"Lepaskan! Lepaskan tanganku!" Moza memberontak. Dia berusaha melepaskan tangan satunya yang masih digenggam erat oleh Vano. Pergelangan tangannya terasa sakit. Lelaki itu mencengkeramnya terlalu erat. Itu membuat Moza merasa kesakitan. Vano gila, lelaki itu tak seharusnya melakukan ini di tempat umum. Mereka sudah tidak memiliki urusan apa pun. "Tidak, katakan dulu siapa yang memasangkan cincin ini? Maksudnya apa? Kenapa kamu memakainya, Moza?" desak Vano dengan sorot menuntut. Rahangnya mengeras. Segala macam pertanyaan memenuhi isi kepalanya. "Itu bukan urusanmu, kita sudah bercerai. Untuk apa mengurusiku? Tolong berhenti menggangguku! Kamu menyakitiku, Van!" "Karena aku masih menyayangimu! Perceraian itu hanya sandiwara! Kamu harus kembali padaku!" Tatapan tak percaya terlihat di

