Vando memijit pelipisnya, menatap deretan kertas-kertas laporan yang berada di tangannya. Emosinya sudah benar-benar di puncak kepala. Dengan kesal, ia melempar kertas-kertas itu ke atas meja kerjanya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya terpejam, mencoba meredakan emosi yang menyelimutinya. Sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengan gadisnya. Kesibukannya di kantor benar-benar menyita waktunya, membuat ia pulang larut malam tanpa sempat mengunjungi gadisnya. Gadisnya pun saat ini sedang sibuk dengan skripsi. Vando kembali membuka matanya. Ia menghembuskan napas lelah. Ia benar-benar ingin sekali bertemu dengan gadisnya, tapi kerjaan di kantor benar-benar tak bisa ditinggalkan, membuatnya emosi. Tak hanya itu, hari ini pun karyawannya benar-benar membuatnya emosi karena membua

