“Teman apa teman,” Bibi Tri tersenyum.
“Apa sih Bi.” Sakura memukul bibinya perlahan.
Aku akhirnya meninggalkan rumah sakit itu. Aku tidak bisa berlama-lama disana. Kematian ayah akan terus membekas dalam memori ingatanku.
Setelah mengantar Sakura, akhirnya tibalah aku di rumah. Aku langsung ke kamar. Lelah sekali hari ini. kelonggarkan dasiku dan membaringkan badan begitu saja. Bayang-bayang Careline dan David menghantuiku.
Tok, tok, tok.
Seseorang mengetuk pintu. Aku membuka pintu perlahan. Bibi Nuri rupanya.
“Ada apa ini Bi?” Tanyaku sedikit lesu.
“A-a…” Keringat dingin bercucuran dari pelupuk wajah Bibi Nuri.
Aku mulai kesal. Kelelahan bekerja seharian. “Kalau tidak penting aku mau tidur dulu. Besok saja ceritanya. Pasti tentang Ando kan?” Aku mulai menutup pintu kamar perlahan. Bibi Nuri menahannya.
“Bi... bibimu kecelakaan Ndi.”
Deg.
Ada apalagi ini? Masalah dan masalah. Aku memijat pelipis. Pukul berapa sekarang. Apa yang bibiku lakukan di luar. Pelaku yang membuat rem ayah blong belum terungkap. Sekarang ada kecelakaan lagi. Seolah ada orang yang ingin menghancurkan hubungan keluarga. Entah apa tujuannya?
“Bibi siapa yang kecelakaan?” Aku bertanya sambil buru-buru memasang jaket.
Bibi Nuri menelan ludah. “Bibi Teti dan bibi Yumi. Dia kecelakaan pukul 9 malam tadi di dekat tikungan, di bawah bukit menuju ke vila kebun teh di Malang. Kata polisi, mereka sudah ada di rumah sakit di kota Malang.”
Aku kaget bukan main. Vila di Malang? Itu tempat kakek. Mengapa mereka pergi kesana? Apa mereka menyadari keberadaan kakek. Sudahlah, aku mengambil kunci mobil bergegas menuju lokasi kejadian.
“Bibi, jaga Ando baik-baik!”
Aku pergi Bersama bibi Peti dan bibi Sini yang menemaniku. Kami bertiga hanya diam di dalam mobil. Khawatir dan gelisah. Apakah mereka masih selamat. Roda ban mobil berputar dengan cepat, tikungan bahkan kuabaikan. Mobil Mercedes-Benz G-Class mempermudahku tiba lebih cepat di kota Malang. Sesekali Bibi Peti menyuruhku untuk berhati-hati, karena dia tahu aku sudah kelelahan bekerja seharian. Bukan itu, dia takut ikut mati juga.
Tiba di Malang. Kota ini begitu sepi. Wajar saja, waktu menunjukkan pukul empat dini hari. Yang nampak hanya warung kopi yang buka 24 jam. Lampu bercahaya kuning berderet menghiasi kota dengan kursi tamannya.
Aku langsung menerobos mencari ruang UGD. Sedangkan kedua bibiku mencari keterangan dari suster yang piket. Mereka mendapatkan keterangan kalau memang ada pasien yang kecelakaan hari ini dan mereka kini sudah berada di ruang mayat.
Suster langsung membawa kami ke ruang mayat. Tiga mayat yang tertutupi kain. Darah segar masih tercium hebat. Hanya aku dan suster yang masuk melihat jelas wajah mayatnya. Sedangkan, bibi Peti dan bibi Sini berada agak jauh dari kami. Mereka sedari tadi menutup wajah dengan kedua tangannya.
Perlahan, kain dibuka. Aku melihat wajah yang sudah remuk. Raut wajahnya mulai tidak jelas lagi. Rambutnya juga berantakan. Aku tidak dapat memastikan. Hanya kain baju berwarna biru muda yang dapat menjadi petunjuk. Menurut informasi, bibi Yumi memang menggunakan pakaian panjang berwarna biru muda.
Suster menyuruh kami keluar. Aku terduduk lemas. Bibi Peti mulai terisak dalam tangisnya. Bibi Sini meronta-ronta. Aku diam, tidak tahu harus berbuat apa. Air mata mulai mengalir deras dari pelupuk mataku yang lesu. Perlahan sakit kepala mulai begitu terasa. Kulihat arloji, sebentar lagi Subuh. Aku menutup mata. Tertidur.
Bibi Peti membangunkanku. Kubuka mata perlahan. Berkali-kali kugosok dan kulihat jelas, mata bibi Peti mengeluarkan darah. Raut wajahnya putih, lelah sekali. Dia menangis berlebih rupanya. Namun, dia menghiraukan air matanya dan langsung menarikku kembali ke dalam ruang mayat dengan cepat. Tanganku merasakan cengkeraman yang kuat. Bibi Sini ternyata sudah berada di dalam dan membuka kain putih. Wajah yang kulihat sudah tidak asing lagi, matanya, hidung juga alis. Dia Ando.
Aku terbangun. Untung saja, hanya mimpi buruk. Aku tidak bisa membayangkan bila hal itu menjadi kenyataan. Aku langsung menelepon bibi Nuri, meyakinkan kalau Ando baik-baik saja. ‘Ando sedang tertidur, oh iya, kalian tenang saja, aku akan menyiapkan pemakamannya,’ kata bibi Nuri yang suaranya terdengar sayup-sayup sesekali sesenggukan.
Aku hampir lupa, dengan mayat bibiku. Aku bergegas mencari ambulance. Sendirian. Tidak tega rasanya membangunkan bibi Peti dan Sini yang tidur terkapar di lantai begitu saja.
Aku menyusuri lorong-lorong rumah sakit berbau menyengat, bau obat-obatan yang khas. Sakit kepala yang kurasakan begitu hebat. Setelah menghubungi ambulance, aku langsung membeli obat. Paling tidak itu bisa meredakan sakitnya sementara.
Kembali kususuri jalan pulang. Bibi-bibiku yang tadinya terkapar mulai bangun dan membersihkan diri. Mata mereka bengkak.
“Bibi, kalian bisa pulang membawa jenazah bersama ambulance! Ada hal penting yang harus kuurus lebih dulu.” Aku meyakinkan mereka dan mereka hanya menurut begitu saja. Pasrah akan keadaan.
Satu hal yang terus membayangiku hingga kini. Bagaimana dengan kakek. Apakah dia sudah mengetahui bahwa kedua anaknya juga menyusul pergi. Perih rasanya jika aku menanyakannya lewat telepon. Siapa yang akan menenangkan dalam isak tangisnya. Aku tidak bisa membayangkan hal itu.
Beberapa menit setelah mayat dibawa oleh ambulance, aku pergi ke vila menjemput kakek. Berniat menyampaikannya dengan tenang ditemani segelas coklat hangat yang dihidangkannya setiap aku datang Bersama Ando.
Laki-laki malang yang kesepian itu, harus merasakan penderitaan di sisa hidupnya.
--
Kutancapkan gas ke rumah kakek. Mobil melaju begitu cepatnya, diiringi sakit kepala yang terasa berdenyut. Kulintasi jalur dimana kecelakaan itu terjadi. Laju mobil perlahan melambat. Kuperhatikan dengan jelas tempat dimana bibi meregang nyawa. Mobil yang mereka pakai hangus terbakar. Kejadian yang begitu mengerikan. Kecelakaan yang merenggut nyawa dua bibiku ditambah dengan seorang supir yang bernama pak Yanto.
Sungguh, aku masih memikirkan tentang beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini. Tentang kematian ayah yang disengaja, Careline dan David, Sakura perempuan yang malang juga kecelakaan yang terjadi kepada dua bibiku. Seakan ada dalang yang bermain-main di belakangnya.
Meskipun kelihatannya bibiku merupakan tokoh antagonis ibu tiri dalam sinetron. Tetapi, bagaimana pun mereka adalah keluargaku. Aku tidak dapat menyalahkannya begitu saja. Hanya sifatnya. Sifatnya yang rakus akan harta.
Tiba di rumah kakek. Sakit kepala sudah tidak dapat lagi tertahan. Aku jatuh di halaman. Menimpa bunga berwarna-warni yang bermain bersama kupu-kupu dan lebah.
“Andi… andi.” Teriakan kakek sayup-sayup terdengar.
Seseorang membangunkanku. Aku membuka mata perlahan. Kakek tersenyum simpul.
“Jam berapa sekarang Kek?” Tanyaku lesu.
“Kira-kira jam dua belas lewat.”
Aku langsung duduk kemudian mengusap-ngusap pakaian. Kubuka ponselku. Panggilan tidak terjawab bertubi-tubi dari bibi Nuri.