Edna hanya diam mendengar sambutan “hangat” dari Elle. Ia memang tak berharap akan dipeluk layaknya dua orang saudara yang baru bertemu setelah berpisah bertahun-tahun, tidak, ia memang tak menginginkan itu. Pelayan datang, Edna tak memesan apapun karena ia takkan lama. Setelah si pelayan yang kebingungan itu pergi, barulah Edna membuka mulutnya. “Aku minta maaf” tak perlu bertele-tele, toh Elle juga tak menghendaki pertemuan mereka. Semakin cepat semakin baik. “Aku takkan terjebak dengan kata-kata itu Ed.” “Terserah kau, aku hanya ingin minta maaf atas nama ibuku.” “Jangan kau sebut perempuan itu didepanku!” Elle mengebrak meja. Edna tak peduli kalau reaksi Elle akan menarik perhatian pengunjung lain. Inilah hal yang sedari dulu ingin ia sampaikan, namun tak pernah ada kesempatan ka
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


