“Hati-hati Satya, rangkul dan pegang saja pundak Papi.” Begitulah suara Hamish beberapa kali terdengar saat membantu Satya turun dari mobil di kediamannya. Rumah yang tadi dimaksud saat memberitahu Satya tujuan pulang pasca perawatannya. Ia tatap rumah itu, lalu diarahkan duduk di kursi roda lagi. Mahanta sigap mendekat, tapi dikode oleh Izz yang membuat iparnya maju. “Biar aku, Pi.” Katanya mengambil alih untuk mendorongnya. Hamish mengangguk, membiarkan putranya mengantar Satya masuk. Eyang Amira dan Eyang Kaflin sudah menunggu di ruang keluarga, langsung menghampiri. Mereka juga sempat menunggui walau dilarang ikut menginap oleh keluarga. “Eyang.” “Syukurlah sudah bisa pulang. Sekali pun di RMC mengusahakan kenyamananmu, akan lebih berasa dirawat di rumah sama istri dan kel

