86. Di Saat Terakhir

1221 Kata

“Inuuul!” Poci melolong keras. Tanpa tahu situasi dan kondisi, hantu pocong montok itu menerobos dari kerumunan ... berlari mendekati Inul. Bahkan tanpa menyadari kedudukannya, Poci telah menggeser Alfonzo untuk memeluk Inul. “Inul, ndak boleh pergi! Pokoknya ndak boleh pergi! Poci ndak siap ditinggal Inul. Poci sama siapa kalau ndak ada Inul?” raung Poci dengan airmata berurai. “Sama saya, Ci. Jangan nangis lagi toh,” sahut Jero dari belakang. Walau dalam keadaan berduka, Poci masih sempat berghibah ria. “Ndak mau! Jero ndak bisa menggantikan Inul. Jero judes. Sudah judes ndak hidup lagi.” “Eh, situ emang masih hidup? Kita semua hantu, Poci! Sadaaar!” bentak Jero. “Walau semua hantu, tapi kita berbeda. Poci dan Inul hantu bermartabat luhur. Weeek!” Poci meleletkan lidah walau dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN