Chapter 9

1280 Kata
-Mereka yang dengan tulus mencintai kita tidak akan pernah menunda memberikan bantuannya, baik atau tidak baik waktunya.-    Cassie mengendikkan bahunya. Jujur ia sudah kehilangan akal bagaimana ia bisa menemukan sponsor dalam waktu hanya 3 hari? Tapi, ia percaya pasti ada jalan bagi mereka yang mau percaya.     “Entahlah, aku masih belum memikirkan cara apa lagi yang bisa kita pakai. Sepertinya kita harus kembali mengirim proposal ke banyak organisasi dan perusahaan lain.”     Kedua sahabat Cassie menghela nafasnya. Lagi-lagi mereka harus mengerjakan hal yang melelahkan itu lagi. Selepas Cassie menutup panggilan videonya, Donna dan Ning Fang berdiskusi bersama.     “Kau mau melakukan itu lagi?” tanya Ning Fang.     “Jelas tidak! Itu melelahkan. Kau tahu betapa malu dan lelahnya aku ketika harus mendatangi perusaahaan besar satu per satu lalu berakhir dengan pengusiran sopan mereka. Huh…. Kalau aku diminta melakukannya lagi… NO WAY!!!” kata Donna sambil menyilangkan tangannya membentuk tanda X.     “Aku pun juga tidak,” sahut Ning Fang.     “Lalu? Bagaimana?” Kedua kompak menopang dagu mereka di meja café itu sambil menyeruput minuman mereka hingga habis. Donna tiba-tiba menggebrak meja dan membuat Ning Fang berjingkat disertai pandangan kaget dari banyak orang di sekitarnya. Donna meringis meminta maaf.     “Bagaimana jika kita meminta bantuan Nico?” katanya berbinar. Ning Fang menoyor kepala Donna.     “Kau tidak dengar apa kata Cassie tadi? Dia tidak mau merepotkan keluarganya.”     Donna melipat tangannya di depan d**a.     “Hmmm… tapi bagaimana jika kita meminta bantuan Nico tapi tanpa memberitahukan namanya pada Cassie? Tentu saja ia tidak tahu bukan?”     “Tidak! Itu pilihan yang sangat beresiko. Jika Cassie tahu, ia bisa marah besar dan itu akan merusak persahabatan kita,” tolak Ning Fang.     “Lalu apa kau ingin mimpi Cassie hancur?”     Ning Fang tertunduk lesu.     “Tentu saja tidak,” jawabnya.     “Nah, kalau begitu tidak ada pilihan lain. Hanya Nico yang bisa membantunya. Dia yang berjanji pada Cassie jika ia menemui masalah, Nico siap membantu. Bukan begitu? Dan, sekarang masalahnya menjadi sulit dan hanya Nico satu-satunya pilihan terbaik kita.” ***     Cassie mengamati layar monitornya dengan seksama. Ia mengamati isi proposal yang ia buat. Sesekali ia merevisi kata-kata yang ada di sana dengan lebih persuasif. Ia memijat kepalanya yang mendadak berat. Ia berusaha memikirkan cara terbaik untuk mendapatkan sponsor dalam tiga hari tapi seberapa keras pun ia berpikir, hasilnya tetap nihil.     Ia mengamati jam dindingnya. Pukul 12 malam dan dia belum makan malam. Naga di perutnya seperti sedang tertidur saat ia sibuk bekerja sehingga ia tidak merasakan lapar sedikitpun. Cassie berjalan menuju lemari es di dapurnya. Ia mengambil sebotol air minum dan menenggaknya hingga habis.     Ia membuka laci meja dapurnya lalu mengambil sebungkus mie instan. Ia memasak mie itu dan langsung memakannya langsung dari pancinya. Ia meniru cara orang Korea menikmati ramen mereka dan ternyata memang lebih nikmat makan dari pancinya.     Badan Cassie terasa begitu lelah. Ia ingin merebahkan dirinya di ranjang empuknya lalu tak lama kemudian mimpi sudah menjemputnya.     Pagi telah datang dan ini saatnya Cassie harus kembali bersemangat menjalani harinya. Namun entah mengapa ia ingin bermalas-malasan lebih lama di ranjangnya. Ia sudah kehilangan semangatnya, menyadari bahwa sekuat apapun ia mengejar mimpinya, tetap saja hasilnya pasti tidak berhasil.     ‘Apakah memang mimpiku ini konyol?’     Cassie menyiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk jika ia tidak mendapat sponsor. Ia harus merelakan kelas cintanya tidak bisa dilaksanakan. Ia menghela nafas, mengambil pakaian seadanya dan bersiap menuju ke kantornya.     Ia menjalani hari dengan tidak bersemangat. Bahkan beberapa kali ketika klien sedang bertanya padanya, ia tidak merespon dengan semangat seperti biasanya. Sepertinya ia harus membuang jauh mimpinya mulai dari sekarang dan menerima kondisinya yang sekarang.     Drrrttt…drrrtttt…     Ponsel Cassie berbunyi.     “CASSIIEEE!!!! KITA DAPAT SPONSORR!!!!!” teriak Donna memekik di telinga Cassie. Cassie terkejut dengan berita itu.     “A-APA KAU BILANG???”     “Kita… dapat… sponsor!!!!”     “WUUAAAHHHHHHHHH SUNGGUH??? YEAAHHH!!!!” seru Cassie sambil berdiri. Ia berjingkrak tak kauran dan menari-nari di kubikalnya. Sontak seluruh mata tertuju padanya. Ia melorotkan badannya dengan malu dan duduk kembali sambil tetap mempertahankan senyumnya yang mengembang.     “Bagaimana bisa? Ceritakan padaku siapa donatur itu? Aku harus menyampaikan ucapan terima kasihku padanya.”     “Eng… maafkan aku Cassie, dia meminta kami merahasiakan identitasnya. Ia tidak ingin terlibat balas membalas budi. Ia bilang ia ikhlas membantu proyek kita.”     “Wah… sungguh malaikat dari sorga! Aku berterima kasih pada Tuhan. Ia memberikan tepat pada waktuNya.” Setelah membicarakan semua yang perlu ia tahu, Cassie memutus sambungan teleponnya.     Tak berapa lama, intercom di mejanya berbunyi. Ia diminta menghadap ke ruangan Edwin.     “So bagaimana proyekmu, Cassie?” kata Edwin sambil mengikir kukunya agar mengkilap.     “Saya sudah menemukan sponsor, Pak. Kelas kita bisa jalan bulan depan,” kata Cassie dengan yakin.     “Baguslah kalau begitu, lalu bagaimana dengan siswanya? Apa kau sudah terpikir di mana kau akan mendapatkan siswanya?”     “Kupikir kita akan mulai dengan menawarkan kelas ini pada member premium kita dulu, Pak. Sambil kita akan sebar brosur di jalanan.” Edwin menghentikan kegiatan mengikirnya lalu menatap Cassie dengan tajam.     “Okay! Go ahead! Gunakan bantuan tim desain untuk membantumu membuat brosur atau apapun yang kau butuhkan? Aku ingin setidaknya ada 3 orang di dalam kelas sebelum akhirnya kelas itu dibuka bulan depan.”     “SIAP, PAK!” jawab Cassie sambil memberikan hormat pada Edwin. ***     Ketiga sahabat itu sekarang berdiri di tengah jalan dan membagikan brosur kelas mereka. Tapi setiap kali pengunjung yang lewat melihat brosur itu mereka menolaknya. Sesekali ada orang yang tertarik dan menanyakan beberapa pertanyaan namun berujung dengan tanpa kepastian.     Cassie dan kedua sahabatnya terus berjuang hingga hari sudah menjelang sore. Mereka duduk kembali di balik booth mereka sambil menggunakan brosur yang ada sebagai kipas. Hari memang sangat panas dan peluh mereka mengalir seperti sungai.     “Kalian sudah bekerja keras. Istirahatlah sejenak,” kata seorang pria yang tiba-tiba datang ke depan booth sambil membelikan beberapa minuman dingin.     “NICO!” seru Cassie. Nico tersenyum, memamerkan gigi putihnya.     “Bagaimana kau tahu kami di sini?”     “Itu…anu…” jawab Nico sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jelas saja ia tahu karena ia diberitahu oleh kedua sahabat Cassie sebelumnya. Hari ini hari libur Nico. Tidak ada pasien dan tidak ada operasi yang ia harus tangani. Itu sebabnya hari ini ia ingin mengunjungi Cassie. Ia mengikuti Cassie dari jauh dan tidak berani mendekat. Ia hanya tidak ingin kehadirannya di sana menganggu.     “Ah, sudahlah! Tidak penting. Karena Kakak di sini, bagaimana jika Kakak juga ikut duduk sejenak bersama dengan kami?” ujar Cassie sambil menggamit lengan Nico dan menariknya duduk di tengah antara dirinya dan Donna.     Cassie memberikan minuman dingin itu pada Nico. Nico menenggaknya. Setelah beristirahat sejenak, Cassie mengajak kedua sahabatnya untuk kembali menyebarkan brosur itu pada pengunjung yang lewat. Nico tidak bisa berdiam diri melihat Cassie dan kedua sahabatnya berjuang sendirian, selagi ia mampu jelas ia ingin membantu. Ia mengambil beberapa brosur dan ikut membagikannya pada pengunjung.     Cassie kaget melihat Nico sudah berdiri di sebelahnya sambil membagikan brosur. Hebatnya banyak wanita yang datang karena Nico yang membagikan brosurnya. Mungkin mereka terkesima dengan ketampanan Nico. Cassie tersenyum melihat semua wanita itu bukannya datang untuk bertanya tentang kelas Cassie tapi malah berebut berfoto bersama dengan Nico. Nico kewalahan meladeni semua wanita itu. Ia memberikan tanda pada Cassie untuk menolongnya.     Cassie melerai gadis-gadis yang merapat pada Nico dan membuat para gadis itu melihatnya dengan sewot.     “Kalau ingin berfoto dengan Kakak saya yang tampan ini, silakan mendaftar di kelas kami!” kata Cassie sambil mengarahkan barisan wanita itu untuk menulis daftar registrasi yang ada di meja. Menyadari perkataan Cassie itu membuat para wanita itu mundur secara teratur dan pergi meninggalkan mereka sambil mencibir kecewa.     Nico tersenyum melihat Cassie yang memasang tampang galak untuk mengusir para wanita itu. Hingga tak ada satu wanitapun yang berani untuk mendekati Nico. Nico mengelus kepala Cassie dengan gemas. Cassie menurunkan tangan Nico dari atas kepalanya sambil meringis pada Nico.     Melihat daftar peserta di mejanya yang kosong membuat Cassie bersedih. Ia hanya menghela nafas lelahnya. Lagi-lagi ujian datang dalam jalannya mencapai mimpi. Tapi, ia tidak boleh patah semangat. Masih ada hari esok.     Drrttt… drrttt     Ponsel Cassie berbunyi. Ia melihat nomer yang tertera di layar dan menunjukkan itu panggilan dari Indonesia. Ia mengernyitkan dahinya sejenak lalu mengangkat telepon itu.     “Ya?”     “…”     “Saya sendiri. Ada apa ya?”     “…”     “A… apa?” tangan Cassie melemas dan menjatuhkan ponselnya. Air matanya menetes. Ia menatap Nico yang juga balas menatapnya. A/N: Ada kejutan apa lagi yang diterima Cassie?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN