7. Ketahuan Sedang Anu

1360 Kata
Pagi ini April akan memasak sayur bayam dengan tambahan gambas yang dipotong-potong membentuk bulatan kecil, lalu dia juga akan membuat sambal korek serta lauk tempe goreng. April menengok ke belakang hanya untuk melihat sekilas Sean yang sedang bersandar malas di sofa. Makanan yang dimasaknya memang masakan rumahan sederhana. Apa nanti ketika dia membaginya dengan Sean anak itu mau memakan masakannya, ya? April mengedikkan bahunya cuek. Entahlah lidah orang kaya mau atau tidak memakan masakan seperti ini. Tapi kalau sampai Sean mencibir masakannya sebagai makanan ayam pasti April akan menghajar bocah itu betulan. “Halo, Chikaku, Sayang. Apa kabar? Udah lama, ya, kita nggak teleponan lagi. Hari ini kamu free nggak? Nanti malem nonton, yuk, cantik.” Perkataan Sean barusan membuat April yang semula sedang asyik-asyiknya mengulek sambal pun secara otomatis menoleh ke belakang. Oh, ternyata bocah itu sedang bertelepon ria dengan seorang perempuan. Entahlah, pacarnya mungkin. “Ya, tentulah. Aku juga kangen banget sama kamu tahu, hahaha.” Awalnya April cuek berusaha tidak menggubris perkataan Sean dengan gadis yang sedang diteleponnya. Namun karena rumahnya ini sepetak, sempit, bahkan ruang tamu bersebelahan dengan dapur yang berada di pojokan kiri ruangan. Maka mau tak mau April tidak bisa berpura-pura tidak mendengarnya. “Iya, nih. Aku baru aja dua hari pulang dari Indo tapi entah kenapa aku udah kangen dan pengin ketemu sama Chikaku sayang.” April memutar bola matanya. Bisakah orang itu tidak berbicara keras sekali ketika bertelepon? “Udah dulu, ya, Sayang. Nanti aku telepon lagi soalnya temenku baru aja dateng, nih. Bye... mwah.” Mulut April terbuka mendengarnya. Gerakan tangannya yang semula mengulek sambal pun terhenti. April tidak kuat untuk tidak mengumpati si Sean itu. Teman? Mana teman yang dimaksud Sean sedang datang ke sini? Setan begitu maksudnya, hah?! Najis sekali, apalagi tadi ada kata, 'mwah' di akhir teleponnya astaga! Selesai bertelepon dengan gadis yang bernama Chika-Chika itu. Ternyata kini Sean menelepon seseorang lagi. “Halo Bianca. Kamu lagi apa, nih. Aku kangen sama kamu.” Asataga! Tadi Chika, sekarang Bianca! “Nggak, dong. Maaf, ya. Aku, tuh, sibuk nyiapin berkas buat pindahan makannya aku jadi jarang ngabarin kamu.” Entah mengapa sekarang April jadi sebal sendiri. Bocah itu benar-benar playboy cap kadal! Semua cowok memang sama saja! Pandai berbohong. “Nggak ada, dong, Sayang. Cuma kamu yang ada di hati Kakanda seorang.” Kuping April benar-benar ternodai mendengar hal tersebut. Tadi mwah, sekarang kakanda. April saja ketika sedang bertelepon dengan Tara kekasihnya tidak sampai selebay itu, kok. Dengan kesal April mengulek sambalnya seperti orang yang malahan terlihat sedang menumbuk cabai saja. Kenapa bisa coba si penyewa rumahnya itu begitu menyebalkan sekali! April membayangkan cabai-cabai di cobeknya itu adalah Sean. “Apa, sih, Pril? Ngulek, kok, keras banget suaranya. Berisik tahu,” ucap Sean sambil berdecak karena merasa terganggu dengan suara April yang sedang mengulek dengan gerakan bar-bar seperti itu. Dia itu mengulek atau kesurupan setan? Heran. “Kalau teleponan itu nggak usah keras-keras! Dikira nggak ada manusia apa di sini!” teriak April dengan kesal. Ingin rasanya dia melempar ulekan di tangan kanannya ke arah Sean biar kepala bocah ingusan playboy itu benjol. Sean tidak menggubrisnya dan melanjutkan kembali berteleponan ria dengan wanita di seberang sana. “Halo. Eh, gimana, Yang? Suara perempuan? Ahahaha, enggak, kok, Sayang. Aku lagi ngomong sama ibu kostku. Emang galak banget dia orangnya.” Argh! April kesal sekali dengan Sean. *** “Nih, makan!” kata April dengan ketus ketika dia sudah menyajikan semua masakannya di atas meja. Mata Sean berbinar melihatnya. Bahkan dia masih tidak percaya. Benarkah wanita galak dan perhitungan ini memberinya makanan dengan cuma-cuma? Luar biasa. “Bayar dua puluh ribu nggak, nih, sekali makan?” tanya Sean sambil menyantap makanan yang sudah disajikan April. “Bayar juga boleh. Biar aku cepet naik hajinya.” Sean terkekeh mendengarnya. “Kamu bisa masak?” tanya Sean diakhiri gerakan menggigit ujung tempe goreng yang sudah dicocolkannya pada sambal buatan April. Rasanya mantap. “Ya, bisalah. Cuma masak kayak gini, doang, mah.” Awalnya Sean sama sekali tidak mengira jika ternyata April bisa memasak lantaran tampilan April sendiri lebih cocok menjadi wanita karier metropolitan yang berkutat dengan komputer. Apalagi jabatannya di kantor sudah lumayan oke. Dan sejujurnya, ketika April sedang berkutat memasak di dapur seperti tadi, dia terlihat cantik. “Gimana? Enak nggak masakanku?” tanya April dengan penasaran karena sejauh ini Sean tidak menyinyir masakannya. “B aja,” jawab Sean dengan cuek membuat si penanya memanyunkan bibirnya. Hehe. Sean berbohong. Sebenarnya masakan April sangat enak. Buktinya dia memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya dengan lahap. Hanya saja Sean mengatakan seperti itu supaya April akan kepedean apabila dia memuji masakannya. “Nanti kalau udah selesai makan piringnya dicuci sekalian, ya, Sean. Aku nggak suka lihat piring kotor numpuk di tempat cucian.” Sean mengangguk. Suasana lengang dan mereka sibuk menikmati makanannya masing-masing. *** April selesai makan dan mencuci piringnya duluan. Ketika Sean sudah selesai makan, ia berdiri dan hendak gantian mencuci piring kotor miliknya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah benda di sebelah kakinya. Sean menaruh sejenak piringnya dan membungkuk untuk mengambil benda berbentuk kotak pipih itu. Oh, ternyata benda ini adalah KTP April. Di sana tertera nama lengkap April yaitu Adinda Aprilia, kelahiran 13 April 1996. Hmm... ternyata dia berumur dua puluh empat tahun, ya? Sean tertawa melihat wajah April di KTP itu. “Haha. Ya, Ampun. Jelek banget, sih. Udah jelek, mana seumur hidup lagi,” kata Sean sambil tertawa membuat April menengok ke belakang. “Ah, Sean! Kok, pegang-pegang benda punya orang lain sembarangan, sih!” teriak April sambil berlari ke arah Sean, mengabaikan piringnya yang belum dibilas sama sekali demi merebut KTPnya dari tangan Sean. “Apaan. Orang tadi aku nemu di bawah.” Sean tertawa sambil menaikkan tangannya ke atas supaya April tidak dapat mengambil KTP miliknya. “Siniin nggak! Malu tahu!” April berjinjit dan mencoba meraih KTPnya namun susah sekali. Sialan, Sean benar-benar menyebalkan. “Sean!” April merengek membuat Sean semakin gemas menggodanya. “Bilang dulu, dong, Sean ganteng. Please, balikin KTP aku. Gitu. Nanti aku balikin, deh, ke kamu.” “Najis!” teriak April dengan galak malahan membuat Sean semakin tergelak. Uh, lucunya si pendek ini.... Sebenarnya bukan April yang pendek. Namun bocah itu saja yang terlalu tinggi. Bahkan April sampai berjinjit tapi tetap saja tidak ada bedanya, dia masih tidak bisa menggapai tangan Sean. “Sean balikin!” “Cium dulu,” goda Sean membuat April bertambah kesal. Namun jujur, ekspresi kesal April sangat menghibur baginya. “Tua juga, ya, dua puluh empat tahun. Oke, mulai sekarang kamu aku panggil Tante, aja. Hahaha.” “Balikin nggak! Seann!!!” April hampir saja mendapatkan KTPnya namun Sean menarik tangannya lagi dan semakin menjauhkannya dari jangkauan April. Karena sudah kesal bukan main. April sedikit melompat kecil untuk mendapatkan KTPnya namun malahan tubuh mereka terjatuh ke belakang. “Aduh.” Sean mengerang kesakitan ketika kepala dan punggungnya terbentur lantai dapur. Mana April juga jatuh di atasnya lagi. “Ka-kamu nggak pa-pa, kan, Sean?” tanya April dengan khawatir melihat Sean kesakitan seperti itu. Sean tersenyum miring dan merangkulkan kedua tangannya memeluk punggung April sehingga kini April tidak bisa bangun dari posisinya yang masih berada di atas tubuh Sean. “Lepasin nggak!” Sean terkekeh melihat April kesal. “Sean jangan nyebelin, deh! Cepet lepasin aku atau aku bener-bener marah sama kamu!” April mencoba menggeliat sekuat tenaga bahkan sampai mencoba menarik tangan Sean supaya pelukan bocah setengah gila ini terlepas dari tubuhnya. “Lepasin!” Sean memajukan kepalanya dan berbisik di telinga April. “Jangan gerak terus. Nanti ada yang bangun, loh.” Pipi April memerah mendengarnya. Bahkan gerakan April yang semula menggeliat pun kini terdiam. Ketika April hendak berucap kembali. Tiba-tiba pintu rumah terbuka membuat baik April, Sean, ataupun tamu yang sedang mematung di bingkai pintu itu pun sama-sama terkejut. Mata April membulat, lidahnya kelu. Mati dia! “Ta-Tara.” *** Halo, Assalamualaikum teman-teman semua. Aku mau menginfokan kalau jadwal update novel ini adalah setiap hari KAMIS dan MINGGU, ya. Bagi yang nggak sabar pengin baca spoilernya, silakan DM ke INSTAGRAMKU @Mayangsu_ (pakai underscore). Yang nggak punya i********:, WA aja ke nomor; 0812-2874-5213 Nanti aku kasih link novelnya Sean full bab. Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN