Moza spontan terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Suara napasnya terdengar memburu. Keringat dingin membasahi tubuhnya dan wajahnya terasa panas. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terlihat matahari sudah bersinar dan jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Hingga sesaat setelahnya, Moza harus mengumpat dengan wajah memerah. Matanya berkelakar mencari keberadaan Darren, tapi sayangnya dia tidak menemukan lelaki itu. Apa ini? Apa dia hanya bermimpi? Tidak ada Darren di kamarnya. Moza tidak percaya, kalau dia baru saja bermimpi tak senonoh dengan Darren. Bagaimana mungkin itu terasa sangat nyata? Ini pasti efek dari apa yang terjadi tadi di ruang perpustakaan semalam. Moza terdiam dan duduk seketika. Dia meraba tubuhnya yang basah oleh keringat. Pakaiannya berantakan. Rasa malu tentu

