Chapter 12

1310 Kata
    -Kita tidak pernah tahu kapan datangnya cinta. Cinta itu datang bagaikan bibit bunga yang terbang dan hinggap tanpa kita sadari keberadaannya.-       Beberapa saat sebelumnya,     Brandon berjalan mengikuti arah ranjang Celline dibawa oleh para perawat. Ia bersama dengan Ibu Celline, Marriane dan Aldi. Mereka mengikuti ranjang itu hingga berhenti di kamar perawatan biasa. Kejadian menegangkan beberapa saat yang lalu membuat ketiga orang itu merasa begitu panik, cemas dan sedih bercampur jadi satu. Wajah Celline terlihat sangat pucat akibat kehabisan darah akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya di hari pertunangannya dengan Brandon. Celline menolak Brandon bahkan hingga memilih untuk mati daripada bersama dengan Brandon. Sebuah penolakan besar bagi seseorang yang mencintainya dari dulu. Dan itulah yang Brandon rasakan kini.     Para perawat sudah selesai mengerjakan bagiannya. Mereka undur diri dan tinggallah ketiga orang itu di dalam ruang perawatan. Aldi menyadari keberadaannya dan memilih untuk keluar dari ruangan. Brandon melihat Aldi yang keluar dari ruangan. Mungkin saat ini harusnya ia yang keluar, bukan Aldi. Brandon merasa bersalah dengan apapun yang telah terjadi. Jika saja ia tidak jadi egois dan memikirkan perasaan Celline, pasti hal ini tidak akan terjadi.     Ia berdiri di belakang Marriane yang duduk sambil menangis dan menggenggam tangan Celline yang lemas. Ia berusaha menenangkan tangisan wanita itu, namun sepertinya usahanya sia-sia. Wanita itu juga merasakan bersalah yang amat dalam atas kejadian yang menimpa Celline. Putri satu-satunya meregang nyawa akibat keras kepalanya.     Kini hari sudah sore dan Celline masih tidak sadarkan diri. Para penjenguk keluar dari kamar Celline, termasuk Marriane. Tinggallah Brandon di sana seorang diri. Ia duduk di kursi sebelah ranjang Celline. Ia ingin memegang tangan Celline namun ia ragu. Ia sadar akan andilnya dalam kejadian ini. Ialah yang bersalah. Tidak seharusnya ia memaksakan kehendak agar Celline bersamanya.     “Celline… maafkan aku. Aku memang egois. Aku tidak memahami perasaanmu dan bahkan aku tidak mau kau menjadi milik orang lain. Aku bodoh, Brandon yang bodoh! Maafkan aku…” Brandon meneteskan air mata penyesalannya.     “Kak Aldi…. Kak Aldi…” tiba-tiba Celline mengigaukan nama Aldi. Brandon terkejut sekaligus tahu jawaban Celline. Hatinya hanya untuk Aldi seorang. Bagaimanapun ia mencoba, Celline tidak akan pernah menjadi miliknya. Jika memang ia berjodoh dengan Celline, mungkin suatu saat nanti Celline akan berpaling padanya. Tapi saat ini, sepertinya bukan dirinya yang dipilih Celline.     Brandon menangis. Hatinya terasa pedih dan ia kecewa. Ia keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Celline sendiri. Ia tidak bisa menatap Celline. Hatinya terlalu kacau. Ia hancur. Langkah kakinya gontai, badannya lemas ketika melangkah keluar dari kamar Celline. Ia bahkan tidak mengindahkan suara Fabby, sahabat Celline yang menanyakan kondisi Celline seolah telinganya tuli.      Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaaan hampa. Ia terus berjalan hingga akhirnya sampai di taman rumah sakit. Ia duduk di tengah taman dan memandang langit di atasnya. Ia mengingat semua masa lalunya, bagaimana ia mulai menyukai Celline, bagaimana mereka berdua berjalan bersama, setiap kencan yang ia lalui bersamaa Celline. Semuanya muncul dalam ingatan Brandon.     Hatinya mencelos. Rasa sedihnya kembali membuncah. Ia menunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Biarlah orang lain memandangnya dengan aneh tapi biarlah itu terjadi. Toh, tidak ada salahnya melihat seseorang bersedih di rumah sakit.     Hingga gadis berkursi roda itu datang di hadapannya dan menebak apa yang dialaminya. Sial! Tebakannya memang jitu. Brandon sedang patah hati.     “Sini… sini… cerita sama Tante,” kata gadis itu dan sukses membuat sudut bibir Brandon terangkat sedikit.     “Kau berkata seolah mengerti perasaanku padahal aku tidak mengenalmu dan kau tidak tahu kisahku,” jawab Brandon sinis.    “Yah, memang aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi aku ini ahli dalam membaca raut wajah dan gesture tubuh. Wajahmu yang kusut, sudut mata yang berair, baju yang basah, dan wajah yang sulit tersenyum itu menggambarkan kau sedang mengalami masalah. Sudut matamu yang basah menunjukkan kau sedang mengalami kesedihan yang luar biasa hingga menangis. Apa lagi jika itu bukan tanda orang patah hati?”     Brandon mengeluarkan senyumannya.     “Yah… yah... yah.. tebaklah sesukamu,” jawab Brandon sambil menatap Cassie. Sejenak ia melihat bulatan mata Cassie mirip dengan seseorang, tapi otaknya tidak mampu berpikir lebih jauh.     “Kau mau bercerita? Dalam ilmu konseling yang kupelajari di kuliah dulu, seseorang yang memiliki masalah berat akan merasa lebih ringan jika ia menceritakan isi hatinya. Kau mau coba membuktikannya?”     “Well… aku tidak biasa membagikan privasiku pada orang yang tak kukenal,” kata Brandon.     “Hei, kau pikir aku ini bermulut besar? Aku tidak akan menceritakan masalahmu pada orang lain. Aku sudah disumpah waktu kelulusanku dulu. Jadi ceritalah… aku siap mendengar,” kata Cassie yang terus memaksa. Ia sungguh ingin membantu tapi mungkin caranya membuat orang lain sedikit risih.     “Dasar cerewet!” sahut Brandon.     “APA??? Aku sudah berbaik hati untuk mendengarkan ceritamu dan kau memanggilku cerewet?”     Brandon tertawa melihat wajah Cassie yang marah. Entah mengapa wajah itu terlihat begitu lucu. Cassie menjadi kikuk. Apa yang salah dengan dirinya? Atau memang orang yang patah hati itu mengalami pergeseran otak juga?     “Me-mengapa kau tertawa?” tanya Cassie heran.     “Hahahahha… maafkan aku, tapi wajahmu begitu lucu. Baru pertama kali aku melihat seorang wanita dengan wajah yang lucu saat marah sepertimu. Hahahahaha”     Cassie memegang pipinya. Apa yang salah dengan wajahnya?     “Sudahlah. Kalau kau tidak ingin ditolong, aku pergi saja! Sekedar informasi saja, aku ini dikenal sebagai Guru Cinta. Banyak pasangan yang mau berkonsultasi denganku. Kau akan rugi jika tidak menggunakan jasaku," kata Cassie sambil menggerakkan kursi rodanya untuk pergi. Tapi tangannya ditahan oleh Brandon. Brandon menghentikan tawanya lalu mengusap air mata karena tertawa.     “Maafkan aku. Kurasa perasaanku menjadi lebih terhibur karena dirimu.”     “Tuan, memang aku badut hingga membuatmu tertawa seperti itu? Aku tersinggung, tahu!”     “Baiklah… baiklah. Maafkan aku.”     Wajah Cassie yang merengut berubah menjadi sumringah kembali.     “So, do you want to talk?” tanyanya penasaran. Brandon menghela nafas. Ia merasa mungkin berbagi kisah dengan gadis antah berantah ini tidak menjadi masalah. Toh, gadis itu tidak mungkin mengungkit masalahnya di hadapan orang-orang yang ia kenal bukan?     Brandon akhirnya menceritakan semua yang ia alami pada Cassie. Cassie mendengarkan dengan seksama dan menanggapi cerita itu dengan serius layaknya seorang konsultan. Brandon menghela nafasnya ketika selesai mengutarakan semua rasa yang mengganjal di hatinya.     “Malang sekali nasibmu. Aku bisa memahami bagaimana perasaanmu saat ini. Tertolak bahkan ia lebih memilih mati daripada harus bersamamu. Mungkin kejadian ini membuatmu belajar bahwa mungkin saja ada hal tertentu yang perlu kau perbaiki dalam hidup,” tanggap Cassie.     “Yah, kurasa mungkin seperti itu.”     “Tapi jangan pernah kapok untuk mencintai seseorang. Memang ketika kau memilih mencintai, mungkin kau harus siap dengan patah hati lagi. Namun, bukankah hidup itu sebenarnya jauh lebih bermakna ketika kita memiliki seseorang yang kita cintai? Jadi, jangan pernah takut untuk jatuh cinta lagi,” kata Cassie menasihati.     Brandon terdiam dan memandang Cassie dengan serius.     “Mungkin dia hanya bukan orang yang tepat untuk cintamu,” kata Cassie sambil membalas tatapan Brandon.     “Anyway, kurasa ini waktunya makan malam. Aku harus kembali ke kamarku karena mungkin perawat di sana sedang mencariku,” kata Cassie membuyarkan adegan tatap menatap itu.     “Terima kasih banyak atas penjelasanmu. Kurasa mungkin ini memang ini saatnya aku menyadari kekuranganku dan memperbaikinya.”     “Kau jauh lebih baik sekarang?” Brandon mengangguk dan tersenyum.     “Hmm… baiklah! Aku kembali sekarang,” kata Cassie sambil menggerakkan kursi rodanya menjauh. Tapi baru beberapa meter, ia berhenti dan membalikkan kursi rodanya.     “Hei, Tuan Patah Hati! Kalau kau ingin mendapatkan kembali cintamu, datanglah ke kelas cintaku."     Brandon berdiri dan mendekati kursi roda Cassie.     “Kelas cinta?"     Cassie mengangguk.     “Aku membuka kelas untuk mereka yang ingin memperbaiki diri agar bisa dicintai orang lain. Mungkin kalau kau bersedia, kami akan memulai kelas kami bulan depan. Kau bisa belajar dan memperbaiki dirimu di sana.” Brandon memasukkan tangannya di kantong celananya sambil mengangguk-angguk.     Pria itu nampak tertarik dengan tawaran Cassie.     "Itu... kelas cintamu ada di mana? Mungkin... kalau ada waktu aku bisa ke sana."     Cassie menepuk jidatnya. Ia menyadari dia sedang tidak di Singapura. Jadi, agak mustahil untuk membuat pria patah hati ini mengikuti kelasnya. Ia meringis.     "Di Singapura."     Brandon tersenyum.     "Kau menawarkan kelas cinta di Singapura sementara aku di Surabaya? Konyol sekali."     Wajah Cassie nampak malu-malu lalu menjalankan kursi rodanya menjauh sambil melambaikan tangannya ke arah Brandon.     "Anyway, terima kasih!" teriak Brandon karena Cassie sudah berjalan menjauh.  Setelah keberadaan Cassie sudah nun jauh di sana, Brandon teringat sesuatu.     “Heii!!! Aku belum tahu namamu!” teriaknya di koridor. Namun terlambat, lift yang membawa Cassie sudah menutup.     “Siapapun dirimu, aku berterima kasih.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN