Nindy masih meringkuk di pojokan ruangan begitu pintu yang selalu menjadi pusat perhatiannya itu terbuka secara-tiba-tiba. Namun pemandangan yang kini tersaji dari balik pintu kayu itu, sama sekali jauh dari hal yang diprediksikannya. Cewek itu bahkan hampir tak mampu mengenali siapa sosok di balik pintu itu. Padahal sosok itulah yang rela tidak makan dan tidak tidur semalaman hanya untuk berusaha memastikan keselamatan adik semata wayangnya. Ya, Galang berdiri di sana, memandangnya. Satu-satunya orang yang ingin Nindy temui, kini hadir dalam jarak lima meter dari posisinya. Namun bagaimana ia bisa merasa bahagia, saat dilihatnya darah segar menghiasi wajah abangnya. Darah itu mengalir dari sudut bibir, lubang hidung, bahkan pelipisnya yang terluka. Alan yang berdiri di samping Galan

