Surat Apa

1702 Kata
Kulirik ke arah mobil. Mobil Mas Ari masih di tempat semula. Lantas di mana Pak Slamet? Gegas kuberlari kecil menuju pintu yang langsung terhubung dengan ruang tamu. Pintu pun tidak dikunci. Mungkin Mbok Darmi belum tidur. "Nyonya, dari mana?" kutelan saliva yang terasa mengganjal di tenggorokan. Kakiku pun sontak berhenti tepat di keramik pembatas antara pintu dan teras. Cepat aku menoleh ke sumber suara. Benar dugaanku, bahwa itu suara Pak Slamet yang berasal dari depan garasi. "Oh, saya habis cek pintu di samping pagar, Pak. Sudah dikunci apa belum. Hanya untuk memastikan, takutnya Mbok Darmi lupa. Maklum, Pak. Sekarang banyak maling." alibiku meyakinkan. Untung saja, tadi masker dan jaket sudah kulepas dan kutinggal dalam mobil. Jadi, kini penampilanku biasa saja. "Oh, kalau begitu saya mau pamit, Nya. Mau jemput Pak Ari." pamit lelaki berkumis itu. Aku mengangguk dan menyunggingkan senyuman. Tanpa curiga terhadapku, Pak Slamet mengayunkan langkahnya menuju mobil milik Mas Ari. Lalu melajukannya perlahan. Akhirnya napasku yang sempat tertahan. Menghunus juga ke udara. Lega. Oya, aku baru ingat soal surat yang dimaksud Mama dan Mas Ari di mall tadi. Mungkin benda itu amat penting sekali dan ada benang merah antara semua yang terjadi saat ini. "Mbok mau ke mana?" Mbok Darmi yang tengah berjalan dari arah dapur seketika berhenti mendengar pertanyaanku. "Mau tutup pintu garasi, Nya. Udah malam." "Mbok, tadi Pak Slamet nggak kenapa-kenapa 'kan?" kutanyakan hal itu. Takutnya ada sesuatu di luar dugaanku. "Enggak kok, Nya. Tadi Pak Slamet sempat ke toilet. Setelah itu ke luar, dan tiba-tiba ada Nyonya di sini." "Oh, ya udah, Mbok. Makasih ya," Mbok Darmi mengangguk. Lantas aku kembali melanjutkan langkah menuju kamar. Mata ini sibuk menyisir setiap inci dari laci yang barusan kubuka. Niatku mencari surat itu. Nihil, benda yang kuharapkan tak kunjung kutemukan. Bahkan, nyaris semua lemari dalam kamar ini sudah kugeledah dan tak ada hasilnya. Kepalaku mendadak berdenyut nyeri. Mengorek semua dan tak ada hasilnya sama sekali. Apakah aku harus terang-terangan menanyakan perihal surat itu pada Mas Ari? Jangan Vin, jangan. Cari surat itu sendiri saja. yang terpenting adalah. Aku harus segera membalik nama rumah, perusahaan dan kafe yang selama ini dikelola Mas Ari menjadi namaku. Bukan apa-apa, memang sebelum Mas Ari sukses begini. Semua modal dari orang tuaku. Bukan sepenuhnya harta Mas Ari. Jadi, bukankah aku yang lebih berhak atas semua aset ini? Lagi pula, Mas Ari sudah membelikan mamanya Rumah, mobil, dan sebuah toko sembako untuk sumber penghasilan. Tak hanya itu, Mas Ari juga setiap bulan memberi jatah uang pada orang tua juga adiknya yang masih kuliah. Apa jadinya jika semua yang berakar pada Mas Ari harus kutumbangkan. Bisa jadi, hidup mereka akan berubah seratus delapan puluh derajat dari kata mewah. Dari pada aku pusing memikirkan surat Itu. Mendingan aku amankan saja surat rumah dan lain-lain untuk kubalik nama besok. Tanganku terulur pada brankas yang permukaannya dingin karena AC. Dan lalu memasukan beberapa digit angka. Kini, semua aset sudah berada di tanganku termasuk surat kendaraan mobil kesayangan Mas Ari. Aku jadi terpikir, bagaimana jika sandi pada brankas ini aku ganti. Biar tahu rasa dia, sudah isinya kosong. Menjengkelkan pula, karena pin yang susah diterka. Semua berkas ini kuamankan di laci lemari pakaianku. Dan kuncinya hanya ada padaku sekarang. Bahkan Mas Ari pun tak akan pernah tahu keberadaannya. Setengah jam sudah aku menyusuri setiap sudut ruangan ini. Tak hanya gerah body, pikiranku pun ikut-ikutan gerah. Lebih baik aku mandi saja sebelum Mas Ari datang. Akan kuberikan kejutan manis saat nanti ia pulang. * Setelah acara mandiku selesai. Mas Ari juga belum pulang. Baiklah, akan ada kejutan manis untuk menyambut kedatangannya nanti. Rambut kugerai bebas dengan balutan lingerie tipis berwarna hitam yang kontras dengan warna kulitku yang putih bening. Wajah ini kupoles dengan make up natural. Lip cream warna nude sukses menyempurnakan riasan pada wajahku. Grendel pintu terdengar berputar. Itu menandakan Mas Ari sudah pulang. Bagaimana reaksi dia melihat penampilanku malam ini? "Wah, baunya harum sekali ...." terlihat dari bayangan cermin di meja riasku. Mas Ari datang mendekat, setelah ia meletakan jas dan juga tas kerjanya di sofa. Aku yang sedang menyisir rambut hanya tersenyum tipis. Lelaki berwajah teduh itu memelukku dari belakang. "Sayang ... kamu menggodaku saja, lihat nih, junior berontak." bisiknya di ceruk leherku. Membuat bulu kudukku meremang. Jujur, aku teramat jijik dengan sentuhannya. Namun kutahan, agar ia tersiksa dengan yang ia sebut juniornya tadi. "Mas, kamu mandi dulu ya," kataku mencoba melepaskan kedua tangannya yang melingkar di perutku. "Nggak mau, maunya sekarang." rengeknya manja. Bak anak kecil yang tengah meminta permen. "Iya, nanti. Tapi kamu mandi dulu ya," uraiku lembut. Ia memonyongkan bibirnya. "Iya, aku mandi dulu, tapi janji ya, setelah aku mandi." perlahan ia melepas kedua tangannya dan melenggang menuju kamar mandi. Kutanggapi kepergiannya dengan senyuman miring. * "Sayang, sekarang yuk, tadi 'kan kamu janji." Mas Ari yang hanya mengenakan handuk kembali merengek seusai melangsungkan ritual mandinya. "kamu kok ganti baju? Mana lingerienya tadi?" ia yang baru tersadar lantas menegurku yang tengah berbaring di ranjang. "Maaf, Mas. Tamu bulanan aku tiba-tiba datang. Maaf banget ya," tukasku lalu mengerjapkan mata dan menarik selimut hingga sebatas d**a. "Hah! Apa?!" pekik Mas Ari terdengar syok. "argh! kenapa kamu gak bilang dari tadi, Vin?" "Ya aku mana tahu, Mas. Kalau tamu itu tiba-tiba datang." jawabku kembali membuka mata. Mas Ari tak menjawab lagi. Ia melangkah jengah menuju lemari dan membukanya dengan kasar. 'Rasain kamu, Mas. Itu hanya kejutan kecil buat kamu. Belum kejutan manis yang lainnya.' batinku tersenyum devils. Sesaat. Ranjang empuk ini terasa berkempis. Mas Ari tengah menata posisi untuk berbaring di sampingku. Namun ia memilih memunggungiku. Aku tahu, seberapa besar rasa kecewanya terhadapku dan kejadian tadi. Namun, itu tak sepenuhnya membuat hatiku lega dan merasa puas. Kalau belum aku melihat dia dan keluarganya menderita. * "Aku pergi ke kantor dulu ya, kamu baik-baik di rumah." selepas sarapan, Mas Ari berpamitan padaku. Ia bilang akan pergi ke kantor. Ini kesempatanku untuk mengurus surat-surat berharga yang sudah kuamankan semalam. "Iya, Mas. Hati-hati ya," kuraih punggung tangannya dan menciumnya lekat. Lelaki berpakaian rapi ini menarik tengkuk leherku dan mencium keningku lama. "Mas pergi dulu ya," pamitnya lagi. Ia memundurkan tubuhnya dan perlahan melenggang menjauh menuju luar. Kuikuti langkah Mas Ari hingga ke teras depan. Sebelum ia masuk mobil, Mas Ari melambaikan tangannya ke arahku seraya mengemban senyum hangat. Tak pernah menyangka jika di balik senyum dan sikap baik yang selalu ia suguhkan padaku sepanjang pernikahan kami. Ternyata begitu banyak tersimpan kebohongan yang baru akhir-akhir ini kuketauhi. Meski berat, secepatnya ia harus memilih, antara mengakhiri hubungan ini atau melanjutkan semua. Tapi, kurasa ... hatiku akan menolak. Dan mungkin, Mas Ari pun juga akan lebih memilih wanita berhijab itu ketimbang aku. Terlihat dari perangainya yang berbeda saat ia memperlakukan aku dengan Marisa. Baru saja mobil Mas Ari melesak ke luar dari pagar. Nampak motor Pak Slamet memasuki halaman rumah ini. Lelaki paruh baya itu mengenakan helm hitam dan lantas memarkirkan motornya di samping mobil milikku. "Pagi, Nya." sapanya ramah seusai melepas helm dan jaket. "Iya, Pak. Pagi juga." balasku dengan bibir melengkung sabit. "loh, kok, Pak Slamet ke sini? Memangnya enggak kerja di rumah mamanya Mas Ari?" "Enggak, Nya. Kan Pak Ari sendiri yang nyuruh saya buat kerja di sini, sekarang." tak salah lagi. Bila memang Mas Ari sengaja mengekangku di rumah. Haduh, terus aku harus gimana mengurus surat-surat itu? "Ya, udah, Pak. Saya masuk dulu ya," "Iya, Nya. Oya, nanti kalau Nyonya mau ke luar. Biar saya yang antar." kuhela napas berat saat Pak Slamet mengatakan kalimat itu. Jadi makin sulit, dengan keberadaannya di sini. Mana bisa aku mengurus surat itu kalau dia yang antar. Apa lagi, jika benar Mas Ari dan Pak Slamet bersekongkol. Bisa-bisa, gagal semua rencanaku. Sambil berjalan menuju kamar. Kepala ini terus digelayuti beragam pertanyaan dan pening memikirkan cara untuk ke luar dari rumah ini tanpa ketahuan Pak Slamet. Apa aku kasih dia obat tidur lagi ya? Ah, tidak! Nanti bisa-bisa Pak Slamet curiga lagi. Karena tiba-tiba mengantuk seusai meminum minuman seperti kemarin. Huh, jengkel setengah mati aku memikirkan semua. Kenapa harus serumit ini sih? Padahal ini kan rumahku sendiri. Tetapi, aku bagai tahanan kota yang tidak bisa ke mana-mana. Sebuah ide melintas di kepalaku. Lebih baik aku pesan taksi online saja. Dengan begitu, Pak Slamet tidak akan tahu kalau aku ke luar dari rumah ini. Lantas, bagaimana caranya lewat pintu depan yang Pak Slamet biasa duduk di situ? Ah, iya, aku akan menyuruh Mbok Darmi untuk memanggil Pak Slamet ke belakang. Dengan begitu aku bisa ke luar lewat depan. Satu persatu undakan anak tangga usai kuturuni. Sekarang aku tengah mencari keberadaan Mbok Darmi di belakang. Tempat ia biasa mencuci pakaian. "Mbok, sini!" ucapku setengah berbisik dengan tangan melambai pada Mbok Darmi yang tengah sibuk mencuci satu ember pakaian. "Iya, Nya." tak lama, Mbok Darmi datang menghampiri. "ada apa, Nya?" "Mbok, tolong bilang ke Pak Slamet ya, suruh dia mengeluarkan semua barang-barang yang ada di gudang, soalnya mau dibersihkan." "Iya, Nya. Siap." Mbok Darmi mengangguk cepat. "Sekarang ya, Mbok." pintaku. Lagi, ia mengangguk. Setelah memberitahu Mbok Darmi. Aku pun langsung melenggang ke kamar untuk mengambil tas yang berisi surat-surat penting. Tak lupa mengenakan jaket serta masker. Kakiku menginjak lantai teras yang terbuat dari marmer. Sesaat celingukan melihat sekeliling. Ternyata Pak Slamet sudah diajak Mbok Darmi ke gudang yang tadi kusuruh. Terdengar dari derap langkah mereka yang melintas lewat garasi. Cepat kubuka pagar menggunakan remote. Taksi online yang kupesan juga sudah menunggu di depan. "Pak, jalan." pintaku setelah mendudukan bobot di bangku belakang. "Ke mana, Mbak?" tanya supir taksi. "Ke jalan Mawar nomor 102, Pak." kutunjukkan alamat rumah temanku yang seorang pengacara. Jika aku mengurusi surat ini sendiri, akan memakan waktu lumayan lama. Jadi, lebih baik biar temanku saja yang mengurusnya. Agar aku bisa cepat kembali ke rumah. * Selesai sudah dengan surat-surat itu. Semua bisa dibalik nama menjadi namaku. Kecuali mobil Mas Ari. Karena STNK-nya dipegang oleh Mas Ari. Jadi aku tidak bisa membalik nama menjadi namaku. Biarlah, masih mahalan rumah dan seisinya ketimbang mobil itu. * "Marisa, pokoknya kamu harus secepatnya minta uang ke Ari, nyawa ibumu dalam bahaya." mataku sontak melebar mendengar perbincangan Pak Slamet dengan seseorang yang ia sebut Marisa dalam sambungan telepon. Ada hubungan apa antara Marisa dan Pak Slamet? Aku yang tengah bersembunyi di balik pintu pagar. Reflek mengatupkan mulut menggunakan tangan. Ada apa sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN