia Jonas dua puluh lima tahun. Semenjak orang tuanya tiada Jonas dan Mario selalu bersama. Namun saat usia Mario kini dua puluh tiga tahun, Mario memilih bekerja di Paris, dia menjadi fotografer busana dan memotret pemandangan di Paris. Jonas ikut mengantuk, dia menjadi ingin tidur juga. Namun Jonas mencium aroma croffle yang menggoda perutnya. Seharusnya dia tidak makan di jam segini, menjaga perut absnya. Sayangnya makin dia mencegah, rasa lapar itu menghantuinya. Jonas akhirnya membeli croffle dan menikmatinya dengan segelas teh hangat. Sesekali Jonas melirik kearah adiknya, dia melihat adiknya yang masih tertidur pulas sembari memejamkan mata dan disudut bibir adiknya ada bekas roti yang masih menempel. Jenis hanya tersenyum dan membiarkannya dia tidak mau sedikitpun membangunkan adiknya. Setelah pukul 6 pagi, lalu lalang di bandara rupanya begitu banyak dan ramai titik sampai akhirnya Mario terbangun sendiri karena kebisingan yang ada di sana dia merenggangkan badannya dan melihat kearah sekitar, rasanya linglung karena dia baru bangun titik Setelah dia menoleh ke samping, dia terkejut saat melihat kakaknya yang sedang duduk sembari menikmati mikrofil dan teh hangat." Ya ampun Kak, Sudah berapa lama kamu di sini?" Tanya Mario sembari menatap kakaknya. Jonas hanya tersenyum mendengar pertanyaan Mario, dia Lalu mengajak Mari untuk segera pulang titik zona sendiri masih mengantuk, Entah kenapa tinggal di apartemen barunya membuat dia merasa sedikit tidak nyaman entah karena bangunannya karena ada yang bocor atau bagaimana dia sedang memanggil tukang cleaning service tapi mereka tak kunjung datang. Tapi untungnya Jones memiliki puluhan apartemen di Jakarta, dia adalah orang yang pintar berinvestasi pada rumah dan tempat tinggal. Jonas mengajak Mario untuk tinggal di tempat lain titik dia mengajak Mario untuk tinggal di apartemen mewah miliknya yang lain. Mereka berdua akhirnya keluar dari bandara termasuk ke dalam mobil. Udara segar di pagi hari sekali menerpa wajah Jonas dan Mario. Mereka menghindari menggunakan AC untuk menghemat bensin. Begitulah Jones, Dia adalah orang yang sangat hebat Bahkan dia sendiri menghemat untuk segala hal kecil dalam hidupnya tidak pagi Jones, menghemat adalah satu-satunya cara untuk dia bisa menjadi kaya raya. Jonas adalah laki-laki yang cerdas dan juga dia orang yang disiplin. "Kak, Apa kamu tidak bekerja hari ini?? Mario saat mereka ada di tengah perjalanan. " Iya tentu saja aku bekerja, tapi aku ingin datang nanti siang jam 10 saja, aku harus melakukan survei lapangan lagi." Mario tersenyum melihat kakaknya, setidaknya dia tahu jika Jonas adalah pekerja keras, Mario lalu membuka isi tasnya. Dia memberikan zona sebuah gantungan menara Eiffel yang kecil. Sejak dulu Jonas sebenarnya ingin pindah ke Paris tapi rupanya nya Jonas masih nyaman di Jakarta. Dia dulu berprinsip akan mencari jodoh di Jakarta dia ingat kata-kata orang tuanya bahwa menikahi orang asing sangat beresiko.", apa Kakak tidak mau untuk ikut tinggal denganku?" Jones menggeleng, meski ratusan kali Mario bertanya kepada John asal yang sama tetapi Jones tetap pada pendiriannya. Dia tetap ingin tinggal di Jakarta titik baginya kota Jakarta meninggalkan kenangan yang begitu banyak tentang keluarganya. Apalagi saat dia masih kecil, keluarganya sangat menyayanginya dan mereka tinggal di rumah besar di Jakarta titik sejak orang tuanya meninggal, zona selalu ingin Jakarta dan tidak mau meninggalkan orang tuanya. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat kepada Amanda, Gadis itu juga senasib dengannya dia tinggal di apartemen di mana rumah lama milih orang tuanya. Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Jones saat ia mengusir Amanda, tapi bisnis adalah bisnis. Sesulit apapun hidup seseorang jika dia diberi cobaan maka harus buat. Sama seperti Amanda saat diusir oleh Jones, seharusnya Amanda tetap untuk bisa move on dan tinggal di tempat yang baru
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN