Hari itu, Senja nampaknya bermimpi tentang sang Mama. Dia menangis sepanjang malam.
Aku dan Ibu kesulitan menangani Senja. Kami sudah melakukan berbagai macam cara, seperti memutar video animasi kesukaan dia, memberikan berbagai mainan dan buku, juga membuatkan s**u cokelat favoritnya.
Tapi, semua cara itu tak berhasil membuat Senja berhenti menangis. Kami akhirnya membiarkan dia terus menangis.
Sampai akhirnya, seorang tetangga mendatangi rumah kami. Dia mengetuk pintu dengan keras. Membuat aku dan Ibu agak terkejut.
Aku membuka pintu perlahan.
"Hei, Pak! Anaknya kenapa nangis terus? Disiksa ya?" tanyanya ketus.
"Ya Allah, Pak. Mana mungkin kami menyiksa anak." jawabku pelan.
"Itu kenapa nangis terus? Berisik tau!"
"Iya, Pak. Saya coba tenangin dia lagi ya." ujarku mengalah.
Tentu saja aku harus menerima protes dari tetangga kiri kami itu. Karena memang di sini berisik, hari sudah sangat larut dan orang-orang pasti ingin beristirahat.
"Saya mau istirahat!"
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendong Senja keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.
Lebih baik aku ajak dia jalan-jalan saja. Dia pasti senang kalau dibawa berkeliling kompleks.
Ibu aku biarkan tidur di rumah. Tak tega rasanya melihat tangan keriputnya kewalahan memegangi tubuh Senja tatkala anak ini menangis dan meronta.
Senja aku dudukkan di jok belakang, dia tak mau aku pakaikan seatbelt. Aku terus membujuknya agar mau duduk tenang.
"Aaarhhh!! Arhhh!! Mama!" pekiknya di malam sesunyi ini.
"Senja anak Papa. Jangan teriak begitu ya, Sayang. Nanti orang-orang yang bobo jadi bangun, kan kasian."
"Huwaaaa!!! Ma-ma-ma!!!!" teriakan senja semakin kuat saja.
Bapak yang tadi menegurku kembali keluar dari rumahnya.
"Malah tambah berisik!" serunya marah.
"Iya, Pak. Ini mau saya bawa keluar supaya tidak menganggu bapak!"
"Heh, anak yang begitu tuh harus dirawat di rumah sakit! Biar aman!"
"Yang begitu? Begitu gimana ya maksudnya? Pak, anak saya ini tidak gila!" Aku masuk ke mobil dan membanting pintu dengan kasar.
Cepat-cepat aku injak pedal gas. Dalam sekejap, mobil yang kami naiki sudah melesat keluar dari garasi rumah kami.
Aku marah, sakit hati. Tapi aku tak boleh ribut-ribut di depan Senja. Dia sepertinya trauma sekali karena sering melihat aku dan mamanya bertengkar dulu.
"Ma-ma-ma!!" Senja merengek.
"Senja mau main kemana?"
Senja menangis tak henti. Dia bahkan mulai mencakar-cakar kaca mobil. Dia sepertinya ingin keluar dan mencari sang Mama.
"Senja! Kan ada Papa! Mainnya sama Papa aja, ya?"
Anak cantik itu menendang-nendang jok yang aku duduki. Dia benar-benar sedang tak nyaman karena pasti merindukan mamanya.
"Senja." Aku tak bisa lagi berkata-kata.
Airmataku luruh juga. Begitu sulit bagiku untuk mengerti maunya Senja. Sekalipun aku mengerti, kali ini benar-benar aku tak kuasa untuk mengabulkan inginnya.
Bertemu mamanya yang entah dimana keberadaannya saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana. Wanita itu, masih kusesali kenapa dia begitu tega meninggalkan Senja yang amat sangat membutuhkan kasih sayangnya.
Kenapa dia sampai hati pergi meninggalkan kami hanya untuk pria lain yang sudah pasti tak mau menerima Senja.
"Maafkan Papa, Nak! Papa bodoh!" lirihku.
Senja masih meronta di belakang sana. Dia berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
"Mamamamamaama."
Sejak bisa mengucapkan kata itu. Dia terus saja bicara begitu. Seolah memanggil mamanya agar cepat datang padanya.
Dia terus menangis. Aku juga menangis dibalik kemudi. Entah apa yang kami tangisi, apakah sama ataukah tidak. Tapi, semakin jauh aku berkendara. Tangisan senja semakin mereda.
Akhirnya dia tertidur, pasti melelahkan menangis berjam-jam seperti itu. Malangnya Senja karena memiliki Papa yang begitu bodoh seperti aku.
Aku pelankan laju kendaraanku, aku terus mengitari jalan di sekitar kompleks. Tak berani pulang karena bisa saja Senja terbangun dan kembali menangis saat kami tiba di rumah dan mobil ini berhenti berjalan.
Anak itu manis, cantik seperti ibunya. Rambutnya hitam dan lurus. Hanya saja Ibu memangkasnya pendek sekali agar senja tidak terganggu oleh rambut panjang. Juga karena makannya yang selalu berantakan. Jadi, rambut pendek lebih baik untuk putri kecilku itu.
Mataku tetap terjaga, kemudi terus berputar selaras dengan ban mobil. Tak ada tujuan, aku hanya menghabiskan bahan bakar saja. Tak apa, asal Senja tenang.
Dia mengerang pelan saat tak sengaja kulanggar sebuah batu. Aku menoleh dan dia masih lelap dalam tidurnya sambil sesekali mengigau.
"Mamamamama."
Ya Allah ya Rabb, hatiku sungguh sakit. Jagalah jiwa raga dan hati Senja Ya Allah. Dia mutiara berharga di dunia ini. Meskipun dia selalu asyik dengan dunianya sendiri.
Keheningan dalam mobil ini. Membuatku menitipkan doa panjang untuk Senja. Rentetan permohonan kepada Sang Khalik. Agar aku senantiasa sehat dan diberikan umur panjang. Tak terbayangkan jika aku tidak ada, akan seperti apa hidup Senja? Akan dengan siapa dia bertahan?
Airmataku tak berhenti meleleh hangat membahasi pipi ini. Pedih, kecewa, kesal dan segala asa lain yang terasa menumpuk di dadda setiap kali wajah mama Senja hadir di benakku.
Bahkan sampai sekarang masih aku sesali segalanya. Aku amat mencintainya. Memberikan yang terbaik untuknya. Aku hanya ingin dia memperhatikan Senja tapi dia justru lebih perhatian pada pria lain yang mungkin kini sudah bersamanya.
Membuat wanita itu semakin melupakan Senja. Sesak di dadda ini tak kunjung reda. Setiap hari bukannya semakin berkurang, jutsru semakin parah.
Mataku sudah redup. Rasa kantuk mulai datang. Apakah tidak apa-apa kalau pulang sekarang?
Hari sudah hampir mendekati waktu subuh. Sebentar lagi lantunan merdu adzan subuh akan terdengar dari seluruh penjuru. Dan Senja suka sekali mendengar adzan.
Suara adzan yang benar-benar dia dengar secara langsung. Bukan dalam video atau rekaman lain.
Suara adzan akan membuat Senja nyaman. Jadi, aku memutuskan untuk kembali pulang. Bismilah, semoga dia tidak kembali meraung-raung seperti tadi.
Kami tiba di rumah. Senja masih tertidur. Bibirnya basah karena liur. Aku tak mau menyekanya karena takut membuatnya terbangun. Kubiarkan dia untuk beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Ibu sudah kembali bangun, atau tidak sejak tadi tidak tidur? Wajahnya nampak lelah namun senyum tetap terukir indah dan tulus membingkai aura kebaikan hatinya.
"Senja tidur?" bisiknya.
Aku mengangguk dan cepat-cepat membawa Senja masuk ke dalam kamarnya. Ibu merapikan bantal dan boneka senja. Kemudian aku rebahkan tubuh mungil itu di atas tempat tidurnya.
"Habis sholat, sempatkan tidur walaupun sebentar. Kamu harus kerja."
"Iya, Bu. Ghani mau siap-siap sholat ke masjid ya, Bu."
"Iya." Ibu mengusap tengkuk milikku.
Sekali lagi aku pandang wajah manis itu. Wajah Senja.