Bab 2

1665 Kata
Deo meregangkan otot-otot tubuhnya setelah seluruh pekerjaan kantor yang dibawanya pulang telah selesai dikerjakannya. Dengan mulut yang menguap lebar karena rasa kantuk yang mendera, ia melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju ke kamarnya. Ia benar-benar ingin merebahkan diri di ranjang empuk miliknya dengan sesegera mungkin. Dan semoga saja Aurel belum tidur karena ia ingin meminta gadis itu untuk memijat tubuhnya yang terasa pegal tak karuan. Hanya sepi yang didapatnya saat dirinya sudah berada di dalam kamarnya. Ia mendekati ranjangnya dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. Pasalnya, ranjangnya masih rapi seperti tak tersentuh. Padahal ia ingat jika tadi ia menyuruh Aurel untuk masuk ke kamarnya. Dan kamar yang dimaksud Deo itu adalah kamar mereka. Berhubung bekas kamar Aurel dan Dominica sudah ia sulap menjadi ruang kerja khusus untuknya, ia memutuskan agar mereka tidur seranjang saja. Lagi pula, Aurel memiliki kadar halusinasi yang tinggi tentang makhluk gaib sehingga membuatnya selalu berhalusinasi yang tidak-tidak jika sudah berada sendirian di dalam kamar. Selain itu, Aurel juga tidak keberatan jika mereka tidur seranjang karena ia tahu jika Deo tak akan berbuat macam-macam kepadanya. Gadis itu tahu jika Deo adalah penyuka sesama jenis dan sudah memiliki kekasih yang sedang berada di luar negeri. Deo melangkah keluar dari kamarnya, bermaksud untuk mencari keberadaan Aurel. Namun, hasilnya nihil. Ia sudah memutari area dapur sampai ke depan apartemennya, tetapi gadis kecil itu tetap tidak bisa ia temukan keberadaannya. Deo kembali ke kamarnya. Berniat untuk mengganti celana pendeknya dengan celana hitam panjang serta menutupi kaosnya dengan jaketnya. Setelah mengambil kunci mobilnya, ia segera melesat ke parkiran apartemennya untuk mengambil mobilnya lantas pergi untuk mencari Aurel dengan segenap amarah yang mengumpul penuh di dadanya. Deo yakin jika gadis itu pergi ke pesta ulang tahun temannya saat dirinya tengah sibuk dengan pekerjaannya. Untungnya ia mempunyai beberapa teman yang bekerja di kelab malam yang tersebar di daerah tempat tinggalnya sehingga mudah baginya untuk mengetahui kelab mana yang sudah di-booking untuk pesta ulang tahun. Deo segera memarkirkan mobilnya setelah sampai di kelab malam yang menjadi tujuannya. Untungnya hanya ada satu kelab malam yang malam ini sedang mengadakan birthday party sehingga ia tak perlu repot-repot mengunjungi seluruh kelab yang ada di daerahnya. Ia berharap jika Aurel benar-benar ada di dalam kelab tersebut. Karena jika tidak, ia tak tahu lagi harus mencarinya kemana. Tak ada yang bisa ia hubungi selain keluarga gadis itu sendiri. Dengan sedikit bantuan temannya, Deo akhirnya diperbolehkan untuk masuk ke dalam kelab tersebut. Ternyata sang pemilik acara membuat pesta tersebut secara tertutup. Hanya orang-orang yang memiliki undangannya sajalah yang boleh masuk ke dalam. Suara dentuman musik yang kuat serta bau alkohol dan asap rokok yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut kedatangan Deo. Ia mengitari pandangannya ke seluruh ruangan yang terbilang cukup besar tersebut. Ternyata pestanya cukup meriah, bahkan terlalu meriah untuk ukuran seorang mahasiswa. Pandangan Deo terhenti saat dirinya menemukan objek yang dicarinya sedari tadi. Ia menemukan Aurel yang sedang tertawa bersama teman-temannya di atas kursi tinggi yang terletak di samping meja bar. Deo berjalan menghampiri Aurel yang kala itu berada dalam posisi memunggunginya. Ia memberikan kode kepada teman Aurel yang sudah melihatnya untuk tetap diam. Ia sedikit menunduk dan mendekatkan bibirnya pada telinga Aurel lantas membisikkan sesuatu kepadanya. "Hai, Unyil. Menikmati pestanya, huh?" Tawa Aurel yang tadinya terdengar begitu kuat, kini sudah lenyap tak bersisa. Tubuhnya menegang di tempat. Ia sangat mengenal suara yang baru saja membisikkan sesuatu di telinganya, dan semoga saja suara itu hanya sekadar halusinasinya. "Anne, ada apa denganmu?" tanya Aurel dengan alis yang saling bertaut saat melihat temannya itu yang terdiam kaku sambil melirik bergantian dari wajahnya ke belakang tubuhnya. Anne memberikan kode lewat lirikan matanya kepada Aurel, memberitahukan kepada gadis itu bahwa Deo sedang berada di belakangnya. Dengan hati waswas tak karuan, Aurel memberanikan diri untuk menoleh ke belakang tubuhnya. Napasnya tercekat dan terhenti selama beberapa detik saat matanya bertumbukan dengan seorang pria yang sangat di kenalnya yang tengah berdiri menjulang tinggi di hadapannya dengan senyuman penuh artinya. Aurel berusaha menormalkan raut wajahnya dan bersikap seperti tak terjadi apa pun. "Hai, Kak," sapanya dengan cengiran lebar yang menghiasi wajahnya untuk memanipulasi rasa takutnya. "Ikut pulang bersamaku?" Aurel menelan ludahnya susah payah ketika ia mendengar sebuah pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan karena Deo mengatakannya dengan nada suara yang sedikit mengancam. Dan senyuman mengerikan yang terpatri di bibir Deo membuat kepalanya mengangguk dengan cepat. Aurel langsung mengambil tas yang ia bawa saat Deo mengisyaratkan kepadanya untuk mengikuti langkahnya. Sebelum berjalan mengikuti langkah Deo, Aurel menatap Anne dengan tatapan nelangsanya. Anne hanya mengepalkan kedua tangannya di udara untuk menyemangati temannya itu. Sepanjang perjalanan, Deo hanya diam dengan tangan yang mencengkeram kuat setir mobil. Wajahnya tampak datar dan dingin. Aurel bergidik ngeri saat melihat ekspresi Deo yang seperti itu. Rasanya ia ingin memutar waktu dan lebih memilih untuk tak menghadiri pesta ulang tahun tersebut jika melihat reaksi Deo yang semarah itu terhadapnya. Sesampainya di apartemen, Deo langsung memilih untuk pergi ke dapur tanpa memedulikan Aurel sedikit pun. Menenggak alkohol sepertinya bisa membuat emosinya sedikit berkurang. Sementara itu, Aurel tampak bingung harus melakukan apa ketika Deo meninggalkannya begitu saja. Ia bahkan merasa kaget saat melihat pria itu duduk di meja makan dengan sebotol alkohol yang berada digenggamannya. Dengan langkah gusar ia segera menghampiri Deo. Deo terus menenggak alkohol tersebut langsung dari botolnya. Ia tak melirik ke arah Aurel yang berdiri gelisah di sampingnya. Sungguh, ia sangat tak suka jika gadis itu pergi ke kelab malam. Ia hanya tak ingin gadis itu terjebak di dalam dunia malam tersebut. Ia tak ingin Unyil-nya yang polos itu ternodai oleh gemerlapnya dunia malam yang sewaktu-waktu bisa menyesatkannya. Aurel menghela napas panjang seraya menundukkan kepalanya. "Kak, maaf," ucapnya dengan suara yang terdengar begitu lirih. Hanya kata itu yang bisa diucapkannya saat ini. "Sebaiknya kau tidur." Aurel mendongak dan menatap Deo dengan ekspresi sedihnya. "Kak," lirihnya lagi. "Aku bilang tidur!" ucap Deo dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya sambil menatap Aurel dengan tajam. Aurel kembali menunduk dan segera masuk ke dalam kamarnya dengan air mata yang sudah siap untuk keluar dari persembunyiannya.   ****   Aurel bergerak gelisah dalam posisi berbaringnya. Sudah berulang kali ia mencoba untuk menutup mata dan segera berkelana di alam bawah sadarnya, tetapi halusinasinya yang berlebihan selalu membuatnya takut untuk menutup mata. Biasanya ada Deo yang selalu meminjamkan dadanya agar tatapan Aurel tak berkelana kemana-mana. Tak jarang pula Deo mengelus rambutnya sebelum tidur agar ia tak mendapatkan mimpi buruk. Tetapi, sekarang yang didapatinya hanyalah kekosongan. Semua itu terjadi karena kesalahannya. Aurel bangkit dari posisi tidurnya. Ia duduk sebentar sambil mengusap wajahnya dengan gelisah. Ia tampak menghela napas panjang sebelum bangkit dari ranjangnya dan bergegas untuk mencari Deo. Setelah menemukan Deo yang ternyata tidur di atas sofa bed yang berada di ruang tv, Aurel kembali ke kamarnya untuk mengambil selimutnya. Setelah itu, ia mengambil posisi rebahan di samping Deo dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Untungnya sofa tersebut lumayan besar ukurannya, sehingga masih muat untuk menampung tubuh mereka berdua. Diam-diam Aurel menenggelamkan kepalanya di d**a Deo, bagian tubuh Deo yang selalu berhasil membuat dirinya bisa terlelap hanya dalam hitungan detik.   ****   Kecupan-kecupan kecil yang mendarat di wajah Deo, membuat tidur pria itu sedikit terusik, tetapi tak membuatnya segera membuka matanya. "Uncle, bangunnnnn!!" suara melengking khas anak-anak menggema kuat di kamar Deo, mencoba untuk membangunkan pria itu. Bocah kecil yang sedari tadi membuat ruangan itu menjadi ramai, berdecak kesal saat melihat Deo yang masih mempertahankan tidurnya. Ia kembali menciumi wajah Deo dengan brutal. Hal tersebut langsung membuat Aurel tergelak kuat di tempatnya. "Aunty, bantuin Jevin dong," rengek bocah kecil itu saat ia mulai merasa lelah untuk membangunkan Deo yang tidur seperti mayat. "Uncle lagi marah sama aunty. Jevin aja yang bangunin." "Uncle, bang..." teriakan Jevin terhenti saat tangan besar Deo merengkuh tubuhnya dan menenggelamkannya di pelukannya tanpa membuka matanya sedikit pun. Jevin tak henti-hentinya menjerit kecil dan terkadang tertawa keras saat ia tak berhasil melepaskan pelukan Deo yang mengurung tubuh kecilnya dengan erat. Aurel tersenyum geli melihat tingkah kedua lelaki tersebut. Ia menumpukan dagunya di lengan Deo agar bisa menatap Jevin yang terus meronta-ronta di dalam pelukan Deo dengan leluasa. "Aurel, singkirkan dagumu dari lenganku. Aku masih marah denganmu," ucap Deo dengan nada sinisnya sambil terus mempertahankan pelukannya di tubuh mungil keponakannya itu. Matanya juga masih tertutup rapat. Aurel tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu jika Deo sudah tak semarah kemarin malam. Buktinya saja, Aurel mendapati dirinya bangun di atas ranjang kamar mereka dengan lengan Deo yang melingkari perutnya seperti biasanya. Sebenarnya Aurel masih tak rela melepaskan pelukan Deo yang entah kenapa selalu membuatnya merasa nyaman, tetapi berhubung ibunya datang dan meminta bantuan untuk menjaga anak Dean dan Dominica yang masih berumur lima tahun itu, mau tak mau Aurel harus rela melepaskannya. Ia berharap Deo tak akan marah lagi dengannya agar ia bisa dengan bebas menikmati pelukan Deo setiap detiknya. "Kiss on cheek or kiss on forehead?" rayu Aurel. Gadis itu selalu memakai cara itu untuk meluluhkan hati Deo. Pria itu sangat senang jika seseorang mencium pipi ataupun keningnya, karena ia merasa sangat disayangi. Aurel memainkan rambut hitam Jevin. Bocah kecil itu sudah tak meronta lagi. Tangannya sibuk menekan-nekan hidung Deo. "I don't want your kiss. Menyingkirlah," Deo menggoyangkan lengannya agar Aurel menarik dagunya dari lengannya. Aurel menggeleng keras kepala. Pagi ini ia ingin masalahnya dengan Deo terselesaikan. Ia ingin kakaknya yang cerewet sekaligus perhatian itu kembali lagi. Bukan pendiam seperti tadi malam. Deo menghela napas jengah. Ia membuka matanya dan melirik sinis ke arah Aurel yang hanya dibalas dengan cengiran lebar oleh gadis itu. Deo membisikkan sesuatu di telinga Jevin. Sedetik setelah ia selesai menyampaikan maksudnya kepada Jevin lewat bisikannya, Aurel sudah jatuh dengan posisi telentang di atas ranjang karena gerakan Deo yang sangat tiba-tiba membuatnya lengah. Aurel tergelak saat jari-jari Deo dan Jevin menggelitiki perutnya. Gadis itu terus memohon agar kedua lelaki itu menghentikan gelitikannya. Seolah belum puas menyiksa Aurel, Deo terus menggelitiki Aurel. Begitupula dengan Jevin, bocah kecil itu memang sangat suka menjahili orang. Dan pagi yang cerah itu, semakin terasa cerah karena tingkah mereka semua dan tawa bahagia yang keluar dari bibir mereka masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN