Lewat Tengah Malam

2372 Kata

Mimpi itu hadir kembali, membuat sepasang mata itu terbuka di waktu yang seharusnya orang-orang masih terbuai mimpi-mimpi. Pelipisnya dipenuhi dengan titik-titik keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya. Basah, padahal mesin pendingin di ruangannya hidup disuhu favoritnya seperti biasa. Hansika terduduk, menarik kedua lututnya hingga bertekuk. Ia tarik dalam-dalam oksigen untuk menetralkan napasnya yang terasa berat seperti habis lari-larian. Sesaat ia terdiam, dengan tangan yang meraba belakang kepalanya. Sudah seminggu berlalu, sehingga perbannya sudah lama dilepas. Ada rasa yang tertinggal, bukan nyata mungkin saja tertinggal karena rasa trauma. Menyibak selimut, Hansika bergegas turun. Langkah membawanya ke kamar mandi, dia mendekat closed duduk yang sensornya otomatis m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN