Tidak Stabil

1033 Kata
Malam semakin larut, namun Anaya tak kunjung tidur. Saat semua orang tidur terlelap dan nyenyak, lain halnya dengan Anaya. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan paluan Anaya berbunyi. Ya, benar saja, malam ini Anaya sedang memperbaiki pintu yang Ayahnya rusak tadi. Mata Anaya sudah menyuruh Anaya untuk menutupnya. Tapi, Anaya berusaha menahan kantuknya, tujuannya yaitu memperbaiki pintu agar dapat ditutup kembali. Sungguh Reza sangat membebani Anaya. Saat seorang Ayah berjuang untuk tidak membebani anaknya, lain halnya dengan Ayah Anaya. Tapi, memang benar saja, Reza bukanlah Ayah kandung Anaya yang tidak akan dan tidak mungkin menyanyangi Anaya. Tapi jika begitu, kenapa Reza tidak menyanyangi Rio yang bahkan anak kandungnya sendiri. Bahkan, Reza malahan tidak memperdulikan Rio dan ingin membuat dia menjadi pengemis jika Anaya tidak mau memberikannya uang. Sungguh Reza tidak akan bisa menjadi sesosok Ayah yang bisa dibanggakan. Walaupun begitu, Anaya tetap menghormati dan menyanyangi Reza layaknya Ayah kandung. Anaya tidak pernah menganggap Reza sebagai musuhnya walau sikap Reza yang selalu kasar padanya. Dengan menahan rasa kantuk yang amat berat, Anaya berusaha memperbaiki sebaik mungkin. Mana mungkin Anaya membiarkan rumahnya terbuka begitu saja. Bagaimana jika ada maling? Memikirnya saja sudah membuat Anaya sangat pusing. Anaya tahu, tidak ada barang berharga yang dapat diambil dari rumah sederhana ini. Tapi, setidaknya untuk memastikan keselamatan mereka. Ketuk demi ketukan palu ke paku Anaya ketukan ke pintu untuk memperbaikinya. "Awh ..." rintih Anaya. Tanpa sengaja, lengan Anaya berdarah akibat paku bekas yang sudah bekarat menggores lengannya. Anaya tidak tahu ada keberadaan paku lama yang tertempel di pintu. Setelah begitu lama, akhirnya selesai juga. Anaya membersihkan sisa paku serta kayu bekas untuk dibuang agar tidak melukai kaki. Anaya menghela nafas lega. Anaya kemudian melihat jam yang berada di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 02.15 WIB. Setidaknya Anaya dapat tidur dan harus bangun pagi. Anaya menutup pintu untuk memastikan apakah sudah bisa kembali atau tidak. Setelah memastikan bahwa pintunya sudah bagus, Anaya pun kembali ke kamarnya menghilangkan lelah harinya. *** Anaya buru-buru menuju tempat kerjanya. Hari ini, untuk pertama kalinya Anaya bangun sangat terlambat. Anaya tidak sempat membuat sarapan buat adiknya dan ayahnya. Untung saja dia sudah meminta tolong bi Ijah untuk menyiapkan makanan untuk ayah dan adiknya. Bi Ijah sendiri dengan senang hati membantu Anaya yang sudah dia anggap seperti cucunya. Bi Ijah dulunya sangatlah menyanyangi Fiera. Dan sampai sekarang dia pun sangat menyanyangi Anaya yang keadaannya sangat menyedihkan. Anaya berlari sekencang mungkin agar dia tidak terlambat sampai di tempat kerjanya dan tentunya dia harus naik angkot terlebih dahulu ke tempat kerjanya Restaurant Pradipta. Sungguh sial! Angkot yang biasa Anaya naikkin sudah berangkat lebih awal. "Astaga ... gimana ini?" gerutu Anaya. Dengan terpaksa Anaya berlari menuju tempat kerjanya. Dengan sekuat tenanga Anaya berlari membuat semua orang yang menatapnya heran. Anaya tidak peduli dengan tatapan aneh yang memandanginya. Yang ia pikirkan sekarang adalah agar dia sampai tepat waktu. Anaya terus memperhatikan jam di ponselnya. Anaya sangat jantungan karna 5 menit lagi pasti Manager Restaurant Pradipta datang untuk memastikan semua karyawannya datang tepat waktu. Setiap hari pasti Manager Restaurant tempat Anaya kerja datang untuk memperhatikan kedisplinan dan kejujuran karyawannya. Sungguh ketat! Setelah begitu lama. Akhirnya Anaya sampai ke tempat kerjanya. Anaya masuk dengan sangat takut. Saat Anaya ingin masuk, dia bertemu dengan Managernya. "Terlambat tiga puluh menit!" ujar Manager. "Ma-maaf ... pak, saya terlambat. Tapi, saya janji berusaha tak akan melakukan hal yang sama lagi, pak," ujar Anaya. "Baiklah. Karna ini pertama kali kamu terlambat, masih saya maafkan," ujar Manager tersebut. "Terima kasih, Pak ..." sahut Anaya. Saat Manager Anaya meninggalkannya, Anaya langsung buru-buru bergegas mengambil kerjaannya. Anaya mulai membersihkan segala sesuatunya. Tanpa ia sadari, hidung Anaya kembali mengeluarkan cairan merah. Sinta yang ingin memanggil Anaya, malahan terkejut melihat Anaya. Sinta orang pertama yang menyadarinya. Sinta terkejut bukan main, "Nay ... hidung kamu berdarah. Kamu mimisan!" ujar Sinta panik. Sinta lalu menyodorkan tissu pada Anaya. Anaya membelalakan matanya terkejut dan secara cepat membersihkannya dengan tissu yang disodorkan Sinta. "Kamu sakit, Nay?" tanya Sinta khawatir. "E-eh ... gak kok, Sin," sahut Anaya, tentu saja berbohong. Anaya dapat merasakan badannya yang terasa sakit dan kepalanya yang berdenyut. "Se-serius? Nay, kalau kamu sakit, istirahat sebentar aja dulu. Biar aku yang ngerjainnya. Kamu istirahat sebentar, oke?!" Sinta berusaha membujuk Anaya yang kelihatannya sangat lelah. "Gak usah, Sin. Aku gak kenapa-kenapa, kok." Anaya lagi-lagi menolak bujukan Sinta yang berusaha untuk membantunya. Anaya sangat tidak enak pada Sinta yang baik padanya. Sinta, gadis itu sudah berapa kali membantu Anaya. Dan Anaya tidak mau lagi membebaninya. Padahal Sinta sendiri tidak pernah terbebani sama sekali. "Nay? Lo masih gak enak'an sama aku? Kamu nganggap aku sahabat gak sih?" tanya Sinta. "Sin, aku sayang banget sama kamu! Makanya aku gak mau membebani kamu terus. Lagi pula aku masih kuat kok," ujar Anaya dengan senyum tulusnya. "Oke. Kalau kamu mau dibantuin, panggil aku ya!" ujar Sinta. Sinta lalu kembali ke tempatnya untuk membersihkan meja pengunjung. Anaya kembali membersihkan bagian dapur restaurant. Tapi, lagi-lagi mata Anaya berkunang-kunang. Kepalanya sangat pusing sekali. Rasanya seperti ada jangkar besar yang menikam belakangnya. Dan sekuat tenaga juga Anaya menahannya. Badannya terasa lemas, keringat dingin mengucuri badannya. Bagaimana tidak? Hari ini Anaya belum sarapan, ditambah lagi Anaya harus berlarian ke tempat kerjanya ini yang terbilang cukup jauh agar dirinya tidak terlambat. Anaya berusaha agar terlihat baik-baik saja. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Anaya melanjutkan pekerjaannya. Sesekali Anaya menghapus darah yang terus menetes dari hidungnya. Anaya mengambil gelas untuk di bersihkan dengan tissu agar terlihat bersih. Karna Restaurant ini sangat terkenal akan kebersihannya. Anaya menepuk kuat kepalanya agar normal dalam penglihatannya. Tapi, kekuatan Anaya sangat minim, penglihatannya tambah buram. Anaya yakin sebentar lagi kesadarannya bakal hilang. Prang! Sebuah gelas mendarat ke lantai hingga menimbulkan bunyi pecahan kaca yang jatuh dari tangan Anaya.Benar saja Anaya tak sadarkan diri dan pingsan. Tubuh Anaya langsung ambruk ke tanah. "Anaya!" teriak Sinta terkejut. Semua karyawan langsung menuju Anaya dan mengangkat Anaya. Manager yang masih memantau mereka langsung menuju ke arah Anaya yang sudah di kelilingi karyawan lainnya. "Bawa ke klinik dekat sini, cepat!" suruh Manager dengan wajah panik. Mereka lalu membawa Anaya ke klinik yang berada dekat Restaurant ini. Untung saja lokasi Restaurant Pradipta berada dekat dengan klinik. Sinta menangis sejadi-jadinya melihat dan khawatir dengan keadaan Anaya yang sangat tidak stabil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN