“Ini kecepatan normal, kebetulan saja jalanannya lenggang.” Hansika mencengkeram lagi, kali ini sabuk pengaman yang memeluk tubuhnya. Lalu ia menatap ke depan—bersamaan kilas-kilas tragedi tabrakan yang terasa nyata. Ia mulai gemetar, berkeringat dingin. Aneh, padahal biasanya saat sama Satya ia tak pernah merasa setakut ini duduk dalam mobil. Nando kembali mendahului mobil, Hansika tidak tahan... sampai ia berkata... “Kamu terlihat sekali mau mengerjai Satya! Entah apa maksud kamu?! Aku enggak peduli selain keselamatanku! Please kurangi kecepatannya, atau berhenti sekalian dan biarkan aku pindah ke mobil lain, bersama Satya!” ancamnya yang sampai membuat Nando menoleh. Ia tatap tunangannya, “Babe, kamu bilang apa—“ “Aku serius, jangan merasa di atas angin ya kamu! Mentang-mentang

