BAGIAN 9 - MENGATAKAN SEBENARNYA KEPADA EL

1019 Kata
Selamat Membaca Semuanya ...... ---------------------------------------------------------------------------------------- El yang baru saja tiba di rumahnya mengernyit heran ketika melihat mobil sang mami sudah terparkir rapi di garasi rumah. "Tumben si mami udah pulang jam segini? Biasanya juga pulangnya agak maleman dikit." Tak ingin berdiam lebih lama di garasi, El langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. "MAMI! YUHU! ANAKMU YANG GANTENGNYA GAK KETULUNGAN INI SUDAH PULANG DALAM KEADAAN YANG SELAMAT SENTOSA." Fany yang mendengar teriakan nyaring dari sang anak pun langsung menyambut kedatangan El dengan tersenyum lembut. "Eh, anak mami yang ganteng udah pulang ya? Ganti baju dulu yuk, nak. Habis itu makan. Mami udah masakin makanan kesukaan kamu. Indomie goreng plus telur dadar kan?" "Aroma-aromanya ada yang beda nih. Kok aku jadi curiga ya lihat mami berubah jadi manis gini?" selidik El. "Ah! Mami gak bisa lembut-lembut gini sama kamu. Ganti baju sana. Habis itu makan. Setelahnya ada yang mau mami omongin sama kamu. Penting!" ucap Fany yang berubah kesetelan awal. "Ngomongin apa nih? Kok aku jadi kepo. Mami mau nikah ya? Iya kan?" tebak El dengan mata yang menyipit. Plak! Tangan Fany langsung mendarat dengan indah di bahu milik El. "Sembarangan kamu. Udah sana, cepat ganti baju. Terus makan. Gak pakai lama ya, El." "Bikin orang penasaran aja" dumel El sambil melangkahkan kakinya menuju kamar. "Anak siapa sih? Perasaan gue dulu gak gitu-gitu amat. Kelebihan micin kali ya makanya setelan agak-agak gitu" gumam Fany heran. ***** "Jadi, mau ngomongin apa nih? Kayanya penting banget sampe-sampe tuh muka tegang amat kaya mau wawancara kerja" ucap El yang kini duduk di samping maminya. Mengabaikan ucapan El, Fany justru meremat kedua tangannya. Dia sebenarnya bingung ingin mulai berbiacara dari mana kepada El. Padahal sebelum El pulang tadi dia sudah memikirkan kata-kata yang akan menjadi kalimat pembuka pembicaraan mereka. Namun setelah El berada di dekatnya, kata-kata yang sempat dia pikirkan tadi buyar seketika. "Mami ..." panggil El heran melihat gelagat aneh dari maminya yang tak biasa. "Sebenarnya---- itu loh El" resah Fany. "Apa sih, mi? Yang jelas dong ngomongnya. Itu apa? Mami mau izin nikah?" tebak El. "Bukan" sahut Fany cepat seraya menggelengkan kepalanya. "Terus apa mami ku sayang?" greget El. "Mami sebenarnya udah ketemu sama papi kamu" ungkap Fany pada akhirnya seraya menghembuskan nafasnya kasar. El yang mendengar itu sontak melebarkan kedua matanya. "Serius? Mami beneran udah ketemu sama papi? Kapan? Di mana?" "Mami waktu itu lagi ngajuin kerja sama dengan salah satu perusahaan. Ternyata, perusahaan yang mami ajuin itu adalah perusahaan milik papi kamu. Jadinya, mami ketemu deh sama dia" jawab Fany. "Terus reaksi papi ketemu sama mami gimana? Ada adegan kaya di sinetron-sinetron gitu gak? Misalnya kaya mami atau papi sama-sama kaget gitu? Atau mami atau papi pura-pura gak saling kenal gitu? Atau mami malahan nampar papi? Cerita dong, mi." Mendengar pertanyaan dari El membuat Fany benar-benar enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bukannya apa, dia hanya malas untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada anak itu. Yang ada anak itu akan semakin bertanya lebih lanjut. "Mi ..." desak El. "Ya gitu deh, El. Tapi yang pasti papi kamu ingat sama kejadian yang pernah kami lakukan dulu. Awalnya mami kira meskipun papi kamu ingat, dia gak bakal terlalu peduli dan gak bakal mikir jauh tentang kehadiran kamu. Tapi, mami salah. Papi kamu malah dengan sendirinya mendatangi mami ke butik buat membuktikan kalau kamu benar-benar anaknya. Mami akhirnya jujur dan papi kamu akhirnya tau kebenarannya." "Satu hal yang harus kamu tau, papi kamu keliatan senang sejak tau kalau kamu memang benar anaknya. Bahkan, tanpa sepengetahuan mami, kamu dan papi kamu sudah pernah ketemu lebih dulu." Mendengar ucapan terakhir dari maminya, membuat El sontak mengerutkan keningnya. "Ketemu sama papi? Kapan? Ngaku-ngaku doang kali." "Itu loh, katanya papi kamu, kamu pernah nolongin dia buat ngehajar orang-orang dari suruhan rival bisnisnya beberapa waktu lalu Ingat gak kamu?" jelas Fany. El langsung melebarkan kedua matanya terkejut. "Jadi, om-om yang pernah aku tolongin itu papi, mi?" "Iya, orang yang kamu panggil om-om itu adalah papi kamu sendiri" jawab Fany mengiyakan. "Benar kata orang, dunia itu tak selebar daun kelor" gumam El. "Jadi, kamu udah tau kan siapa papi kandung kamu? Berarti, kamu udah gak penasaran lagi kan sama wujud dan muka papi kamu?" tanya Fany. "Iya sih. Tapi, mi. Itu si papi pasti udah punya istri sama anak kan? Gimana respon istri sama anaknya coba kalau tau suami dan ayah mereka punya anak yang udah segede aku gini? Apa gak kaget tuh?" Fany yang mendengar ucapan El itu pun tersenyum. "Kamu tenang aja, papi kamu belum punya istri apalagi punya anak. Anaknya itu cuma kamu." "WHAT? Beneran ini si papi belum punya istri sama anak, mi? Masa sih? Tapi kok mukanya udah kaya om-om yang punya anak ya?" tanya El dengan wajah yang terkejut. "Mami udah tanya sendiri sama orangnya langsung. Kalau kamu gak percaya, ya kamu tanyain aja langsung sama papi kamu sana" jawab Fany enteng. "Cocok ini mah" celetuk El dengan senyuman di wajah tampannya. "Cocok apa? Jangan macam-macam ya kamu, El" ucap Fany dengan mata yang melotot. "Mami single, papi single, nikah aja lah biar kita jadi keluarga beneran" usul El dengan tersenyum menggoda. "Heh! Mulutnya! Awas aja ya kamu ngomong macam-macam di hadapan Papi kamu nanti. Mami rantai si Meong biar gak bisa kamu pakai" galak Fany. "Kita mau ketemu sama Papi?" tanya El terkejut. Fany langsung menganggukan kepalanya. "Iya, Papi mau ketemu sama kamu setelah mami ngasih tau semua ini sama kamu." "Kapan?" tanya El. "Ya secepatnya. Papi kamu kayanya gak sabaran banget mau ketemu sama kamu. Dia bahkan udah spam mami berkali-kali buat nanyain apa mami udah ngasih tau sama kamu atau belum " jawab Fany sambil memperlihatkan handphone nya kepada sang anak. "Nanti kalau ketemu sama papi sapa gimana ya, mi? Hey, bro? Kemana aja nih? Tua juga ya lo bro kalau di lihat-lihat? Gitu apa ya, mi?" tanya El bercanda. "Terserah kamu deh, El. Mau kayang kek kamu, lompat-lompat kek. Terserah, El. Mami cape banget sama tingkah kamu yang semakin hari semakin aneh." Setelah mengatakan itu, Fany langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan El sendirian di ruang tengah. "Gini amat jadi orang ganteng. Selalu dapat balasan kata terserah" gumam El lelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN