Hari-hari berat telah berlalu, Azel telah menerima apa yang terjadi di dalam hidupnya, kehilangan janin yang sangat ditunggu-tunggu. Dirinya sadar bahwa itu semua sudah berada di luar kontrolnya, ia hanya bisa berusaha dan melakukan yang terbaik, sisanya Tuhan yang menentukan. Banyak hal yang Azel jadikan pelajaran, sabar dan juga ikhlas. Azel belajar menerima dan sepakat dengan apa yang menimpa, tanpa bertanya kenapa karena itu hanya akan menambah pikirannya saja. Hubungannya dengan Zavier sudah berjalan normal, tidak ada kecanggungan dan rasa marah lagi. Kehidupan perkuliahannya pun lancar-lancar saja, namun kali ini ia memiliki lebih banyak kelonggaran dari Zavier untuk melakukan kegiatan di luar rumah meskipun sebelumnya Zavier pun tidak terlalu mengikat ruang gerak istrinya, asalkan

