Bab 12 : GODAAN SET*N

1204 Kata
Venya baru saja menyelesaikan bab ke sekian di novelnya. Dia kemudian menatap tulisannya smabil menyeruput kopi instan yang tadi di buatnya sekitar setengah jam yangblalu. Rencananya untuk menahan kantuk. Tapi tetap saja, kantuk itu kerap kali menyerangnya. Terbukti dari beberapa kali ia menguap setelah menyelesaikan kalimat di novelnya. Vwnya juga kerap sekali memijat belakang lehernya untuk menghilangkan pegal di sana. Dia juga banyak sekali memijat jari jemarinya. Sesekali merrgangkan otot pinggangnya dengan menggeliat ringan. Ia kembali merentangkan tangannya lalu melipat - lipat jari - jarinya untuk membunyikannya dan menghilangkan rasa pegal yang ia dapat setelah menulis sedari tadi. Idenya emngalir dengan baik ketika malam. Selain tidak ada yang menganggu ketika tengah malam seperti ini, ide - ide yang sering Venya temui ketika tengah malam membuat Venya terkadang gila dengan idenya sendiri. Muncul beberapa ide dengan adegan luar biasa diluar nalar. Ada ide yang bahkan membuat Venya bergedik sendiri. Walaupun begitu, Venya memangebih menyukai menulis seperti ini. Tengah malam, sepi dan tidak ada yang menganggu untuk menghancurkan ide - ide gila yang bahkan menurutnya patut untuk di uji dan di pikirkan lagi. "Dingin." Kata Venya ketika sudah menyelesaikan meneguk kopi sisa tadi. Sisa memang, namun masih banyak tersis adi dalam gelasnya. selanjutnya yang terjadi adalah ketika Venya beranjak dari kursi kerjanya bunyi tulang yang diluruskan dari belakang punggung sampai tulang ekor milik Venya membuat Venya kembali duduk. Dan mengaduh sendiri. Kemudian setelah menghilangkan kaku di tulang belakang dan pinggangnya, Venya kembali beranjak dari kursinya. Ia berniat ke kamar mandi. Membasuh muka dan kakinya untuk pergi tidur. Sudah menjadi kebiasaa memang, Venya harus membasuh kakinya dulu sebelum naik ke temlat tidur. Venya juga membasuh muka untuk membersihkan kotoran di wajahnya yanh membuat Venya seakan berat ada di wajahnya. Setelah berada di kamar mandi, Venya membasuh dan mencuci muka dengan sabun khusus wajah, tiba - tiba ada ide yang muncul i kepalanyantentang tulisan lain yang sedang ia kerjakan di platform menulis online yang biasanya di oakai Venya untuk oenghasilan lain selain menjual buku. Lumayan menurut Venya. Ide yang tiba - tiba muncul itu kini tertanam di otaknya. Seketika Venya terburu - buru untuk menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi dan segera keluar dari sana untuk duduk lagi di kursi kerja miliknya. Lalu ia membuka platform berbayar dengan koin dari pembaca itu kemudian membuka dan menambahkan bab baru di cerita yang sedang ia tulis. Selanjutnya, Venya mengetikkan beberapa kalimat. Dari kalimat - kalimat yang diketikkan oleh Venya itu terbuatlah satu bab oenuh di tulisannya yang itu. Dia tersenyum kecil. "Benar kata orang, kamar mandi adalah salah satu tempat untuk mendapatkan inspirasi." Kata Venya untuk dirinua sendiri. "Apa gue bawa aja laptop gue ini ke kamar mandi? Suapaya idenya muncul terus di sana?" Tambah Venya. Kemudian dia terlekeh sendiri. "Baru juga beli, Ven. Lo mau ngabisin duit lo lagi buat barang sekecil ini?" Tanyanya untuk diri sendiri. Venya menjawab dalam hati. "Enggaklah sist." *** *** *** Pagi itu, Venya vangun terlalu siang karena saat malam, Venya pergi ke kamar mandi, duduk di kloset duduk dengan laptop di pangkuannya. Dia benar - benwr membawa laptopnya ke tempat yang ia bisa katakan 'sumber inspirasi'. Otaknya sudah mengatakan tidak dan jangan namun tangan dan kakinya tidak bisa diajak bekerja sama. Dia benar - benar membawa laptopnya ke sana dan membuat Venya duduk di sana sampai subuh. Venya baru keluar dari kamar mandi setelah memaksa otakmya berfikir untuk cerita yang ada di platform berbayar itu sekitar pukul empat pagi. Dia benwr - benar sedang ingin menulis banyak di platform itu. Apalagi banyak penggemarnya yang ikut - ikutan menagih utang Venya yang dulu sering sekali mengatakan bahwa dia akan mengupdate ceritanya setiap hari. Namun, keadaan memaksa Venya untuk tidak bisa update setiap hari karena banyak hak yang harus ia kerjakan di dunia nyata. Venya memang sudah selesai dengan sekolahnya. Dia sudah keluar dari sana dan mungkin satu kali pertemuannya lagi nanti ketika acara perpisahan di sekolahnya diadakan. Cukup lama Venya akan menganggur dan diam di panti. Tidak diam sih, dia bekerja juga di sini. Namun, kebanyakan emmang diam. Di kamar, tiduran dan tertidur beneran. Kegiatan itu yang mungkin akan dilakukan Venya untuk tiga bulan ke depan. Dia memang berencana hari ini membantu bundanya membersihkan panti. Membereskan beberapa baramg - barang anak - anak panti lainnya. "Bun, dimulai dari mana nih?" Kata Venya kemudian memggulung lengan bajunya sendiri. Bunda Kori terkekeh melihat Venya, "jam berapa sekarang, Venya?" Tanya bunda Kori. Bukannya menjawab, bunda Kori malah memberikannya pertanyaan lagi. Dengan bergumam sendiri karena mengoneli bunda Kori yang membalikkan kalimat tanya milik Venya, matanya kini beralih kepada jam dinding besar yang di tempel sengaja di ruang tengah. Lalu Venya membuka mulutnya, "setengah dua?" Kata Venya. Kekehan Bunda Kori kini semakin renyah. "Iya. Sudah mau beres. Mandi dulu gih, Nak." Kata bunda Kori. Sialnya, Venya menjadi malu sudah misuh - misuh tadi. Kemudian ia mengangguk dan tertawa cangggung "bunda juga sih, kenapa ga bangunin?" Tanya Venya. "Ya abis, bunda tadi subuh liat kamu baru naik ke ranjang. Jadi bunda pikir, kamu masih perlu instirahat. Makannya bunda ga bangunin kamu." Kata bundanya menjawab pertanyaan dsei Venya, "kamu abis ngapain di kamar mandi lama banget terus keluar - keluar bawa laptop?" Tanya bunda Kori kali ini. Venya nyengir, "kok bunda bisa tau sih?" Tanya Venya Bundanya berdecak, "kamunaja yang ga sadar kalo bunda sedari subuh sudah ada di dapur nyiapin makan pagi buat anak - anak " Jawab bundanya. Anggukan Venya terlihat rada ragu, "gitu ya? Mungkin aku ngantuk kali ya Bun. Bisa ga sadar begitu." Kata Venya sebenernya untuk dirinya sendiri karena snagat pelan. Tapi bundanya mendengar. "Kamu belum jawab pertanyaan bunda, Nak." Kata bundanya. Venya kini menatap bundanya, "ah iya." Kata Venya, "aku tadi malem di tempat 'sumber inspirasi" bun, nulis buat platform." Jawab Venya singkat. "Sumber inspirasi?" Tanya bundanya tidak mengerti. Kemudian Venya menggebu - gebu, duduk di samping bunda Kori dan bercerita, "iya bun. Masa ya kalo di kamar mandinidenya lancarrrrrrr aja gitu. Terus ga ada yang ganggu. Lagian aku terbiasa duduk lama - lama kan bun." Ucap Venya antusias. Bundanya mengangguk, "awas itu godaan setan." Kata bundanya. Venya gelagapan, "apaan sih bun?" Tanya Venya pelan. "Kadang orang mengatakan bahwa kamar mandi adalah tempatnya ide. Sumber inspirasi- lah kamu tadi bilangnya." Kata bundanya yang terus masih di cerna oleh Venya, "tapi ada juga golongan orang yang mengatakan kalau kamar mandi adalah gudangnya setan." Ucap Bundanya lagi. Venya diam. Dia maish ingin terus mendengarkan perkataan bundanya yang bahkan sangat - sangat menarik untuk tema cerita selanjutmya yang mungkin akan dibuat oleh Venya nanti. "Kenapa Bun?" Tanya ClVenya ketika bundanya cukup lama diam. "Orang - orang yang mengatakan bahwa kamar mandi adalah tempatnya setan itu juga melanjutkan pembicaraannya, dimana manusia kalau betah di kamar mandi itu adalah godaan setan." Kata bunda, "setan menggoda manusia untuk tetap di sana. Melupakan pekerjaan lainnya, melupakan ibadahnya dan juga melupakan semua hal yang ada di luar kamar mandi. Kamu ngerasa begitu ga?" Tanya bundanya kepada Venya sekarang. Venya diam berfikir, dia tidaj melupakan apa - apa selama ada di kamar mandi. Dia hanya fokus dengan ceritanya sehingga kantuk yang tafi menyerangnya hilang. "Apa yang tadinya ngantuk menjadi ga ngantuk itu termasuk godaan setan?" Tanya Venya ragu kini menatap bundanya penuh harao untuk menjawab pertanyaannya. "Bisa jadi." Oh shiiiiiit. Ucap Venya di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN