FOTO 19 : Bangunan Tua Bertingkat

2196 Kata
Di kantor pusat di Indonesia, aku melompat-lompat di ruanganku sendirian. Ruangan kedap suara. Sumber informasi tidak dapat menembus apapun. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat masuk. Tempatnya di bawah tanah. Aku tidak pernah bahagia di ruanganku ini. Seingatku, aku selalu serius, menatap layar besar, melihat peningkatan presentase bisnisku di berbagai negara. Hanya melalui teknologi khusus buatan perusaahanku di Jepang. Kuberi nama mirror.   Namun, kali ini berbeda. Aku tidak dapat menggambarkan betapa bahagianya aku saat ini. Setelah menerima telepon dari Sakura. Dia hamil. Aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Setelah beberapa bulan kami menikah. Aku ingin mengungkapkan pada semua orang bahwa kami adalah pasangan paling bahagia di dunia. “Frans, jangan lupa untuk membuat acara paling meriah di kota ini. Aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.” “Benarkah. Sungguh? aku bahagia mendengarnya.” Frans antusias mendengarnya. “Tenang saja Andi. Pesta apa yang paling meriah di kota ini sepuluh tahun terakhir? Aku akan membuatnya lebih meriah dibanding itu. Tetapi kupikir itu adalah pesta pernikahanmu. Hahaha…” Aku terus tertawa. Aku memutuskan pulang lebih cepat. Sakura di rumah sudah menungguku. Dia membuat masakan yang enak kali ini. Berbagai menu tidak dapat kusebutkan satu per satu. “Aku tidak bisa mengaduk supnya Andi. Jika kamu terus menghalangiku seperti ini.” “Aku tidak peduli,” kataku sambil tunduk mengelus-elus perut Sakura. Bibi Nuri tersenyum kepadaku. Ando masih sibuk dengan buburnya. Kami akhirnya makan bersama. Sudah lama aku tidak makan bersama Ando dan bibi Nuri. Ini momen langka. Akibat dari bisnisku yang semakin besar aku jadi lupa waktu dan juga keluarga. Hanya Sakura yang tertidur di meja makan menemaniku hingga pukul dua belas malam. Hanya dia yang selalu memastikanku untuk makan. Aku tidak salah memilihnya. “Perkenalkan Nak, ini pamanmu Ando. Dia suka makan bubur, juga cokelat. Ini bibi Nuri. Dia nenekmu yang baik. Ini ayah dan bunda.” Aku bercerita dengan anakku, tanpa peduli Sakura nampak geli karenaku. “Dia masih kecil. Apa mungkin dia mendengarkanmu? Sudah, makan sana keburu supnya dingin.” Sakura lantas memukulku dengan sendok sup. Para asisten rumah tangga kami tertawa dengan tingkah kami berdua. Mereka juga ikut makan bersama. Malam tiba, aku terus menatap wajah Sakura sebelum tidur. Seperti biasa. Kami saling bertatap lama. Kemudian bercerita hingga waktu betul-betul larut. Dia selalu ikut denganku dalam perjalan bisnis yang melelahkan. Memastikanku tidak kesepian. Dia suka tidur dilenganku atau di bawah ketiak. Kemudian mengelus tanganku. Seperti saat ini. “Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan Andi?” tanyanya sambil mempermainkan jari-jariku.  “Laki-laki atau perempuan tidak masalah. Tetapi, kalau anaknya laki-laki dia akan kubuat menjadi anak yang selalu melindungi ibunya jika aku tidak ada. Kalau perempuan dia akan membantu ibunya memasak. Bukan begitu? Sakura tertawa kecil. “Kalau perempuan dia akan memasangkan dasi untuk ayahnya.” Aku mengelus rambut Sakura. “Hahaha… Bukankah itu tugasmu?” Sakura tertawa lagi. “Aku berharap anaknya perempuan. Dia akan menjadi anak yang manis.” “Semanis ibunya.” Sakura tersenyum kemudian memejamkan mata dan tertidur. Sedangkan aku, masih sibuk mengelus-elus perutnya. “Ayah akan tidur jika kamu sudah tertidur.” RRR Paparan sinar matahari menyinari wajahku. Aku tidak dapat menahannya. Aku perlahan membuka mata. “Pukul berapa sekarang?” tanyaku pada Sakura. Sakura menarik tanganku, menunjukkan sebuah arloji. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Aku bangun, berlari menuju ke kamar mandi. Belum melaksanakan shalat Subuh. “Kenapa kamu tidak membangunkanku Sakura?” “Kali ini aku tidak sanggup, kamu bercerita dengan anakmu hingga larut malam. Kamu juga pasti lelah kemarin. Aku bahkan menjamin kamu hanya tidur dua jam.” Aku menggeleng. Melaksanakan shalat Subuh segera. Sakura telah menyiapkan sarapan, juga menyetrika baju. Dia selalu bangun lebih awal. Kemudian, setelah mandi dan memakai kemeja, dia memasangkan dasi dan menyuapiku kue muffin kesukaanku yang dia buat sendiri. Ketika aku tengah sibuk berkutat di depan laptop.  “Kamu selalu begini setiap hari? Apa tidak melelahkan?” tanya Sakura. “Kamu juga bertanya seperti ini setiap hari Sakura. Semestinya saat ini aku yang bertanya. Apa kamu tidak lelah. Kali ini biarkan para asisten rumah tangga kita yang menyetrika baju. Dulu, aku menyetujuinya, karena kamu belum hamil. Kamu harus selalu menjaga kesehatan. Demi anak kita.” “Tidak apa-apa Andi. Ini pekerjaan ringan. Kata dokter aku harus lebih banyak bergerak untuk memperlancar proses persalinanku kelak. Lagipun, aku tidak akan membiarkan para asisten rumah tangga kita menyuapimu dan memasangkanmu dasi bukan? Atau kamu ingin?” Sakura tertawa. Dia betul-betul pandai memutar pembicaraan dan menjadikannya bahan candaan. “Aku serius Sakura.” “Aku juga serius Andi. Aku akan terus berusaha menjadi istri dan ibu yang sempurna untuk keluarga kita.” Aku menatap mata Sakura kemudian mendekapnya perlahan. “Kamu sudah begitu sempurna Sakura.” RRR Aku tidak dapat bekerja dengan baik di kantor. Frans selalu bertanya apa aku baik-baik saja. Tetapi, bagaimana mungkin? Aku terus memikirkan kesehatan Sakura. Apakah dia baik-baik saja sekarang? “Frans apa aku bisa pulang lebih cepat hari ini? Apa schedule-ku untuk perjalanan bisnis ke Australia bisa diundur? Aku tidak bisa pergi meninggalkan Sakura dalam keadaan seperti ini.” Frans meng-iyakan “Anda pemilik perusaahan ini. Lagipun Andi, menurutku anda terlalu egois bila meninggalkan keluarga hanya karena perjalanan bisnis.” Baiklah. Aku akan menghubungi Sakura untuk pulang lebih awal. Tiit tiit tiit Nomor Sakura tidak dapat dihubungi. Kata bibi Nuri dia pergi memeriksakan dirinya ke dokter. “Aku harus pulang sekarang Frans.” Aku pulang, mengambil sebuah jas hitam kemudian berlari. Aku menyetir tanpa melihat speedometer lagi. Hingga suasana kota begitu macet. Kutelepon Sakura, tidak ada respon. Apa yang saat ini terjadi padanya. Aku bahkan menelepon supir dan seorang asisten rumah tangga yang menemaninya. Katanya dia juga tidak ada di tempat pemeriksaan. Apa dia menghilang. Dia betul-betul membuatku khawatir.  Sudah puluhan kali aku meneleponnya. Hingga akhirnya seorang laki-laki mengangkat teleponku. “Ingin istrimu selamat, pergilah menuju ke bangunan tua di jalan Ampera lantai tiga.” Setelah itu, sambungan terputus. Dia disandera rupanya. Aku tidak dapat berpikir jernih lagi. Aku takut kehilangan orang yang kucintai lagi. Aku tidak ingin Sakura bernasib sama dengan yang lain. Kutinggalkan mobilku di tengah-tengah kemacetan berlari menuju ke jalan Ampera. Kira-kira hanya butuh waktu lima menit. Aku terus berlari hingga tiba di bangunan yang dituju. Aku berlari lagi menuju ke lantai tiga bangunan tua ini. Segerombolan orang berbaju hitam menghadangku di lantai satu. Aku menghadapi mereka. Pukulan demi pukulan telah kulayangkan kira-kira sekitar lima orang. Aku berlari menuju ke lantai dua. Ada segerombolan orang lagi. Tetapi ini lebih banyak tujuh orang. Aku melonggarkan dasi. Menarik napas dalam-dalam. Menghadapi mereka. Pukulan demi pukulan kulayangkan lagi. Mereka juga tidak kalah. Beberapa pukulan telah mengenai perutku. Aku bangkit kemudian berlari menuju lantai terakhir. Seorang laki-laki dan perempuan yang tidak asing wajahnya menatapku. Namun, aku tidak fokus pada mereka. Aku melihat Sakura di belakang diikat dengan tali tambang di kursi kemudian sebuah kain diikat di mulutnya. Dia betul-betul menderita. Aku tidak sanggup lagi. “LEPASKAN DIA SEKARANG!” Aku berteriak dan berlari menuju ke arah Sakura. “Diam di tempat anda Tuan Aharon atau pisau ini akan segera kugoreskan di perut istrimu tercinta ini.” “Jangan sekali-kali kamu melakukannya pada Sakura. CARELINE HENTIKAN!” Pisau yang Careline pegang sudah mendarat di perut Sakura. “Mengapa kamu tega melakukan ini Careline?” “Apa? Mengapa aku tega? Kamu mengkhianatiku Andi. Kamu menikah dengan perempuan lain.” “Meninggalkanmu? Kamu yang meninggalkanku Careline. Kamu yang meninggalkanku duluan.” “Oh sungguh? Tetapi yang jelas, aku yakin kamu masih mencintaiku saat ini. Kamu tahu, kemarin aku sudah membunuh David. Dengan begitu, biarkan perempuan ini mati dan kita akan menjalani kehidupan kita seperti dulu lagi.”     “Aku tidak percaya Careline. Kamu ternyata semengerikan ini.” “Apa katamu? Andai saja hal seperti itu tidak terjadi mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini Andi.” Careline kemudian menangis dan lengang beberapa saat dia tertawa lagi. Dia betul-betul menjadi perempuan mengerikan sekarang. “Karena sesungguhnya akulah yang menjadi istrimu saat ini. Kalau begitu, kubiarkan kamu memilih. Kamu yang mati atau istrimu yang tercinta ini.” Careline menarik rambut Sakura. “HENTIKAN CARELINE.” “Kalau begitu putuskan pilihanmu secepatnya!” “Biar aku saja yang mati.”  Careline kemudian melepaskan tangannya dari rambut Sakura. Kemudian melemparkan pisau ke laki-laki bertopeng dihadapannya. “Bunuh dia!” Aku berlari menuju ke arah Sakura secepatnya. Berpikir untuk mengatur jarak terdekat agar aku bisa menyelamatkannya. Aku kemuddian menendang laki-laki dihadapanku. Kemudian mendorong Careline dan mengangkat Sakura. Kulepaskan talinya dengan sigap, juga ikatan di mulutnya. Aku betul-betul memastikannya aman terlebih dahulu. Memastikan dia terus berada dibelakangku selama aku menghadapi laki-laki yang tadinya terlempar dan kini sudah berada dihadapanku lagi. Aku mendekati laki-laki yang kini memegang pisau. Namun Sakura menarik tanganku erat. “Berjanjilah Andi untuk terus hidup hingga kamu dapat melihat wajah anakmu.” Aku mengangguk. Kemudian melingkarkan jasku di badan Sakura.  Aku mulai melangkah perlahan. Membaca gerakan laki-laki dihadapanku. Aku yakin, dia bukan orang biasa yang diutus Careline. Ayah Careline, dia bukan orang sembarangan di kota. Aku yakin, dia telah mengirim tim intelijen khusus untuk memanipulasi pembunuhan yang dilakukan anaknya sehingga dia nampak tidak bersalah. Frans tahu segalanya tentang tim intelijen itu. Dia pernah bekerja sebelumnya disana.  Aku terus menghindari tusukan pisau itu. Namun, tetap berusaha mengamankan Sakura. Hingga pada akhirnya, laki-laki itu berbelok menuju ke arah Sakura. Careline berteriak. “Bunuh perempuan itu!” Dia memerintahkan laki-laki tadi untuk membunuh Sakura. Laki-laki itu melakukannya dengan sigap. Pisau mengarah ke wajah Sakura. Namun, tidak mengenai wajahnya. Aku memegang pisau. Bukan gagangnya. Tapi besi yang tajam. Tanganku berdarah. Bercucuran deras. Namun aku tidak peduli. Segera kutarik pisau itu hingga membuat luka yang lebih dalam. Kulempar pisau itu menjauh. Jatuh menyentuh tanah di bawah sana. Sakura di belakangku teriak histeris. “Lawan dia!” Careline memerintahkan laki-laki itu untuk kembali menyerangku dalam keadaan lengah. Aku masih bertahan. Kurasakan pening di kepala. Aku pucat. Darah terus mengalir. Namun, aku masih bertahan, lengah sedikit saja bisa membuat Sakura dalam bahaya. Laki-laki itu terus memukulku. Aku berbalik, mendekap Sakura erat, hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Rasa sakit mulai terasa. Hingga Frans datang dengan belasan polisi yang menodongkan pistol. Laki-laki tadi mengangkat tangan juga Careline. Perlahan Sakura melepas dekapanku. Kemudian membaringkan kepalaku di pahanya. Air mata bercucuran deras. “Panggil dokter, CEPAT!” Teriak Sakura dalam isakannya.   “Aku baik-baik saja, tenanglah. Ini hanya masalah kecil. Kata dokter ibu hamil tidak boleh cemas. Bukan begitu?” Aku tertawa kecil, berusaha menghibur Sakura. “Diamlah Andi. Darahnya terus mengalir.” Sakura memegang tanganku yang berdarah. “Frans… Bisakah kamu membawaku ke mobil. Ada baiknya jika dokter memriksaku di rumah. Lagi pun ini hanya luka kecil.” Aku berdiri, berusaha berjalan normal menuju ke mobil meski kepalaku terasa berkunang-kunang. Diikuti Sakura. Kecemasannya sudah berkurang. Dia menyeka air matanya. Kami berdua berjalan, aku terus-menerus mengelus perut Sakura. “Mohon maaf bila ayah dan bunda membuatmu khawatir.” Sakura tersenyum. Dia sedikit terhibur. Tiba di rumah, dokter pribadi kami langsung saja memberi perban pada tanganku setelah jahitan kecil. Katanya aku baik-baik saja. Hanya karena banyak darah yang keluar. Aku diberi pil obat penambah darah. Setelah itu, hanya aku dan Sakura di kamar. “Aku baik-baik saja Sakura. Tidak perlu merasa cemas. Kamu seharusnya mengkhawatirkan dirimu. Kamu sudah membuatku cemas sepanjang hari.” Sakura tersenyum. “Aku akan merasa baik-baik saja. Aku akan aman sepanjang hidup Andi. Aku yakin kamu akan terus melindungiku. Tetapi, aku tidak yakin kamu akan melindungi dirimu sendiri.” “Aku sebenarnya ingin menyampaikan ini sejak lama Sakura. Aku, kamu, tidak ada orang di kota ini yang tidak mengenal kita. Ketika saham kita bersatu semua orang terus-menerus memikirkan kita. Akan ada banyak orang yang berusaha mencelakakan kita. Juga anak yang kini kamu kandung. Aku takut, dia juga akan ikut menanggung semuanya. Dia masih kecil.” “Betul Andi. Tetapi, apa yang akan kamu lakukan? Kita tidak dapat mengubah fakta bahwa dia adalah anak kita.” “Aku tahu caranya. Kita harus hidup di tempat yang damai. Jauh dari awak media, jauh dari orang yang mencelakakan kita. Harta kita akan kita simpan untuknya hingga dia besar. Dia akan punya jaminan untuk hidup. Anak kita akan aman Sakura. Kita akan hidup seperti manusia pada umumnya di negara lain. Aku akan menyuruh Frans untuk membantu kita. Menghilangkan jejak dengan bantuan pasukan intelijen. Tidak akan ada yang tahu siapa kita. Bagaimana tanggapanmu Sakura?” Sakura tersenyum. “Aku setuju. Cita-citaku untuk menjadi seorang ibu dan istri yang sempurna akan terwujud.”  RRR Hari kepergianku tiba, aku memeluk Ando, juga bibi Nuri. Aku berbohong kepada mereka bahwa kami akan pergi untuk mengurusi perusaahan di Taiwan. Aku tidak dapat mengatakan tentang kepergian kami. Aku tidak ingin membuat bibi Nuri bersedih lagi. Kutatap Ando, ekspresinya berbeda. Tidak tega rasanya meninggalkan dia dalam keadaan yang masih seperti ini. Namun, dengan keberadaan bibi Nuri kupikir dia tidak lagi membutuhkanku. Dia baik-baik saja. Suatu hari nanti, ketika anakku dan Sakura sudah beranjak dewasa, aku akan kembali menemui Ando. Aku akan bermain monopoli dengannya di masa tua. Hanya Frans yang tahu segalanya. Sebelum pergi, aku juga memeluknya erat. Dia menangis. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Dia laki-laki yang baik sekali. “Jangan melupakanku Andi,” kata Frans terakhir kali. Pesawat kami akhirnya lepas landas. Aku dan Sakura akan memulai hidup baru. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN